
Keseriusan dari Janaka tentang hubungan ini akan ia realisasikan sebentar lagi. Tak ingin menunggu lama hingga mangsa yang telah di depan matanya terbang jauh, Janaka berniat membawa sang wanita pilihannya menemui kedua orang tuanya di pulau Lazarus Singapura. Naka telah menyiapkan segala keperluan malam nanti mulai dari suite yang akan ia pakai hingga gown untuk sang permaisurinya nanti. Busana bernuansa senada telah Naka persiapkan dengan bantuan fashion stylist langganannya. Bahkan gown untuk sang wanita telah ia kirimkan ke tempat kerja Gladys.
"Mbak, ada kiriman!" jelas Kanaya pada sang atasan yang sedang memilah calon pasangan untuk kencan buta yang akan ia jadwalkan pada kliennya.
Gladys : ??
Wanita cantik itu tak menyadari apa yang Kanaya katakan. Pasalnya ia tak merasa memesan barang dari butik langganannya. Tentu saja, akhir bulan seperti ini ia harus mengerem napsu belanjanya yang menggebu.
Untung saja di dalam paper bag yang bertuliskan nama seorang perancang busana khusus wanita yang juga menjadi merek dagangnya. Sapto Djojokartiko nama merek yang tertera telah membuat Gladys menerka-nerka. Siapa yang tak mengenal designer asal kota Solo ini? Beberapa karyanya telah melanglang buana hingga ke penjuru dunia.
Gladys tak menemukan jejak apa pun di dalamnya, hanya ada sebuah dress berwarna putih susu dengan kombinasi emas serta bermotif tile yang menjadi salah satu koleksi summer 2021 milik designer lelaki itu.
Tak berapa lama ponsel milik Gladys berbunyi menandakan ada sebuah notifikasi masuk ke benda pribadi miliknya.
"Sudah datang? Pukul 17.00 WIB nanti akan ada orang yang akan membantumu bersiap, aku akan tiba menjemput kamu secepatnya Dys."
"Dia mengajakku dinner dengan siapa sih? Sewaktu gue nemenin bokap malam pelantikan nggak gini-gini amat!" keluh Gladys menatap nanar ponsel miliknya. Baginya, perlakuan Naka sungguh berlebihan padanya. Gladys tak ingin dianggap wanita yang akan memanfaatkan kelebihan serta kekayaan Janaka.
Bukanya tak ingin mendapatkan semua kemewahan yang Naka berikan padanya, tapi Gladys merasa tak dihargai bila Naka memaksakan kehendaknya. Sebagai putri anggota dewan dan juga memiliki usaha sendiri, Gladys juga bisa kalau hanya membeli sebuah gaun pesta.
"Iya!" singkat saja Gladys menjawab pesan dari, juga sebuah tanda seru menandakan penekanan dari jawabannya.
__ADS_1
"I Miss U alot."
'Rindu apanya? Semalam juga udah bertemu dan nyosor duluan!' rutuk Gladys dalam hatinya karena membaca pesan dari Naka.
"No more word to describe of you," balas Gladys untuk pesan Naka.
Tentu saja tak ada kata yang paling tepat untuk menjelaskan seperti apa Janaka Matila di hati Gladys. Pria abnormal yang bisa melakukan apa saja dengan sekejap saja. Pria tak waras yang telah membuang-buang rupiah demi hal nggak penting bagi Gladys.
"Mbak pasti pusing dengan bosnya Seno? Nggak bos nggak anak buah sama aja." Kanaya mencibir Janaka serta Seno yang ia nilai kekanak-kanakan.
"Aku nggak ngerti lagi dengan jalan pikiran lelaki! Sepertinya kamu begitu benci sama Seno, Nay?"
"Pria itu telah menuduhku menduakan cintanya, dasar sampah berjalan!" maki Kanaya tak ingin mengingat momen menyedihkan dalam hidupnya dahulu.
***
Benar saja, sesuai perkataan Janaka dalam pesan singkatnya tadi siang kini datang 3 orang ke apartemen sang dewi asmara. Satu di antaranya adalah Bibu seorang fashion stylist yang banyak wara-wiri di layar kaca. Bibu adalah pria kemayu yang membantu para artis dalam memadupadankan busana mereka. Dan untuk dua wanita yang termasuk dalam rombongan yakni seorang make-up artist dan juga asistennya.
"Wah, cucok begindang! pantas ajossi Bos Naka kepincut ... " puji pria kemayu itu sambil menelisik ke arah Gladys. Ia merasa sedikit risih pada Bibu. Ingin saja wanita Janaka itu menjitak kepala Janaka karena telah mengirimkan belut presto ke apartemennya ini. Kenapa belut presto? Karena mulutnya licin bagai belut dan presto karena tulangnya telah dilunakkan hingga tak memiliki jiwa maskulin sama sekali.
"Eiiitzzzz mau ngapain?" tegur Gladys pada Bibu ketika ia selesai dimake-up oleh dua wanita yang dikirimkan oleh Naka.
__ADS_1
"Apose neik? Eike indah dibahariah samosa Bos Naka untuk memoles indang!" jawab Bibu pada Gladys karena ia menolak untuk menyentuh calon nyonya.
"Maaf Mas, saya ganti sendiri aja deh!" tolak Gladys dengan halus agar Bibu tak membantunya memakaikan baju untuknya.
"Eko-eko Patrio mamah Dedeh!"
Sumpah rasanya kepala Gladys ingin pecah karena mendengar celotehan Bibu dengan gaya ngondeknya. Bahasa lekong pewong dari Bibu cukup membuat Gladys menelan hidup-hidup Janaka Matila.
Tenang saja meski Gladys melarang Bibu menyebut dirinya, tapi Bibu tak tinggal dian begitu saja. Dia telah melakukan tugasnya dengan baik bila tak ingin Naka mencekiknya. Bibu hanya mengarahkan apa yang pantas melekat di tubuh Gladys. Dan hasil karya Bibu dan juga makeup artist sungguh membuat Naka kesulitan menelan ludahnya begitu tiba untuk menjemput sang permaisuri.
"Coba saja kamu ulangi lagi dengan mengirimkan aku makhluk jadi-jadian seperti itu! aku bersumpah akan membuatmu tak biasa kencing dengan normal!" ancam Gladys dengan sadis ketika pria abnormalnya menjemput Gladys dan menggenggam tangannya.
"Yank, ini aset berharga! jangan main-main!" Janaka melotot karena ancaman dari sang wanitanya bisa memengaruhi masa depannya.
Seorang supir dari Mercedez Benz C-Class tengah sibuk membukakan pintu mobil untuk sang juragan serta calon Nyonyanya. Kegiatan ini baru kali ini ia temui. Tak pernah sekalipun ia bertugas menjemput wanita ataupun bos Janaka bersama wanita. Oleh karena itu Pak Parman cukup terharu karena pada akhirnya Naka telah menemukan cintanya.
"Kita akan menemui siapa? Kenapa ribet bangat persiapannya? Lagi pula ini belum masuk waktu makan malam?" tanya Gladys dengan banyak pertanyaan yang membuat Naka bingung untuk dijawab yang mana dulu.
__ADS_1
"Ketemu orang penting!" sahut Naka singkat padat namun tak dimengerti oleh Gladys.