Crazy In Love

Crazy In Love
Gelisah


__ADS_3

Kesulitan memejamkan mata membuat putri bungsu Andung Hartono masih belum jua membuka kedua manik indahnya. Gladys masih betah berlama-lama meringkuk di atas tempat tidur hingga menunggu alarm dari ponselnya berbunyi nyaring seperti yang selalu ia setting sebelumnya.


Kebiasaan bangun siang Gladys memang berbanding terbalik dengan kebiasaan Naka. Bila Gladys lebih memilih bermalas-malasan hingga menunda pekerjaan, lain halnya dengan Janaka Matila komisaris utama PT BMD itu sangat menghargai waktu. Baginya, sedetik berlalu tanpa ada apa pun sama seperti ia kehilangan uang ratusan juta rupiah setiap saat.


Seperti saat ini, Pak Naka begitu orang-orang mengapanya sedang implementasikan semua ilmu yang pernah ia serap dari berbagi sumber untuk menjalankan proyek jalan bebas hambatan. Janaka selaku pemimpin jalannya rapat sedang mendengarkan laporan dari berbagai kepala tiap tim kerja. Mulai dari bagian perencanaan, percepatan serta keuangan tak satupun lolos dari pertanggungjawaban setiap hasil kerja mereka.


Rapat tertutup ini telah berjalan kurang lebih setengah jam, saat ini ketua divisi percepatan sedang membacakan laporan kinerja selama sepekan ini. Karena proyek ini telah mulai di kerjakan, Naka ingin membangun proyek tersebut tidak melebihi waktu yang telah ditentukan.


Sedang serius mendengarkan laporan dari anak buahnya, tiba-tiba ponsel di saku sang pemimpin bergetar karena Jenaka telah menyeting dengan mode hening. Segera lelaki yang kini memimpin rapat tersebut memasangkan earphone wireless pada salah satu telinganya. Janaka sering melakukan hal seperti ini, karena ia memiliki tingkat ketajaman terhadap apapun. Meski ia masih fokus dalam hal lain, tak menutup kemungkinan bila Naka bisa melakukan hal lainnya seperti menerima telepon.


Nama sang wanita yang semalam baru saja ia apeli tertulis indah di layar ponselnya.


Calon Nyonya calling, nomor yang sejak pagi tadi belum ada tanda online itupun tiba-tiba menghubungi dirinya.


Bahkan selama diperjalanan menuju kantornya, Naka tak pernah melewatkan nomor yang malam tadi sempat ia telepon sebelum pergi tidur. Kini, tanpa diduga-duga Gladys menghubungi dirinya. Hatinya begitu berbunga membaca setiap huruf yang ia gunakan untuk memberi nama si Gladys pada kontaknya.


"Hallo Dys ... kamu sudah bangun?" sapa Janaka dengan suara lirih dan terkesan sangat manis bagi para anak buahnya. Pasalnya hal mustahil seperti ini belum pernah terjadi selama mereka bekerja dengan Janaka Matila. Bahkan Seno, orang terdekat dari Naka saja hingga menoleh saat sang atasan berbicara begitu lemah lembut.


Hening ... tak ada satupun yang berani membahas perihal keanehan dari bos Naka. Bahkan kepala divisi percepatan sempat menjeda laporan kinerja tim di bawah pengawasannya.


"Lanjutkan!" seru Naka masih sinis seperti biasanya pada anak buahnya. Hal itu membuat kepala tim tanpa menunggu detik selanjutnya mulai melanjutkan laporan kinerjanya.

__ADS_1


Suasana hening bukan hanya di dalam rapat saja, sambungan telepon yang terhubung di antara Naka dan juga Gladys tak memiliki pembicaraan yang berarti. Tak ada kata sedikitpun yang keluar dari Gladys, dan hal tersebut semakin membuat Naka berpikir yang tidak-tidak.


Air wajah Janaka yang awalnya tanpa ekspresi, kini berubah seperti ingin menelan hidup-hidup mangsa di depannya. Tanpa ragu lagi, bos BMD itupun mendegus kesal karena sang wanita pujaannya mendiamkan dirinya.


Kekesalannya lenyap begitu saja mana kala panggilan telepon itupun beralih menjadi video call. Betapa senangnya hati Naka, wanita yang ia pikirkan selama ini telah sadar bahwa sedang merindukannya. Tentu saja rindu padanya, pasalnya Gladys sudah tak tahan ingin segera bersua langsung dengan calon imamnya walau hanya lewat panggilan video.


Manik berbinar itupun segera musnah saat Janaka dengan kesadaran penuh melihat sesuatu yang tak pantas ia dapatkan saat ini. Mungkin bila keduanya telah resmi menikah akan lain lagi artinya.


"Gosh ... ****!" maki Naka di depan seluruh anak buahnya.


Pria yang sejak tadi melaporkan hasil kerjanya langsung diam begitu sebuah umpatan keluar dari mulut sang atasan. Pasalnya, pegawai itu tak ingin Naka semakin marah dan bisa membahayakan posisinya. Laporan yang kini sedang membahas pembangunan kompleks rest area di wilayah Banyumas harus di hentikan karena reaksi tak senang Janaka Matila.


Mata putra tertua Brahmana itupun ternodai oleh gaun tipis yang sering digunakan tidur oleh beberapa wanita. Naka menebak bahwa ponsel Gladys telah tertindih dan melakukan panggilan tanpa sengaja ke nomornya. Tapi mengapa posisi itu sungguh pas tepat di depan bagian depan tubuh kekasihnya? Bila tetap dibiarkan terhubung, keadaan mental Janaka terancam dalam bahaya. Namun, bila Naka mematikannya, selain mubasir juga beresiko bisa menelpon orang dan mengakibatkan hal yang bisa lebih berbahaya lagi untuk Gladys.


Alhasil, Janaka tetap membiarkan tontonan indah yang jarang bisa terjadi. Selain ingin melindungi sang wanita, Naka juga tak rela bila Gladys sembarangan menggunakan orang lain. Dan efek dari pilihannya itu adalah gejolak dalam diri lelaki dewasa itu ingin segera terpenuhi. Pria normal seperti Naka sangat sulit untuk tidak bereaksi apa pun dan bisa menjernihkan isi hati serta pikirannya.


"Pak rest area Banyumas terletak di kilometer 73, bukan 36!" pegawai Janaka mengingatkan sang bos yang hari ini dirasa cukup aneh. Pasalnya jarang sekali Pak Janaka tidak fokus seperti ini.


"Interupsi, rapat ditunda! sekretaris saya akan memberikan info selanjutnya."


Pakaian tipis dan menampilkan seluruh isinya itu telah memporak-porandakan rapat hari ini. Bukan hanya rapat saja, bahkan jiwa lelaki Janaka juga menjadi imbasnya. Kini pria dewasa itu harus menekan gejolak pada jiwa serta raganya dengan berjalan cepat meninggalkan ruang rapat menuju tempat kerjanya. Janaka menyimpan ponsel yang masih terhubung dengan panggilan video daei Gladys di dalam saku jasnya.

__ADS_1


Hingga memasuki ruang pribadinya, panggilan itu berakhir dengan skor 1-0 dimenangkan oleh Gladys karena mematikan panggilan video yang berdurasi sekitar 10 menit tersebut.


Naka memacu langkanya menuju toilet untuk menyelesaikan puncak kegelisahan yang ingin mendesak keluar seperti lava gunung berapi yang ingin segera dimuntahkan.


"Bos ada yang salah? Kebelet?" tegur Seno yang sedari tadi mengekori sang atasan.


"Diam!"


Setelah memaki Seno, Janaka tak kunjung keluar dari kamar mandi di dalam ruangannya. Seno cukup ketar-ketir karena takut sarapan yang ia siapkan untuk si bos tidak higienis dan menyebabkan Naka sakit perutnya.


"Wah bisa dalam bahaya gue!" batinnya ketakutan.


Sedangkan si pemilik wajah cantik yang menjadi alasan terbesar dihentikannya rapat baru saja membuka matanya karena bunyi dering alarm yang ia pasang. Untuk sesaat, Gladys masih belum menyadari panggilan durhaka yang ia sebabkan untuk Naka. Tanpa ada rasa bersalah sedikitpun Gladys beranjak dari tempat tidurnya dan mulai bersiap pulang ke rumahnya sendiri. Gladys belum mengecek semua sosial medianya, oleh karena itu si pelit itupun belum menyadari kesalahan fatal yang ia perbuat.


...****...


Jika kau adalah ombak, biarkan aku yang menjadi deburannya. Dan bila aku adalah angin, biarkan aku yang menjadi arahnya.


Begitulah hatiku dalam kisah ini. Aku mencintai mu sebagaimana ombak mencintai pantai.


__ADS_1


__ADS_2