
Melihat sang istri mengenakan jeans dan heels yang bisa menyakiti calon buah hati mereka, seketika Janaka Matila langsung menyeret sang istri agar segera mengubah penampilannya.
"Trust me, Yank! aku baik-baik saja ... "
"Siapa yang peduli, aku nggak mau anak kita kenapa-kenapa!"
Kedua calon orang tua itu saling bersitegang hanya karena sebuah masalah kecil. Bahkan Kanaya yang turut serta bersama Gladys hanya bisa melongo menyaksikan perselisihan antara kakak-kakaknya.
Dengan kesal, Naka mengangkat tubuh wanita keras kepala itu agar tidak semakin lama bertumpu di atas sepatu hak tinggi. Menurut Janaka, sepatu itu akan membuat Gladys capek dan bisa membahayakan sang buah hatinya.
"Lepaskan aku dasar pria jahat! kau pikir siapa bisa melakukan ini seenaknya?" Gladys terus saja meronta hingga memukul punggung serta badan sang suami kala Naka membawanya menaiki alat transportasi yang akan membawa mereka ke luar kota.
Suara teriakan dan makian Gladys semakin berlalu saat kedua orang aneh itu tak lagi terlihat dari luar pesawat. Dan kini hanya menyisakan beberapa anak buah serta Seno dan Kanaya.
Capt Roni berjalan tegas mendekati dua orang yang masih melongo dengan sikap bos mereka. Baik itu Kanaya maupun Seno saling kaget melihat kebrutalan dalam perkelahian antara Naka dan Gladys.
"Flight ke kota Jogja di-delay sekitar 30-60 menit, Pak Janaka meminta Anda berdua menunggu di lounge khusus miliknya!" ujar Capt Roni tak kurang dan tak lebih seperti titah Naka padanya tadi.
"Memangnya ada masalah? Kalau telat gimana?" Sama halnya dengan Gladys, Kanaya yang notabenenya wanita juga menggerutu kesal pada Naka karena menunda penerbangan dengan tiba-tiba.
"Husst diam! Pak Naka sedang mengeksekusi nyonya ... " Otak Seno langsung berpikir keras saat Capt Roni menyebutkan rentang penundaan itu 30-60 menit.
Seno sangat paham betul seperti apa bosnya, terlebih lagi hanya dia lah yang memegang kartu as Janaka kala sebuah rapat tiba-tiba dihentikan dengan alasan horny.
Kedua mata Kanaya melotot ke arah Seno, bisa-bisanya dia berpikir seperti itu pada kakaknya. Bagaimanapun juga sangat tidak etis melakukan hal semacam itu di saat penting seperti sekarang ini.
"Udah, ayo pergi! mau lumutan berdiri di sini?" ajak Seno pada wanita yang dulu pernah hadir di hidupnya.
Benar saja apa yang dikatakan oleh Seno, pria yang telah semalaman menahan hasrat di dalam seluruh tubuhnya itu tak bisa lagi diajak kompromi meski Gladys memintanya menghentikan kegiatannya.
"Yank, sadarlah ... kamu nggak bisa melakukan ini di sini! dan lagi ada anakmu jadi jangan macam-macam!" ancam Gladys menakuti sang suami.
Namun, pria yang tengah mencumbu bagian depan tubuh sang istri itu tak memedulikan setiap ucapan Gladys. Naka sudah tak tahan lagi untuk segera memberikan pelajaran berharga untuk istrinya karena bertidak seenaknya.
Blazer hitam yang sejak tadi digunakan oleh Gladys telah jatuh di bawah sofa panjang berbahan kulit yang menjadi gaya interior jet milik Naka. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah di depan mata, membuat Janaka terus dan terus saja menggempur pertahanan sang istri. Bibir pria itu telah berpengalaman dalam menelusuri setiap inchi tubuh molek sang istri.
__ADS_1
Terlebih lagi, Naka telah berkonsultasi pada salah satu dokter yang telah dibooking untuk kehamilan Gladys bila memadu kasih seperti ini tidak membahayakan janin. Namun dengan catatan tidak boleh keluar dari konsep kenyamanan sang ibu.
"Hai, jagoan kecil ... main sama papa ya?" ucap Naka menggoda sang istri dengan mengusap perut Gladys sebab kaos putih itu telah tersingkap ke atas, karena ulah nakal sang calon papa.
"Yank ... ezzzt berhenti!"
"No, cz i cant stop it, Darling!"
**
Seperti perkiraan Janaka sebelumnya, pergumulan itu berakhir setelah 40 menit. Kini hanya tersisa 10 menit bagi mereka untuk merapikan diri sebelum Kanaya serta Seno kembali.
Janaka benar-benar melakukan hal seperti itu di tempat seperti ini. Meksi Gladys tahu pesawat ini milik Naka. Namun, rasanya masih aneh bila melakukannya di dalam kabin ini. Apalagi kini Gladys harus membersihkan diri dan juga retouch make-upnya karena Naka telah membuat lipstik Gladys belepotan.
"Jangan kamu lakukan hal seperti ini di sini, Yank! aku malu ... " Gladys keluar dari kamar mandi dan duduk bersandar pada kursi empuk yang bisa membuatnya nyaman.
"Sensasinya enak, Hon! besok kita ulangi lagi ya?"
Karena merona, Gladys lalu melempar sebuah majalah bisnis ke tempat duduk sang suami. Dan tepat saat itu juga rombongan Kanaya tiba di dalam jet pribadi mereka.
Kanaya saja bisa menangkap rona merah di wajah Gladys karena menahan malu. Sepupu Gladys itu bahkan tak berani mengolok-olok kakaknya karena Naka terus saja menatapnya dengan sinis. Mungkin Naka tahu isi hati Kanaya yang sudah tak tahan ingin menggoda kakaknya.
"Diam Kanaya ... kau sudah lupa ingin aku bayarin ketemu Jungkook?" Gladys tak mau kalah berbisik dengan Kanaya. Karena Naka terus saja menatap ke arahnya, meski pria itu sedang berdiskusi dengan Seno yang duduk tak jauh darinya.
Capt Roni mengatakan mereka akan segera lepas landas meninggalkan ibukota. Dan Capt Roni juga secara khusus mengucapkan selamat untuk nyonya Brahmana atas kehamilannya dan meminta Gladys untuk memposisikan diri senyaman mungkin karena ia akan mengajak mereka terbang dengan hati-hati seperti perintah Naka.
**
Ketegangan kini berangsur-angsur hilang dengan sendirinya. Apalagi kala seorang pramugari melayani Gladys dan Kanaya dengan menawari mereka minuman yang mereka kehendaki. Kanaya serta Gladys kompak meminta wine, hingga membuat Naka serta Seno menoleh meski sedang sibuk berdiskusi.
"Never ... !" Janaka menolak tegas permintaan Gladys yang ia rasa bisa membahayakan calon buah hati mereka.
"Ya udah, air putih aja!"
"Dear ... kenapa kamu suka sekali mencari gara-gara?" Naka mengelus jidatnya meski tak sakit. Lalu mulai mendekat ke arah sang istri yang selalu membuatnya sakit kepala.
__ADS_1
"Aku pengen smoothies, Yank!"
"Kau dengar? Nyonya ingin smoothies, aku butuh kafein Bella. Buatkan kopi hitam agar kepalaku tak pening!"
"Nggak boleh, pagi tadi kamu sudah minum kopi di rumah ibu. Jangan kebanyakan kafein, Yank. Bella segelas air putih untuk Bapak dan smoothies untuk saya, ya!"
"Honey ..."
"Anakmu yang minta ... "
...****...
Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuk sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku
Ku ingin dia yang sempurna
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya
Ku hanya manusia biasa
Tuhan, bantu ku 'tuk berubah
'Tuk memiliki dia, 'tuk bahagiakannya
'Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia
__ADS_1