
Ketidaktahuan Gladys membuat wanita itu tak merasakan hal yang aneh pada dirinya. Wanita yang baru saja tiba di terminal kedatangan itupun celingukan ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang telah ia tunggu, yakni Kanaya. Gladys telah menugaskan anak buahnya untuk menjemput kedatangannya dari Surabaya.
Bukan hanya Kanaya yang saat ini ia lihat di ruang tunggu kedatangan, melainkan sosok pria muda yang selalu berada dekat dengan orang yang ia kenal.
"Apa-apaan sih elo ngikutin gue mulu? Inget ya lo sama gue udah end!" maki seorang wanita muda yang selalu membantu Gladys dalam mengurusi pekerjaannya.
"Nggak usah pede deh kamu, kamu kali yang gagal move on dari aku?" pria muda itu tak mau kalah dengan wanita sebelahnya.
Pertengkaran keduanya mengganggu ketenangan hati Gladys yang tak mereka ketahui kedatangan bos dari Kanaya tersebut. Salah satu di antara kedua orang yang berkelahi merupakan anak buah Janaka, dan kebetulan juga salah satu wanita yang terlibat percekcokan tersebut adalah Kanaya. Kanaya merupak salah satu orang kepercayaan Gladys.
"Kalian berdua saling kenal?" tegur Gladys pada kedua orang yang masih saling beradu jotos dan saling memaki hingga banyak yang memerah keduanya.
"Kagak!" sahut Kanaya nggak kalah jutek dari atasannya.
"Apalagi gue?" balas Seno pun dengan nada suara yang sama, saling berseteru.
"Oh, kalau begitu Nay ayo kita pergi!" ajak Gladys pada wanita muda yang sejak tadi bersitegang dengan Seno tadi.
Bila Gladys beranjak meninggalkan terminal kedatangan tanpa dirinya, bisa menjadi hal yang gawat untuk Seno. Pasti bosnya akan langsung membuangnya ke Kalimantan. Dan hal itu sangat Seno takutkan, karena ancaman dari Janaka pasti berimbas pada hubungan asmaranya kelak.
"Gawat, stop stop! jangan ikut wanita aneh ini Bu, ikut saya saja pasti aman!" Seno merampas travel bag yang dibawa oleh Gladys agar wanita bosnya itu bersedia mengikutinya.
"Gue aneh? Elu lebih aneh lagi! ngaca dikit napa?"
"Aduh sebenarnya kalian berdua itu kenapa sih? Gue bingung deh ngadepin kalian! Pak Seno, ada hal yang harus saya urus dengan Kanaya jadi saya buru-buru."
__ADS_1
"Tapi saya diperintahkan oleh Pak Janaka untuk menjemput Anda!" sahut Seno dengan mimik muka memelas.
"Janaka? Pemilik mobil yang sopirnya merusak spion Mbak Gladys?" Kanaya tak percaya dengan apa yang telah disebutkan oleh Mantan pacarnya dulu, tadi Seno sempat menyebut nama Janaka. Sedangkan atasannya sedang berkonflik dengan pemilik nama Janaka.
"Betul Nay, nah ini pria yang menyerempet mobil aku! dan dia pula yang salah mentransfer pembayaran ganti rugi!" terang Gladys pada Kanaya yang tampak shock dengan apa yang telah ia dengar.
"Pantas saja dia pura-pura baik sama Anda, sampah idup ini emang nyusahin!" Kanaya menggandeng tangan Gladys agar tak terpengaruh oleh Seno. Pasalnya, dendam kesumatnya masih tumbuh subur karena ia pernah disakiti oleh pria yang telah menyerempet mobil bosnya.
"Bu Gladys tolong mengertilah nasibku! Anda tahu sendiri seperti apa menakutkannya bos saya? Saya masih menyayangi nyawa saya!"
"Huh kalian berdua itu ribet banget, selesaikan urusan kalian berdua dulu! aku akan pulang sendiri biar adil."
Alhasil karena kedua mantan sepasang kekasih itu saling merebutkan dirinya, membuat Gladys enggan memilih salah satu di antaranya. "Biar adil!" ucap Gladys sebelum wanita berambut hitam itu masuk ke dalam taksi yang membawanya pulang.
**
Putri bungsu Andung Hartono itu tak menyadari bahwa ada nyawa yang sangat mengkhawatirkan dirinya karena sejak kesal telepon darinya tak dihiraukan oleh Gladys. Kebahagiaan yang sebentar lagi akan pria itu dapatkan harus dihempas begitu saja setelah diterbangkan terlebih dahulu pagi tadi.
"Beraninya dia tak mengangkat panggilan dariku? Dia pikir aku ini pengangguran hingga menunggu telepon darinya!" Naka tampak gelisah hingga mondar-mandir di dalam ruangannya.
Apalagi ia mendengar dari Seno sendiri bahwa Gladys tak bersedia diantar oleh anak buahnya ataupun Seno sendiri. "Seharusnya ia sudah di rumah bukan Sen?" tanya Naka pada anak buahnya yang saat ini tengah mengajaknya untuk menemui salah satu klien di luar kantor.
"Saya tak sempat mengikuti beliau, karena banyak urusan kantor Pak!"
"Liat saja, nanti malam tamatlah riwayatnya!" seloroh Janaka Matila bersamaan dengan menyambar sebuah jas yang menggantung di sebelah tempat ia berdiri.
__ADS_1
"Calm down bos! udah nggak tahan banget sih!" goda Seno melihat sang atasan tampak blingsatan. Naka terlihat tak tenang karena hingga kini tak ada tanda kehidupan dari sang wanita.
**
Tak ... tak ... tak ... bunyi yang ditimbulkan oleh tangan tak sabaran dalam menekan bel pintu apartemen Gladys. Berkali-kali ia tekan tombol panggil si penghuni rumah agar segera keluar membukakan pintu untuknya. Mungkin tombol buatan pabrikan Jerman itu sebentar lagi akan rusak karena Naka menekannya dengan penuh emosi dan sekuat tenaga.
"Bentar, berisik amat sih? Lena cepet amat sampai," keluh Gladys lalu mengecilkan volume kompornya.
Gladys yang tengah merebus pasta untuk menu makan malamnya segera beranjak ke depan dan membukakan pintu apartemennya untuk Malena, karena ia dan Malena telah berjanji akan melakukan jogging malam seperti yang sering mereka lakukan.
"Ke mana aja sih?" tanya Naka begitu Gladys membuka pintu. Sebelum wanita yang tampak terkejut itu mengacuhkan dirinya lagi.
"Loh, apa-apaan ini? Ngapain hingga ke sini segala? Bukankah aku sudah mengembalikan sisa kelebihan ganti rugi pada Seno tapi aku potong biaya tiket ke sini."
"Kukira kamu pingsan, sejak tadi susah sekali menghubungkan kamu Dys!"
"Urusan kita telah selesai! aku sudah mengembalikan uang kamu."
"Apa kamu yakin? Menyia-nyiakan pria seperti aku?"
Gladys ingat bahwa ia telah meninggalkan kompornya yang sedang merebus pasta. Oleh karena itu ia buru-buru masuk ke dalam ruangan apartemen bertipe 1 BR miliknya. Hal itu membuat Naka berpikir bahwa ia mencoba menghindar dari Janaka. Mengacuhkannya lagi, dan itu membuat Naka cukup kecewa.
Naluri rasa ingin tahunya begitu besar, hingga membuat Naka memberanikan diri masuk ke dalam kediaman pribadi milik Gladys. Apartemen minimalis bertipe satu bedroom itu menjadi tempat tinggal Gladys selama ini. Untuk putri orang kaya dan memiliki usaha lain, kehidupan Gladys cukup sederhana menurut Janaka.
...****...
__ADS_1