Crazy In Love

Crazy In Love
Akhir dari Rasa


__ADS_3

Suasana meriahnya pesta peresmian salah satu aset milik PT BMD harus Gladys tinggalkan segera. Ia sudah muak untuk terus-menerus berkamuflase seolah menjadi salah satu keluarga Brahmana. Hingga detik ini Gladys masih belum percaya bahwa semua yang ia dapatkan dari Janaka hanya semu belaka.


Saat ini yang paling ia inginkan hanyalah menjauh dari hiruk-pikuk gala yang meriah itu. Sedangkan pria yang sedang bersandiwara selama ini sedang menjalani jumpa pers untuk wawancara pengenalan bisnisnya. Semua itu hanya bualan belaka. Setiap kata-kata manis Janaka hanya lah sebuah bisa yang yang mampu membunuh setiap mangsanya.


Kepercayaan Gladys untuk Janaka harus runtuh seketika kala di tengah siang bolong ia mendapatkan sebuah paket yang berisi barang bukti yang menguatkan kelicikan sang CEO. Bukan hanya Gladys saja yang murka, Kanaya selaku karyawan dan juga sepupunya sungguh memaki dan mengumpat pria berumur 35 tahun itu. Masih terngiang di benak Gladys ucapan Kanaya, "Dari awal aku sudah nggak percaya sama mereka Mbak, Mbak Gladys tahu sendiri seperti apa Seno mencampakkan aku?"


"Aku memang bodoh Naya," ucap Gladys lirih saat itu dan tak mampu lagi menumpahkan semua air matanya.


Bahakan untuk menutupi mata sembabnya, Gladys harus ekstra menggunakan make up untuk menghilangkannya. Malam ini, perasaan wanita itu campur aduk. Di antara lain sedih, kesal, benci dan juga kecewa. Hingga Gladys mengembalikan sebuah kalung pemberian Erika, ibu dari Naka.


Sebelum wanita paruh baya itu pergi dari mengantar dirinya pagi tadi, Erika sempat memberi Gladys sebuah kalung turun temurun dari keluarga sang konglomerat. Selain kalung dengan leontin bunga tulip itu, ada sebuah gelang yang senada dan kini di kenakan oleh Aruni.


"Maaf ibu, ini terlalu berharga untuk Adys, Adys harap Ibu simpan kembali benda ini," ucap Gladys sebelum ia meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan kurang enak badan.


Hal ini sungguh di luar dugaan Erika, pasalnya pagi tadi meski dengan bujuk rayuan Gladys mampu menerima pemberian darinya. Tapi, kini benda itu harus kembali lagi ke tangan ibu dari dua anak tersebut.


"Adys nggak ada apa-apa 'kan? Sudah bilang Naka kalau mau pulang?"


"Sudah Ibu, Pak Seno yang akan mengantar Adys."


Erika tak mampu menahan kepergian Gladysnya Janaka. Ia hanya mampu menatap nanar putri bungsu Andung Hartono tersebut. Ia merasa telah terjadi sesuatu dalam hubungan sang putra dengan Gladys Hartono.


Sementara Janaka sendiri, pengusaha muda itu sedang menikmati puncak karirnya. Meski dengan berat hati membiarkan kepergian sang nyonya karena alasan kurang enak badan, ia harus menelan pil pahit dari kemesraan yang akan ia pamerkan dalam jumpa pers malam ini. Meski begitu, Naka juga tak tega bila harus mengesampingkan kesehatan Gladys. Janaka menyangka bila Gladys kelelahan setelah ia bombardir malam sebelumnya. Oleh karena itu, ia menugaskan Seno untuk mengantar Gladys pulang ke apartemennya seperti permintaan sang nyonya BMD.


"Setelah sampai hubungi aku ya Hon," pinta Naka sebelum Seno berangkat mengantar wanita pujaan komisaris BMD tersebut.


Gladys tampak pucat, ia enggan membuka mulutnya. Hingga demi menjawab permintaan Naka, dirinya hanya menganggukkan kelapa. Hati Gladys masih tak tega bila harus meluapkan emosinya di tempat umum seperti ini. Apalagi, malam ini merupakan puncak acara dari perusahaan Naka, kebaikan hatinya sungguh tak tega menghancurkan karir Naka malam ini juga.


Melihat Gladys tak bereaksi membalas ucapannya, Janaka Matila selaku pimpinan BMD mendaratkan sebuah kecupan manis pada dahi yang kekasih seraya mengucapkan kata romantis abis yang hanya mampu didengar oleh keduanya.


"Terima kasih telah hadir di hidupku Hon, aku mencintaimu!"


Entah mengapa mendengar kalimat indah itu semakin membuat hati Gladys seperti tercabik oleh ribuan sembilu. Kata romantis yang harusnya terdengar manis itu seharusnya membuatnya mabuk kepayang, tapi nyatanya tidak. Wanita itu kian merasa sesak oleh kebohongan Naka.


Gladys mencoba sekuat tenaga untuk tak menumpahkan air matanya. Mengingat potongan video yang telah ia lihat serta beberapa bukti yang menyebutkan bahwa Nala sengaja mendekati dirinya kembali membuat hatinya teriris dan terluka.


'Kusangka cinta, ternyata dusta! kusangka rindu ternyata semu! selamat tinggal pria yang telah menggores luka.' batin Gladys saat wanita bergaun merah itu masuk ke dalam Mercedes Benz C-Class yang dikemudikan langsung oleh Seno.

__ADS_1


Tak lupa sebelum Seno lebih jauh membawanya pergi, Gladys menatap dari jauh pria yang masih berdiri menunggunya hingga tak terlihat. Pria yang telah mempermainkan perasaanya. Pengusaha yang mampu melakukan segala macam cara demi tercipta semua rencananya.



"Sampai kapankah aku mampu bertahan


Tertatih aku jalani semua kisah hidupku ini


Ooh...


Tak akan terganti setiap kenangan yang telah terukir


Namun terendap indah dan melekat dihati


Akankah berakhir semua rasa yang telah tercipta


Di dalam benakku dan di dalam asaku


Terlarut aku dalam kesendirian


Saat aku menyadari


Ooh...


Tak akan terganti setiap kenangan yang telah terukir


Namun terendap indah dan melekat dihati


Akankah berakhir semua kisah yang telah tercipta


Di dalam benakku dan di dalam asaku"



Setelah melepas kepergian sang nyonya dengan berat hati, Naka kembali masuk ke posisi awalnya guna menyambut tamu yang masih banyak yang ingin memberinya selamat.


Malam ini ia tak menyadari bahwa cinta dan karir berbanding terbalik. Bila karirnya sedang berada di awang-awang, namun berbeda dengan kisah cintanya yang nyaris berada di ujung tanduk.

__ADS_1


"Apa Adys udah pergi?" tanya sang ibu yang berjalan mendekati Naka disusul oleh Aruni dibelakangnya.


"Iya, baru saja keluar diantar Seno!"


"Gawat Naka! ibu rasa ada hal yang tak beres ... " jelas Erika tanpa melanjutkan ucapannya agar ia bisa memilah kata yang tepat untuk sang putra yang memiliki temperamen buruk ini.


"Maksud Ibu apa? Ada apa ini Rin?" selidik Naka sambil meminta penjelasan pada kedua wanita yang berada di depannya kini.


"Sebelum Mbak Gladys pergi, ibu bilang Mbak Gladys mengembalikan kalung pemberian ibu pagi tadi," jelas Aruni dengan kata yang sejelas-jelasnya agar Naka mampu mencerna keadaan ini.


"Maksud kalian?" Naka masih belum bisa percaya dengan penjelasan Aruni sebelum sang ibu yang menjelaskan padanya.


"Kamu tahu bukan perhiasan ini peninggalan keluarga kita? Gelang untuk Aruni, dan pagi tadi ibu meminta Gladys memakai kalung itu. Tapi tadi anak itu mengembalikan pada ibu."


Janaka yang memang sedikit merasa curiga pada gerak-gerik Gladys sejak ia menjemputnya ke pesta malam ini baru bisa mengambil kesimpulan bahwa ada yang tidak beres dengan nyonya BMD tersebut. Untuk meminimalisir masalah, Naka segera menghubungi orang kepercayaannya yang kini sedang mengantar sang nyonya pulang ke rumahnya.


...****...


Terlarut aku dalam kesendirian


Saat aku menyadari tiada lagi dirimu kini


Ooh ...


Sampai kapankah aku mampu bertahan


Tertatih aku jalani semua kisah hidupku ini


Ooh ...


Tak akan terganti setiap kenangan yang telah terukir


Namun terendap indah dan melekat dihati


Akankah berakhir semua rasa yang telah tercipta


Di dalam benakku dan di dalam asaku

__ADS_1


__ADS_2