Crazy In Love

Crazy In Love
Mine


__ADS_3

Perasaan Janaka Matila semakin kalud semenjak meninggalkan kediaman ibu kandungnya. Tak ingin lagi kehilangan orang yang ia cintai membuat Naka enggan melepaskan tangan Gladys meski ia saat ini sedang mengemudikan Jeep Renegade miliknya. Salah satu mobil berjenis SUV itu membawa sepasang suami istri itu pulang.


Rasa bersalah Janaka kian membuncah ketika ia mendengar langsung dari mulut Hana Darmanto bahwa wanita itu telah bersusah payah membawanya, namun karena kerasnya kepala sang ayah Sigit Brahmana membuat Naka harus terpisah dengan wanita yang telah melahirkan dirinya.


Hana Darmanto telah menelan kekecewaan lantaran kehamilan keduanya diragukan oleh sang suami. Dengan kata lain, Sigit Brahmana tidak mengakui darah daging yang dikandung oleh ibu kandung Janaka. Bukan tanpa alasan, Sigit tak bisa mempercayai sang istri kala itu disebabkan selain ia jarang pulang ke rumah kerena kesibukannya, Hana juga dikenal sangat akrab pada rekan kerjanya selama bernaung di salah satu perusahaan design yang cukup terkenal.


"Aku benci pada diriku sendiri!" tutur pria yang mengendari seri Trailhawk dari Renegade miliknya.


"It's okay, luapkan emosimu yank! aku tidak akan melarangnya!" Gladys tak kuasa menahan kesedihan yang ia rasakan melihat keadaan sang suami. Berat? Tentu saja ini sangat berat bagi Naka dan juga orang-orang yang terikat pada masa lalu keluarganya.


'Bisakah dia memaafkan aku?' Janaka Matila hanya bergumam dalam hatinya, ia enggan untuk mengatakan sepatah katapun saat ini. Bukan karena ingin menghindar Gladys, tapi rasa penyesalan membuat pria yang menyukai warna carbon black sesuai warna mobilnya itu lebih memilih diam.


"Setiap orang memiliki masa lalu yang sulit Yank, termasuk aku! keluarga kami tak benar-benar menyenangkan seperti yang telah ditulis oleh wartawan ketika kampanye." Gladys lalu memberikan semangat bahwa bukan hanya Naka saja yang mengalami kesulitan. Untuk sesaat, Gladys ingin memberi sang suami dalam keheningan. Oleh karena itu, wanita yang baru saja menjadi istri itu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil buatan Ohio Amerika.


"Jangan pernah tinggalkan aku Hon, aku sudah cukup kehilanganmu orang yang kucintai. Dan aku tak ingin lagi kehilangan untuk kedua kalinya."


'Nah mulai lagi, kumat!'


Bila bukan karena ingin membantu menyelesaikan permasalahan yang mengganjal di antara ibu dan anak tersebut, Gladys juga malas ikut campur dengan urusan Naka. Apalagi bila pria itu sudah melakukan jurus seperti ini, pasti ada maunya.


Janaka mengantar Gladys ke rumah yang pernah mereka tinggali selama semalam. Rumah itu memang telah didesign khusus oleh Naka sebagi rumah masa depannya. Bukan hanya letaknya yang strategis karena dekat dengan gedung BMD, namun rumah itu memiliki arti yang khusus untuk Janaka. Rumah bergaya scandinavian tersebut adalah hasil jerih payah pertama Janaka Matila.


Karena letaknya yang dekat dengan kantor Naka, oleh karena itu komisaris utama BMD lebih aman meninggalkan sang istri bila ia harus keluar bekerja ke kantor seperti nanti setelah mengantar Gladys pulang. Setelah makan siang ini, Naka masih memiliki jadwal meeting bersama karyawannya untuk membahas kelangsungan proyek Teluk Ijo serta perencanaan Pulau Bawean.


"Kamu yakin nggak mampir Yank?" tanya Gladysnya Janaka sebelum wanita cantik itu keluar dari mobil sang suami.


"Baiklah kalau kamu memaksa Hon, lagi pula masih ada sedikit waktu sebelum jam makan siang habis!" balas Naka setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Maksa? Hah?" Padahal nggak ada sama sekali Gladys memaksa sang suami untuk tetap tinggal. Hanya bertanya mau mampir atau tidak, tapi Janaka berpikiran lain. Pertanyaannya dari Gladysnya tadi dianggapnya sebagi undangan bagi libidonya.

__ADS_1


Dengan semangat yang luar biasa membara, wajah putra tertua klan Brahmana itu berubah berseri-seri daripada tadi hanya sendu saja. Tentu saja, Gladys telah paham betul tabiat sang suami. Perubahan sikap Naka yang mudah ditebak karena bersikap lebih aktif seperti menarik tangan Gladys untuk segera masuk ke dalam rumah.


"Dasar mesum!" maki Gladys tepat di depan Naka karena pria itu terus saja menariknya ke dalam kamar yang pernah ia tidur sebelumnya.


"Honey, Gladys ... come to me!"


Pintu segera ditutup rapat dan tak lupa dikunci dari dalam. Sedangkan Naka terus saja menggempur pertahanan sang istri. Bagaimana Gladys bisa berontak ataupun melarikan diri bila Naka telah memblokir pelarian Gladys. Sang suami telah menghalangi Gladys keluar dengan cara mengukungnya ke dinding kamar.


"Yank, kamu bisa telat loh!"


"Bentar doang Hon, lagi nanggung nih! kamu sendiri loh yang minta."


Gladys hanya bisa melongo tak percaya bila Naka sungguh berpikir ialah yang meminta hal seperti ini pada sang suami.


Napas Gladys semakin memburu, ketika Naka sudah memulai melancarkan aksi anarkis-nya dengan mencium bibir sang istri dan juga merongrong semua permukaannya. Tak perlu mendapatkan persetujuan dari Gladys lagi, kedua tangan lelaki itu telah lihai menjamah setiap lekuk tubuh baik depan maupun belakang sang istri.


Meski kesadaran Gladys tengah berkurang karena gempuran dari Naka, tapi istri Naka itu masih bisa melotot karena sang suami merusak dress yang belum lama ia beli. Model itu merupakan edisi terbatas dari brand yang ia ikuti. Sia-sia ia mengeluarkan uang bila Naka merusaknya.


Benar saja, sekali tarik baju Gladys telah jatuh terjuntai ke lantai dengan satu sentakan dari ulah Naka. Senyum kemenangan karena berhasil melakukan atraksi hidangan pembukaan membuat Naka puas.


Kecupan dan juga sapuan kenikmatan itu kini bukan hanya terbatas di bibir keduanya, tapi kini telah berpindah ke leher serta daerah sekitar pundak Gladys. 'Ingin sekali aku menampar pria ini!' batin Gladys karena merasa Naka sudah mulai kesetanan.


Namun, tamparan itu hanya ekspektasi Gladys saja. Wanita itu nyatanya menikmatinya. Menikmati hal yang tersaji untuk keduanya. Hingga tanpa sadar Gladys menarik rambut sang suami karena pria itu terus saja mengecup dan juga bermain-main di area terlarang 36D.


Meski ada perlawanan yang tak berarti, tak menyurutkan semangat Naka untuk terus menerus memperjuangkan keinginannya. Karena gemas dan juga merasa geli, Gladys menangkup wajah sang suami dan mengecup bibir serakah itu. Perilaku Gladys ini membuat Naka terperanjat tak percaya bila sang istri akan lebih aktif seperti ini. Rencanakan berhasil, telah membuat Gladys masuk dalam buaian api asmara.


...****...


And I want to make you mine

__ADS_1


Oh, baby, I'll take you to the sky


Forever you and I (You and I) (You and I)


And we'll be together till we die


Our love will last forever and forever, you'll be mine


You'll be mine


Oh-ooh, oh-ooh


Girl, your smile and your charm


Lingers always on my mind I'll say


You're the only one that I've waited for


And I want you to be mine


Oh, baby, I'll take you to the sky


Forever you and I (You and I) (You and I)


And we'll be together till we die


Our love will last forever and forever, you'll be mine


You'll be mine

__ADS_1


__ADS_2