
Dunia mulai penuh sesak
Penuh dengan berbagai angkara
***** menggelayuti setiap insan
Demi kuasa dan jabatan
Entah darimana datang ***** itu
Hingga berbagai cara dihalalkan
Tak peduli mengorbankan sesama
Demi kuasa dan jabatan yang fana
Lengang......
Itu hanya ada di sudut-sudut desa
Desa yang tak terjamah
Oleh tangan-tangan politikus hina
Yang suka memperdaya
Lengang.....
Mestinya bisa lebih mendekatkan
Untuk menyatukan alam dan pikiran
__ADS_1
Agar tak terlalu bernafsu
Mengejar jabatan dan kedudukan
[Armuz]
...****...
Menjalani hidup sebagai penentu nasib dari puluhan ribu pegawai di bawah kepemimpinannya membuat Janaka Matila tumbuh dewasa lebih cepat dari usianya. Ia ingat setelah selesai mengenyam pendidikan bisnis, sang ayah telah memercayainya bertanggung jawab dalam sebuah proyek besar. Mau tak mau Naka panggilan akrabnya harus memutar otaknya dengan semaksimal mungkin agar proyek pembangunan salah satu pusat perbelanjaan bisa berjalan lancar. Ia ingat betul saat itu usianya baru 23 tahun dan Sigit Brahmana telah mengujinya menjadi penanggung jawab sebuah mall yang masih berada di kawasan Grand Cibubur salah satu kompleks hunian milik Brahmana Mega Development.
Kala itu Sigit Brahmana masih menjabat komisaris utama BMD juga merangkap penasihat Brahmana Business Group. Dengan keyakinan penuh, Sigit Brahmana memberikan proyek baru untuk sang pewaris kerajaan bisnisnya.
Dan kini, Janaka Matila telah tumbuh sesuai harapan sang ayahanda. Naka telah menjelma menjadi sosok mestro properti di usia yang masih belia, bahkan semua rencana serta pemikirannya tak ada satupun yang meleset. Jangan ditanya berapa besar keuntungan yang didapat oleh BMD, karena keluarga Brahmana sangat tertutup dari media manapun. Mereka tak ingin seluruh kehidupan serta aset mereka menjadi santapan para awak pencari berita.
Seperti keberhasilannya dalam mencapai kesepakatan dengan para tokoh di Green Bay, kini banyak sponsor saling merapat dan menjanjikan banyak keuntungan bagi BMD. Sebagai pebisnis sejati, Janaka tak 'kan asal menerima para perusahaan sponsor. BMD dibawah kepemimpinannya akan menyeleksi bisnis apa yang bisa selaras dengan resort miliknya nanti. Yang jelas tak boleh satu rupiah pun keluar dari BMD dengan sia-sia.
Seperti saat ini, pria tampan dari Brahmana family tengah duduk di kuris first class dari sebuah maskapai premium yang akan membawanya kembali ke Jakarta, setelah semalam ia menginap di salah satu hotel mewah di bawah naungan saham BBG. Naka tak ingin kedua orang tua Gladys menyebutnya calon menantu kurang ajar bila ia menerima permintaan Andung Hartono yang semalam memintanya untuk menginap di rumahnya.
Pagi buta sekali, Janaka telah berada di dalam penerbangan menuju kota metropolitan tersibuk di Indonesia. Karena hari ini lelaki gagah tersebut akan membahas perkembangan proyek jalan toll lintas Selatan Jawa meliputi Surakarta hingga Banyumas. Salah satu mega proyek yang bernilai triliunan rupiah ini, tak boleh ada kesalahan sedikitpun. Oleh karena itu, dengan tangannya sendiri Naka akan memimpin rapat perkembangan proyek jalan bebas hambatan itu.
"Saya telah standby di terminal 3 Pak," tulis Seno yang telah dibaca oleh Naka sebelum pesawat yang dinaiki oleh putra tertua Brahmana itu lepas landas.
Sambil mengisi waktu luangnya di dalam kabin first class, Naka memilih membaca artikel bisnis dan juga mengamati indeks saham BBG di kancah forex. Jiwa bisnisnya telah diturunkan sejak dulu dari sang ayah, namun jiwa matrealistis-nya entah dari mana tak ada yang tahu.
"Masih terlalu pagi, pasti dia belum bangun!" gumam Naka setelah melirik jam tangan mewah pabrikan Swiss yakni Rolex SA. Jam tangan yang bertahtakan berlian serta terbuat dari material emas dan juga kristal itupun menambah kesan glamor untuk Naka.
Untung saja sebelum ia take off, Naka sempat mengirimkan pesan untuk si Gladys bahwa ia akan kembali lebih dahulu. Karena tahu bahwa sang kekasih hati masih terlelap dalam buaian mimpi, Naka tak ingin membangunkan putri bungsu keluarga Hartono itu.
Perjalanan dengan moda transportasi pesawat itupun telah berakhir. Janaka melihat salah satu pegawai kepercayaannya telah berdiri menunggu kedatangannya sedari ia masih di Surabaya. Pandangan mata keduanya kini bermuara, keduanya lalu saling mengulas senyum tanda berhasil dalam usaha masing-masing. Seno berhasil menjalankan tugasnya menghandle semua pekerjaan Janaka selama di Surabaya, sedangkan sang atasan berhasil meyakinkan LSM yang awalnya menolak perencanaan pembangunan resort.
"Selamat Pak!" puji Seno pada Janaka Matila.
__ADS_1
"Terima kasih Sen, semua berjalan sesuai rencana."
"Berarti kita tak perlu menggunakan kartu as Anda dari calon mertua?" goda Seno dengan bangga karena sang atasan sukses menjalankan semua rencananya.
"Kita masih perlu menggunakan kekuasaan papa Gladys untuk beberapa proyek kita selanjutnya."
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menjadi saksi pembicaraan intern ini. Pembicaraan yang tak perlu untuk diekspose secara publik. Dan sialnya orang itu mengabadikan setiap sikap serta pembicaraan setiap kata yang Janaka dan pegawainya ucapkan.
"Betapa Tuhan menganugerahi aku dengan semua kepiawaian ini Sen, semua rencanaku berjalan dengan lancar dan dengan bantuan Andung Hartono yang akan mempermudah langkahku selanjutnya."
"Anda terbaik Bos!"
**
Keduanya lalu bertolak menuju kantor pusat BMD di mana akan diadakannya rapat pembahasan proyek jalan bebas hambatan lintas Selatan Jawa. Tak ada yang bisa menghalangi setiap langkah Janaka, seperti itulah moto hidup Janaka Matila.
Di dalam mobil sesekali ia mengecek notifikasi pesan ataupun panggilan sejak ponsel ia matikan. Namun tak satupun notifikasi itu berasal dari nomor Gladys Hartono. Naka melirik jam di ponselnya dan bergumam, "Sudah jam tujuh, masih belum bangun juga calon nyonya!"
"Saya juga telah menyiapkan penerbangan Bu Gladys siang nanti sesuai titah Anda, dan semalam beliau telah mengkonfirmasi perintah Anda bos!"
"Wanita itu perlu diajari disiplin langsung olehku," gerutu Naka sedikit kesal karena sejak tadi ponsel Gladys belum menunjukkan tanda kehidupan, otomatis si empunya masih ngorok di atas tempat tidur.
Sopir yang membawa bos dan anak buah telah mengantar keduanya tiba di depan kantor pusat BMD. Janaka sebagai pemimpin rapat, segera melangkah menuju ruang rapat di kantornya. Tak terhitung sudah berapa kali ia menerima ucapan selamat pagi atau pun selamat datang dari seluruh karyawan yang berpasangan dengan Janaka. Dan tak satupun di antara mereka yang berani membantah bila Naka sedang memerintah.
"Semua telah siap Pak, para deputi serta direktur telah hadir di ruang meeting," ucap salah satu sekretaris Janaka Matila.
"Hm ... " sahut Naka singkat tanpa mengatakan apa pun pada sekretaris wanita itu.
...****...
__ADS_1