
"Kak, tunggu hujan sebentar"Relia memanggil Dania yang hendak pergi dari ruang tamu dan menyuruh untuk duduk di sebelahnya.
"Ada apa Re"menatap adik dengan lekat
"Tadi, sebenarnya aku liat kak Dania di sekolah ku,apa itu benar? atau aku salah lihat"dia memandang manik mata kakak nya dengan sangat mencurigai.
"Ia,kakak memang datang ke sekolah kamu bersama Daniel"Jawab nya santai sambil menyandarkan punggungnya karna lelah dan tetap melihat ke arah Relia.
Relia bingung,ada gerangan apa kakak kakak nya datang ke sekolah,apakah telah terjadi sesuatu yang tidak mereka ketahui sampai sampai kakak nya datang ke sekolah,dengan rasa yang penasaran bangat Relia menarik tubuh Dania yang tadi nya bersandar sekarang sudah terduduk tegap.
"Katakan? apa yang terjadi,kenapa kalian di panggil pihak sekolah,apakah kamu melakukan kesalahan.apakah telah terjadi sesuatu antara aku dan kak Refan"Relia tidak bisa menyembunyikan rasa takut cemas dan gelisah nya saat ini,dia tidak mau terjebak dalam masalah yang menyangkut sekolah,bahkan manik mata nya melebar pada Dania.
"Puuuufffff...kamu lucu bangat sih re,cepat bangat berpikir seperti itu,Aku dan Daniel tidak di panggil oleh pihak sekolah,tapi kakak menemani adik teman kakak yang baru mendaftar di sana,dan dia mulai sekolah hari ini,nama nya Farrel kamu harus berteman dengan nya yah"
"Ohh jadi begitu,aku pikir ada apa kakak datang ke sekolah,tadi itu aku mau menghampiri kakak,tapi kakak udah duluan masuk ke mobil"
"Tidak ada yang di tanya lagi kan?"Dania memberi kesempatan untuk Relia bertanya,kalo tidak ada dia ingin buru buru ke kamar nya,dia ingin istirahat badan nya lelah sekali seharian ini,dia sudah tidak sabar bertemu dengan kasur empuk nya itu.
"Tidak kak"mengelengkan kepala sambil senyum.
"Ya sudah,kakak masuk ke kamar dulu,kau juga harus ke kamar,ini sudah malam"
"Ia kak"
Mereka naik ke atas bersama sama.
.
.
.
.
Setelah membersih kan keringat di tubuh nya,saat ini dia tengah berdiri melamun di balkon milik kamar nya sendiri,jam sudah menunjukan pukul tengah malam,rasa kantuk belum juga datang untuk menyerang nya,mata nya sedikitpun tidak mau di pejam.
Pandangan nya melurus kedepan melihat pemandangan malam yang sudah ada,angin malam menyelinap masuk lewat piyama tidur nya yang tipis,tapi dia tidak merasakan dingin sedikitpun.
Manik mata yang terasa menghangat serta pikiran nya berkelana kemana mana,
memikirkan sesuatu yang mengganjal di hati nya.
Mau di bawa kemana hubungan ini,apakah aku dan Daniel bisa bersatu,akan kah mama Zhelia dan papa Nathan merestui hubungan kami,apa mereka mau menerima ku sebagai menantu mereka,aku ini seorang yatim piatu,tidak punya keluarga atau pun harta,aku hanya menumpang hidup di atap dan lantai yang sama dengan mereka,akan kah keberuntungan berpihak kepada ku.
Sebutir bening mengalir di pipi mulus nya,dia menghapus air mata lalu merunduk ke pagar besi yang bertumpu dengan tangan nya.segukan mulai terdengar di kesunyian malam di balik angin yang berhembus kencang.cuaca malam ini sangat indah dan terang bulan,lain hati dengan perasaan Dania yang saat ini di kelabutkan dengan awan mendung.
Di sisi lain,Refan sudah tertidur di karpet ujung ranjang, dengan PS yang masih di tangan nya,mereka memainkan sebelas level dalam waktu dua jam,cuma satu kali Refan beruntung mengapahkan kakak nya,selebih nya Daniel yang menang membuat Refan kesal dan marah karna slalu marah dengan kakak nya.
Daniel mengambil handphone nya,dengan iseng dia menghubungi no Dania,sudah dua pangilan namun belum juga di jawab,Daniel memutuskan untuk mengirim pesan dengan tersenyum dan mulai memasuki dunia mimpi.
.
.
.
__ADS_1
.
Pengawal dan pelayan,terlihat mulai sibuk di pagi hari dengan pekerjaan masing-masing.seperti nya tuan dan nyonya besar mereka belum pulang dari kota Bali.
Cuma tidur beberapa jam saja,sekarang Dania sudah bangun dari tidur singkat nya,karna semalam susah sekali untuk tidur,perlahan turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh nya supaya kantungk yang bersarang hilang dari mata nya,lima belas menit telah berlalu,dia keluar dengan mengenakan baju mandi serta handuk yang melilit di kepala nya.
Meraih hendpone,yang berada di bawah bantal nya,niat mau mengecas kemnlai daya batrai nya,dia melihat panggilan tak terjawab dari sang kekasih semalam serta satu pesan yang belum di baca.
***Daniel: Besok pagi kau harus bersiap-siap karna aku ingin mengajak mu keluar.
See you
I love you
good night***
Di meja makan
"Kak,lapan sih mama sama papa akan pulang.semalam aku tidak bisa menghubungi mereka,aku rindu bangat sama mereka"dia bicara pada Daniel sambil mengambil roti dan selai untuk nya.
"Nanti,mereka juga akan pulang,besok atau lusa kakak juga nggak tau"
"Kak Daniel,nanti kita main lagi yah,aku tantang kakak dengan game yang aku punya,kakak pasti akan kalah"Belum ada kata menyerah bagi Refan untuk menantang Daniel kembali,walaupun sudah berkali-kali kalah namun dia yakin akan mengalah kan Kakak nya dengan permainan nya.
"Heheheh......baiklah,rupanya kau belum puas dengan kekalahan kamu"dia tersenyum sambil mengejek Refan,Daniel paling jago dalam game apapun,sewaktu menduduki bangku SMA sampai kuliah,dia sudah memain kan seluruh game yang ada termasuk game yang baru baru keluar,bahkan dia sering mengalah kan teman teman nya,bahkan orang orang yang kalah memberi gelar pada Daniel si Raja game,karna belum pernah ada orang yang mengalah kan kempuan Daniel dalm permainan.
.
.
.
.
Saat ini pasangan dua sejoli tengah memadu kasih,menikmati suasana yang mereka kunjungi sekarang.berjalan dengan bergandengan tangan menaup kan nya dengan erat sehingga tidak ada yang bisa melepaskan genggaman itu.saking melempar senyum.
Dan tangan sebelahnya lagi memegang es krim yang baru saja mereka beli, Dania menyodorkan es krimnya ke bibir Daniel untuk dicicipi rasa coklat kesukaannya, begitupun juga,Daniel melakukan hal yang sama menyuapi Dania dengan es krim vanila kesukaannya.
"Tunggu sebentar "Daniel berhenti dan melepaskan genggaman mereka, perlahan jari Daniel mengusap bibir Dania yang kotor sebab es krim milik nya tadi meleber. Dania pun tersenyum dengan perlakuan manis Daniel kepadanya, mereka kembali menggenggam tangan sambil berjalan dengan bahagia.
Hari ini Daniel akan mengajak Dania jalan-jalan sepuasnya full time, neraka akan menghabiskan waktu berdua hari ini.
Mereka sudah berada di pertunjukan lumba-lumba yang cerdik juga pintar, mereka memilih tempat duduk yang paling depan di bangku yang paling bawah, hari ini ramai sekali pengunjung menyaksikan pertunjukan lumba-lumba yang menunjukkan keahlian mereka dalam berbagai permainan.
Para lumba-lumba bergantian melompati lingkaran yang ada di tengah kolam yang telah disiapkan oleh petugas yang sudah ber propesinal,
prok prok prok prok
Semua orang bertepuk tangan melihat keahlian para lomba, begitupun juga Daniel dan Daniel mereka bertepuk tangan senang sekali melihat pertunjukan ini, ada satu lomba yang nakal atau yang sering usil dengan pengunjung lumba-lumba itu menciptakan air dari mulutnya ke arah para penonton dengan beberapa kali, dan menggoyangkan ekornya membuat para penonton teriak bahagia karena keusilan si lumba yang nakal.
Daniel memeluk kepala Dania agar wajahnya tidak basah oleh cipratan lumba itu, semua orang tertawa melihat tingkah menggemaskan lumba-lumba yang sudah diasah kemampuannya oleh para petugas untuk menyenangkan hati para penonton.
"Apa kau tidak apa-apa"Daniel melihat dengan teliti apakah wajah wanita itu basah oleh air atau tidak, dia juga merapikan rambut yang sempat berantakan oleh pelukannya tadi.
"iya aku tidak apa-apa"jawabnya dengan senyum,sepertinya dia menyukai pertunjukan lumba-lumba ini.
__ADS_1
selesainya pertunjukan tadi, kali ini mereka berada di tempat yang sepertinya di bawah laut, bermacam-macam ikan ada di sana mulai dari ikan yang kecil sampai ikan yang besar, serta duyung jadi-jadian juga ada di sana, ya saat ini mereka berada di akuarium paling besar. tak lupa mengabadikan momen tersebut di dalam camera yang mereka bawa, berpose sepuasnya agar dijadikan sebuah kenangan.
Mereka berpindah ke tempat yang ramai di mana banyak orang berfoto di pagar besi menghadap ke laut, mereka juga tidak mau ketinggalan mengambil pemandangan sore yang begitu indah, Daniel mengambil foto Dania yang berdiri di pagar besi menghadap ke laut, angin yang cukup kencang membuat rambut Dania berterbangan dan itu menambah hasil yang bagus untuk fotonya.
.
.
.
.
Daniel menghampiri Dania di sebuah kursi pinggir jalan dan memberikan satu botol mineral kepadanya.
"Terimakasih"Dania meneguk air mineral sampai batas hausnya hilang, hari ini benar-benar membuatnya sedikit melelahkan.tapi,rasa lelahnya terbayar dengan jalan-jalannya di berbagai tempat.
"Masih kuat lagi?"Daniel bertanya dengan senyum, melihat wajah kekasihnya yang sedikit melelahkan. karena hari ini mereka terlalu banyak berjalan dan itu membuat kaki mereka sedikit terasa sengal.
"Kuat"
"Nggak capek"
"Nggak"
"beneran nih kamu nggak capek,kalau capek kita pulang aja,lihat kamu sudah keliatan lelah sekali"menghapus keringat di dahi Dania, dia tidak ingin memaksa wanita itu untuk mengikuti kemauannya karena kesehatan dia lebih penting dari apapun.
"Enggak Daniel.....aku nggak capek....beneran deh"Dania mengusap pipi Daniel dengan lembut untuk meyakinkan pria itu bahwa dia baik-baik saja,hanya sedikit lelah nanti juga akan semangat lagi setelah istirahat sebentar.
"ya udah,ayo ikut,aku sudah menyiapkan kejutan untukmu"
"kejutan....."Dania melongo dengan senang karena Daniel sudah menyiapkan kejutan untuknya,dan ia senang sekali dengan kejutan.
"iya,aku sudah mempersiapkannya jauh hari,Aku harap kamu akan menyukainya"Daniel menggenggam tangan Dania mengajaknya wanita itu pergi bersama.
Menempuh perjalanan yang cukup panjang di dalam mobil akhirnya mereka telah sampai di tempat yang telah disiapkan oleh Daniel.
Mereka berdua berjalan dengan pelan dan hati-hati,takut jatuh karena Dania tidak bisa melihat apapun, matanya tertutup oleh selembar kain merah yang termasuk dari bagian rencana Daniel, supaya melihatnya nanti Dania terkejut dan terkesan dengan kejutan yang telah ia siapkan.
Dengan hati-hati Daniel membimbing kekasihnya berjalan dengan pelan sampai tujuan.
"Apa kita masih belum sampai Daniel?"Dania bertanya karena dari tadi berjalan belum sampai-sampainya juga, bahkan ia harus berjalan seperti bebek karena matanya telah ditutupi.
"belum....sedikit lagi kita sampai"
"Nah sekarang kita sudah sampai"mereka berhenti di tempat yang gelap tidak terlihat apa-apa, hanya ada cahaya bulan yang menerangi.
.
.
.
.
**Bersambung.
__ADS_1
jangan lupa like nya**