
"Tuan, nikmati saja pestanya." pintanya dengan gugup. Ia segera beralih dari tempatnya menuju ruangan sebelah.
Tapi perasaan arga sendiri tak nyaman. Entah kenapa, Ia justru mengajak Zacky menuju tempat itu bersama untuk melihatnya. Dan benar saja, disana ada sebuah keributan yang cukup besar antara pengunjung mereka.
Tiga orang gadis tengah berkaraoke disana, hingga beberapa orang pria masuk dan mengganggunya. Pria itu mabuk, dan menganggap para gadis itu adalah gadis yang bisa dipakai kapan saja olehnya.
Beberapa barang hancur, peralatan karaoke juga rusak akibat ulah mereka. Gadis yang ada disana hanya berpelukan dalam segala ketakutan yang ada, kecuali satu gadis yang paling pemberani diantara mereka. Ia berdiri dengan tatapan tajamnya, menantang setiap orang yang mendekatinya.
"Apa lihat-lihat? Kalian gimana atur ruangan untuk klien? Orang bisa seenaknya masuk keruangan orang lain dan melecehkan kami seperti ini. Saya bisa tuntut kalian tahu ngga?" omelnya pada semua yang ada disana.
"Tenang, Nona. Ini bisa kita bicarakan baik-baik, tenang." ucap sang manager padanya. Sementara tiga pria yang ada disana tengah terkulai lemah dengan beberapa luka dikepala akibat hantaman darinya.
"Gadis brengsek! Beraninya kau melawanku! Jika kau gadis baik, maka kau tak akan ada disini, Bodoh!" amuk salah seorang dari mereka. Ia bahkan masih kuat berdiri, menghampiri untuk melawannya kembali.
Sang manager disana berusaha melerai, tapi ia didorong oleh pria itu hingga membentur tembok yang ada didepan matanya, dan itu tepat ada didekat arga. Arga hanya terus menatap mereka disana, beradu mulut bahkan hampir beradu jotos antar keduanya.
"Banci!" ucap arga, dan kebetulan pria itu mendengarnya. Wajah Arga kala itu juga amat datar tanpa ekspresi, membuat pria itu merasa sakit hati dengan apa yang ia ucapkan barusan.
"Siapa yang kau bilang banci?" tanya pria itu pada arga, yang mulai berjalan pelan menghampiri mereka disana. Ia juga menatapi ruangan yang berantakan itu, sesekali mengecap bibir dan memberi tatapan kesal padanya.
"Kalian harus mengganti rugi atas semua kerusakan ini. Dan bahkan semuanya hancur tak dapat diperbaiki," ucap arga dengan begitu santainya.
__ADS_1
"Dia yang melakukannya, kenapa aku?" tunjuk pria itu pada gadis yang ada didepan mata.
"Berarti benar, jika kau adalah seorang banci. Bahwa pria sejati tak akan melawan wanita, pria sejati juga akan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan." tatap arga padanya.
Pria itu tampak mengepalkan tangannya, dan yang lain ikut bangun lagi untuk menolongnya. Rupanya mereka masih punya tenaga untuk adu mekanik dengan arga.
Satu peresatu mulai melawan. Bahkan mereka meraih botol minuman sebagai alat menyerang. Tapi arga begitu santai menangkis mereka dengan gerakan tangan dan kakinya. Bahkan satu tangan masih bertahan didalam saku celananya.
Mereka ambruk lagi, dan bahkan mungkin akan sulit bangun kali ini. Arga mengode mereka semua agar membawa pria itu keluar dari tempatnya.
"Tu-tuan, terimakasih karena telah membantu kami. Maaf, jika ruangan berantakan seperti ini." sesal salah seorang gadis padanya.
Arga hanya diam, namun lama kelamaan arga merasa jika gadis itu terus menatap dan memperhatikannya sejak tadi. Ia seakan mengenal arga, tapi arga sama sekali tak memiliki bayangan akan dirinya. Tandanya, arga tak mengenal gadis itu sama sekali.
"Hey... Ayolah, kami hanya merayakan kelulusan kami. Besok lusa akan wisuda, dan kami hanya bersenang-senang hari ini. Tapi..."
"Apa?" tatap arga dengan dinginnya.
"Kamu Kak Arga?" tanyanya, setelah meyakinkan diri beberapa kali.
"Kau siapa? Aku tak pernah mengingatmu dalam kamus hidupku."
__ADS_1
"Kakak bukan ngga kenal, tapi Kakak lupa. Ini Hana, Kak. Hana adiknya Kak Hans, temen Kakak." ucapnya dengan ceria. Zacky yeng mendengar hanya menepuk jidat dari belakang sana.
"Ini anak kenapa ya?" gumam Zacky. Gadis itu memang polos, atau sekedar tak tahu kasus mereka. Padahal hanya dengan Hans menikahi kekasih arga saja, itu adalah sebuah konflik besar dalam hubungan mereka.
"Hana?" Arga menyipitkan matanya.
"Iya, Ariana adeknya Kak Hans. Kakak lupa sama Hana? Ini, Hana masih pakai gelang yang Kakak kasih buat hana loh. Ini udah sepuluh tahunan kan?" Hana menunjukkan gelang itu pada Arga sebagai bukti hubungan mereka yang akrab sebelumnya.
Tapi apa yang terjadi? Arga justru meraih gelang itu dan membuangnya di tong sampah. Gadis yang awalnya ceria lantas menunduk menahan sesak didada.
" Kakak kenapa? Kok begini sama Hana?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca..
"Kau telah merusak clubku. Kau harus bertanggung jawab mengganti semuanya." ucap Arga padanya.
"Tapi... Tapi Hana ngga sengaja, Kakak tahu itu. Kakak kenapa jahat sama Hana? Hana kan_..."
"Hans bukan sahabatku, harusnya kau paham sejak Ia menikahi Sofi dan merebutnya dariku," Arga terdengar begitu santai, tapi deep voicenya tak mengatakan demikian.
"Kakak mau apa sama Hana? Hanya cuma mahasiswa yang baru lulus kedokteran, bahkan Hana belum kerja. Ngga mungkin Hana minta sama_..."
"Berhenti ucap nama itu didepanku! Zacky, bawa gadis ini ikut bersamaku. Dan yang lain pulang. Jangan sampai keluarganya tahu hal ini."
__ADS_1
Arga juga tahu, jika Hans dan sofi sibuk diluar kota saat ini. Hingga mereka dengan segala ancaman itu, mereka juga menuruti titah arga setelah Hana meyakinkan semuanya akan baik-baik saja.
" Kak Arga bukan orang jahat, kan? Dia baik, Hana tahu itu." gumamnya dalam hati dengan begitu yakin, ketika mereka semua membawanya pergi dan tak memberitahu kemana tujuan mereka sama sekali.