Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 55


__ADS_3

Arga baru saja pulang usai melakukan transaksi senjatanya. Menggunakan mobil yang saat ini zacky setir, fikiran arga justru kemana-kemana. Ia cukup banyak melamun sejak siang ini, tapi untung saja ia masih bisa profesional dengan para koleganya disana.


"Ga?"


"Hmmmm?"


"Kau kenapa? Masih memikiran sofi dan_..."


"Terus cari data mengenai Rumah sakit mereka. Bukti dan semuanya. Jika siap, kita akan segera bergerak." titah arga.


Rasanya sudah tak tahan lagi untuk menyerangnya. Caranya menangkap hana seperti bukan masalah besar untuk hans saat ini. Harusnya ia cemas, dan bahkan melakukan apa saja demi hana. Tapi nyatanya, ia masih saja bisa memanfaatkan moment untuk kesenangan dirinya saat ini.


Bahkan arga ingin secara langsung menghubingi Thomas, memberitahu bahwa hana telah diculik saat ini hingga ia benar-benar emosi. Bila perlu membuat kegaduhan antara keduanya. Sepertinya itu akan menyenangkan, andai saja ia dapat melihat langsung pertikaian mereka berdua.


"Bawa aku ke club,"


"Baik," angguk zack padanya. Sangat tumben sekali arga meminta ke club malam begini. Biasanya ia memilih untuk segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya dirumah mareka..


Sementara itu di club. Makin malam akan semakin ramai dan riuh oleh para pengunjungnya. Saat itu Ina kelelahan karena boking hans sehari semalam,, hingga ia memilih duduk santai menikmati segala hiburan yang ada. Apalagi, uang yang diberikan hans padanya juga cukup jika ia ingin libur seminggu ini.


"Kak ina, kak ina!" panggil seorang pelayan padanya.


"Ya, tik. Ada apa?"


"Ada, itu... Ehm, anu..."


"Apa tik? Ganggu orang santai aja, ih. Heran deh," omel ina padanya. Ia kemudian berdiri, dan atik segera menggandeng tanganya untuk pergi bersama menuju pintu masuk.


Dari belakang, Ina melihat seorang gadis yang begitu berantakan. Pakaiannya, bentuknya, kakinya bahkan terluka cukup parah hingga berdarah..


"Cari saya?" tanya Ina, dan kemudina gadis itu menoleh padanya.


Ina tercengang. Ia tak menyangka langkah gadis itu secepat ini untuk tiba. Dan menemuinya. Ina yang panik segera membawa gadis itu kekamar pirbadinya, ia meminta atik untuk memanggilkan seorang dokter, tapi sayang tak dapat dihubungi langganan mereka.

__ADS_1


Hingga Arga datang. Ina langsung memanggil arga dan Zacky untuk masuk kekamarnya, agar ia bisa memberitahu siapa yang datang.


"Dia terluka?" kaget arga padanya. Karena dokter belum ada, arga meminta salah seorang penjaga rumah untuk membawa hana memeriksanya saat itu.


"Maaf, Nyonya. Tuan meminta anda ke club sekarang juga,"


"Kak arga? Yaudah, Hana siap-siap dulu." ucapnya yang tanpa bertanya ada apa. Karena baginya, titah arga itu menyenangkan baginya dan hana akan segera datang kesana.


Dengan mobil yang disetir cepat, hana segera tiba dan masuk club melalui pintu belakang hingga dibawa masuk kekamar ina. Ia tercengan disana, melihat seorang gadis dengan luka dikakinya.


"Kakak mau hana obati dia?"


"Ya, kau bisa? Alatnya tengah diambil oleh Zacky. Aku percayakan dia padamu," Arga sembari berbisik, siapa perempuan itu sebenarnya.


"Iya, Hana kerjain." patuhnya pada sang suami.


Arga kemudian keluar, ia mengobrol dengan ina disana untuk menangani gadis itu. Bahwa ia tak bisa menjaganya untuk tingal di club karena berbahaya, apalagi hans sering mngunjunginya.


"Hana tak akan cemburu. Gadis itu bukan siapa-siapa bagiku," ucap arga dengan segala rasa percaya dirinya. Ia tak tahu, bagaimana wanita ketika sedang dihantui rasa cemburu dalam hatinya. Itu akan sangat berbahaya.


Terdengar jeritan di dalam sana, ketika hana mencabut peluru dari betis gadis itu. Tapi hana dengan sigap langsung menutup luka yang ada, bahkan menjahitnya beberapa.


"Dah, selesai. Nanti tinggal minum obat pereda nyeri, abis itu kamu bisa tidur nyenyak." ucap hana dengan ramah padanya. Liska hanya mengangguk, ia ragu akan kebaikan mereka saat ini yang seakan masih belum bisa ia percaya sepenuhnya.


Benarkah masih ada orang tulus didunia ini? Bahkan liska takut, mereka masih satu gerombolan dengan penyekap itu karena saat ini berada disebuah club.


"Apakah, saya akan dijual disini?" tanya Liska dengan polosnya. Untung saat itu ina masuk, dan ia menjelaskan semuanya karena hana tak tahu apa-apa dengan yang dimaksud oleh liska.


Mereka tak akan menjual liska di club, bahkan akan melindunginya sebagai saksi setelah ini. Itu semua membuat liska sedikit menghel napas lega meski kenyataan pahit tetap menamparnya. Bahwa bukan tubuhnya yang dijual, tapi hanya beberapa organ dalam yang akan mereka ambil dari tubuhnya.


Ia tak akan pernah kembali lagi pada keluarga, seperti khayalannya selama ini. Hingga ia amat bersyukur, ketika bisa dengan cepat lepas dari rencana jahat mereka semua sebelum benar-benar di eksekusi.


Liska benar-benar dibawa ke mansion. Ina dan zacky mengantarnya saat itu dengan mobil mereka dibelakang, sedangkan arga dan Hana ada didepan. Saat itu, Hana diam seribu bahasa dengan bibir mengerucut didepan suaminya.

__ADS_1


"Kau kenapa?" tanya arga dengan deep voicenya..


"Kenapa dibawa ke mansion?"


"Karena dia tak bisa tinggal di club."


"Kenapa?"


"Karena berbahaya," jawab datar arga padanya.


"Tapi kenapa ke mansion? Hana ngga suka." kesalnya. Sepertinya ia cemburu, apalagi melihat perhatian arga pada gadis itu. Dan liska, juga seperti selalu terkesima dengan arga yang baik padanya.


"Banyak orang di club. Kau sendiri tahu jika ia dalam pengejaran saat ini oleh para komplotan penculiknya. Dan lagi, kau dokter yang bisa merawatnya disana."


Hana hanya tetap diam, bersedekap dan membuang muka dari arga. Ia menggigiti bibir bawahnya, menahan segala rasa gelisah yang ada didalam hatinya.


" Hana?" panggil arga padanya. Tapi hana tak menggubrisnya, dan tetap diam seribu bahasa. Hingga akhirnya arga menghentikan mobil itu secara mendadak, hingga hana terantuk dashboard mobilnya.


"Kak arga!"


"Kenapa, sakit?" tatap arga padanya.


"Jangan ditanya. Nanti benjol gimana?" omel Hana, yang kemudian memperhatikan wajahnya dicermin. Untung tak apa-apa, hingga hana cukup tenang. Tapi sepertinya arga yang gelisah, ketika melihat dan mendengar bibir cerewet yang terus merepet padanya itu.


"Apa?" tanya Hana yang melirik tajam padanya. Arga tak berkata apa-apa. Saat itu ia meraih lengan hana dan menariknya hingga tubuh mungil itu terbawa duduk diatas pangkuannya.


"Kak arga, mau apa? Ini... Di jalan," ucap Hana yang menoleh kesekitarnya.


Arga meraup wajah mulus itu dengan telapak tangan besarnya, membawa bibir mereka bertaut dan segera melu matnya dengan begitu agresif dan menuntut. Hana langsug meraih pegangan yang ada dikir atas mobil itu, agar bisa menyesuaikan diri dengan segala aktifitas sang suami ditubuhnya.


Arga melakukannya dengan cukup kasar. Tapi entah kenapa hana suka dengan perlakuan yang seperti itu, asal masih dalam batas normal. Kini dress yang hana pakai sudah begitu turun dibagian atas, dan tertarik naik dibagian bawah. Arga lalu menatapnya dengan penuh rasa ingin.


"Apakah boleh?" tanya arga padanya. Hana tak menjawab, hanya kembali menunduk dan menautkan bibir antara keduanya.

__ADS_1


__ADS_2