Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
part 38


__ADS_3

Hana membuka matanya. Ia melirik horden yang sedikit terbuka dengan matahari yang mengintip tepat menyinari matanya. Ia menyingkirkan selimut yang menutup tubuh, tapi menemukan sebuah tangan diatas pingang melingkar keperutnya. Nyaris saja terkejut, tapi Ia ingat jika tidur dikamar arga mala mini dan seranjang bersama. Ia tampak langsung tersenyum, rencananya untuk bangun ia tunda demi menikmati pelukan arga padanya.


Hana amat menikmati itu semua, ia bahkan sengaja mendinginkan ac agar arga semakin kedinginan dan semakin erat memeluk tubuhnya saat itu. Tapi bukannya dingin, entah kenapa arga justru gelisah dan merasakan hawa semakin panas ditubuhnya.


“Kakak kenapa?” tanya Hana, yang kemudian memutar tubuh untuk menghadapnya. Dan sontak hal itu membuat tali tipis di bagian gaunnya terbuka. Arga mmebuka matanya perlahan, tapi tatapannya langsung terfokus pada satu titik indah ditubuh hana saat itu.


“Kakak? Mau bangun? Kebetulan udah pagi, jadi_...” Ucapan hana terpontong. Arga tak membiarkanya pergi sama sekali saat ini, justru terus meraih tubuh hana untuk ia peluk sekuat tenaganya. Bahkan membalik tubuh hana untuk membelakanginya hingga ia bebas memeluk tubuh itu dari belakang.


Hana sempat tersenyum bahagia karena pancingannya berhasil. Arga membenamkan wajah ditengkuk hana saat ini, bahkan dengan amat brutal mengecupi belakang lehernya itu. Hingga semakin lama semakin terasa, jika tangan Arga mulai mencari bulatan indah di dada dan memainkannya.

__ADS_1


“Aaah!! Kak arga!” Hana memekik lirih. Arga sudah diselimuti kabur gai rah sat ini, dan sepertinya tak mungkin bisa dicegah lagi. Arga semakin meraparkan diri pada tubuh hana dan begitu brutal memulai cumbuannya.


Wajah Hana diraihnya dari belakang, dan ia mulai menyerang bibirnya. Tangan terus bergerilya, bahkan mencari inti tersensitif ditubuh istrinya. Hana saat itu tak hentinya menggeliat bagai cacing kepanasan, menge rang hingga tubuhnya melenting tak karuan. Bahkan hingga sebuah desa han kuat keluar dari bibirnya, pertanda ia baru saja mencapai puncak indah yang pertama hanya dengan jari jemari arga.


Permainan mereka berlanjut pagi ini, kadang bahkan hana memastikan jika arga sebenarnya hanya mengigau atau memang benar- benar menginginkannya saat ini. Tapi masa bodoh, toh mereka berdua sama-sama menikmati dan permainan terus berlanjut hingga sama-sama meraih puncak masing-masing. Hingga arga akhirnya jatuh diatas tubuh Hana dan sedikit lama bermanja disana.


Sementara itu, sofi saat ini sudah ada dipenjara. Ia langsung masuk dan mulai menanyakan nama arga disana.


Sofi hanya termenung mleihatnya. Ia terngiang-ngiang ucapan Hans mengenai pemiliki club itu yang juga memiliki nama arga, meski ia ragu arga mendapat modal dan harta darimana untuk mendirika  club sebesar itu.

__ADS_1


"Baru dua minggu? Bagaimana bisa dua minggu_... Astaga, Arga. Kenapa menjadi semakin banyak misteri dalam hidup kamu?"gumam Sofi, seakan masih belum bisa percaya jika itu semua memang arga yang ia maksud selama ini.


Saat ini sofi merenung dipinggir ruangan, menatap semua penghuni lapas yang tengah membersihkan tempat tinggal mereka saat ini. Tapi Sofi diam dan terus melamun begitu kosong dalam fikirannya.


"Terkadang, apa yang kita lihat baik itu tak pantas untuk dipuja. Tapi apa yang kita anggap jahat, itulah yang diam-diam melindungi kita."


Sofi dibuat kaget mendengarnya, ketika mendadak seorang pria paruh baya duduk santai dan bicara disebelahnya. Dibilang tua, tapi pria itu sebenarnya masih cukup kekar dan begitu mempesona.


"Maksud, Bapak? Bapak bicara sama saya??" tanya sofi padanya.

__ADS_1


"Bagaimana menurutmu? Dunia ini hanya kamuflase, yang kadang apa yang kita lihat itu tak sesuai dengan kenyataan yang ada."


"Hmm....Ya, mungkin seperti itulah kenyataannya." jawab sofi apa adanya, yang sebenarnya malas menggubrisi orang yang tak ia kenal tapi berani duduk didekatnya dan sok akrab seperti ini.


__ADS_2