Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 49


__ADS_3

Ina  sudah rapi


dan membersihkan diri pagi ini, Ia juga bersiap pulang ke club dan hans sendiri


yang akan mengantarnya kesana. Sebuah morning kiss ia terima dnegan begitu mesra,


ketika Hans melingkarkan tangan dipinggangnya bahkan memberikan segepok uang untuknya.


“Ini buat Ina?”


“Iya dong, buat siapa lagi. Sebagai tanda terimakasih


karena kamu sudah begitu memuaskan aku malam ini. Kau siap kapanpun aku mau, dan


bahkan ketika aku menggempurmu tiada henti.”


“Ah saying, Ina kan kerja. Wajarlah kalau seperti itu.


Sayang juga jago banget, buat ina sampai_... Aaah, tak bisa diungkapkan dengan


kata-kata rasanya.” Ina langsung berbalik dan Kembali menyerang bibir hans bertubi-tubi


sebagai ucapan terimakasih. Tapi Ia tak mau mengulangnya lagi, rasanya sudah


begitu Lelah menghadapi pejantan Tangguh ini semalaman. Rasanya Ia inging


perawatan dan memanfaatkan semua uang yang ia dapat. Bodo amat, itu uang dari


mana. Yang jelas semua misinya terlaksana mala mini.


Ina digandeng Hans keluar untuk sarapan bersama dimeja


makan. Mereka semua sudah menunggu disana untuk sarapan bersama, dan bahkan masih


ada saja yang melakukan adegan mesra seakan masih belum puas bermain semalaman.


Untung saja Ina sudah amat terbiasa dengan semuanya.


Sarapan begitu nikmat terhidang diatas meja. Entah karena


cerita hans tadi malam, hinga Ina sama sekali tak berselera dengan menu yang


ada apalagi daging. Jujur demi apa, Ina justru terbayang-bayang dengan semua


bayangaan mengerikan dan menjijikan yang terus menghantuinya saat ini.


“Tuan…” panggil salah seorang anak buah mereka dari ruang

__ADS_1


belakang.


“Ada apa?” tanya Hans padanya, sementara rekan yang


lain sibuk sarapan sembari memadu kasih dengan wanitanya masing-masing.


Pria itu lantas mendekat, Ia berbisik pada Hans jika


gadis yang ada dalam kurungan itu sakit saat ini. Sepertinya cukup parah,


hingga ia perlu obat untuk segera meredakan sakitnya saat ini.


“Apa-apaan dia ini? Sakit terus, manja sekali.” Geram hans


padanya


“Sayang, siapa yang sakit?” tanya Ina. Hans yang tak


memiliki rahasia lagi padanya, lantas menyeretnya masuk keruang penyekapan.


Saat itu Ina terperanjat melihat mereka semua, ia bahkan teringat adiknya,


berharap ditemukan diantara mereka yang ada disana.


Namun tak ada, Adik Ina seperti sudah dieksekusi oleh


misinya dan tak boleh sembarang bergerak. Ia tak ingin, justru ia menjadi


korban dalam hal ini.


Seorang gadis terbaring lesu disana. Ia diam, wajahnya


pucat dengan tatapan yang amat kosong dari matanya. Ina yang melihatnya amat


kasihan, Ia masih belia sama seeperti adiknya dari usia.


“Apakah sudah diberi makan?” tanya Ina pada Hans.


“Sudah, tapi dia tak mau memakannya.” Jawab hans


padanya. Ia cuek, mau makan atau tidak terserah, bahkan jika mati ia masih berguna


untuk hans dan kelompoknya saat itu.


“Ngga boleh. Nanti murah, saying. Nanti kamu ngga bisa


kasih aku uang banyak untuk perawatan,” bujuk dan rayu ina padanya. Yang

__ADS_1


bahkan, Ia memberikan makanan enaknya diberikan pada gadis itu disana.


“Kau terlalu baik, saying.” Kecup mesra hans padanya.


Saat itu, Hans meninggalkannya sejenak disana untuk


mengangkat telepon dari istrinya. Hal itu Ina manfaatkan untuk mencari info


tentang sang adik padanya, siapa tahu jika gadis itu sempat mengenalnya.


“Diva?” orang yang ada disebelah ruangan itu yang jsutru


menyahutnya. Ia bahkan memberi keterangan jika Diva hanya tinggal Lima hari


disana, setelah itu dibawa oleh pemiliknya. Entah pemiliki bagaimana maksudnya,


atau semua organ diva saat itu sudah diboking oleh pemesannya sejak lama.


Begitu pilu hati ina mendengarnya. Ia hanya bisa menghela


napas dan pura-pura bahagia didepan hans yang sebentar lagi Kembali. Namun, Ia


masih bisa memotret mereka dengan sebuah kamera kecil yang ia bawa.


“Sayang, sudah?” panggil Hans.


“Iya, saying. Ini mau tutup pintu,”


“Kunci kuat-kuat, agar mereka tak bisa kabur dari sana,”


pinta hans padanya. Namun, bukan mengunci dengan kuat, melainkan ina


melonggarkan kunci gadis itu agar bisa keluar dari sana.


“Kabur yang jauh, bila perlu pergi ke Tiger. Kau tahu?


Aku Ina,”


“Club?” tanya gadis itu, kemudian ina mengangguk


padanya. Ina kemudian pergi, menghampiri Hans dan segera membujuknya untuk membawanya


pulang Kembali ke club mereka.


“Aku capek, nanti mau perawatan.”


“Iya saying, perawatanlah. Nanti kalua uangnya kurang,

__ADS_1


kamu bisa hubungi aku.” Ucap hans padanya dengan penuh goda.


__ADS_2