
Ina sudah rapi
dan membersihkan diri pagi ini, Ia juga bersiap pulang ke club dan hans sendiri
yang akan mengantarnya kesana. Sebuah morning kiss ia terima dnegan begitu mesra,
ketika Hans melingkarkan tangan dipinggangnya bahkan memberikan segepok uang untuknya.
“Ini buat Ina?”
“Iya dong, buat siapa lagi. Sebagai tanda terimakasih
karena kamu sudah begitu memuaskan aku malam ini. Kau siap kapanpun aku mau, dan
bahkan ketika aku menggempurmu tiada henti.”
“Ah saying, Ina kan kerja. Wajarlah kalau seperti itu.
Sayang juga jago banget, buat ina sampai_... Aaah, tak bisa diungkapkan dengan
kata-kata rasanya.” Ina langsung berbalik dan Kembali menyerang bibir hans bertubi-tubi
sebagai ucapan terimakasih. Tapi Ia tak mau mengulangnya lagi, rasanya sudah
begitu Lelah menghadapi pejantan Tangguh ini semalaman. Rasanya Ia inging
perawatan dan memanfaatkan semua uang yang ia dapat. Bodo amat, itu uang dari
mana. Yang jelas semua misinya terlaksana mala mini.
Ina digandeng Hans keluar untuk sarapan bersama dimeja
makan. Mereka semua sudah menunggu disana untuk sarapan bersama, dan bahkan masih
ada saja yang melakukan adegan mesra seakan masih belum puas bermain semalaman.
Untung saja Ina sudah amat terbiasa dengan semuanya.
Sarapan begitu nikmat terhidang diatas meja. Entah karena
cerita hans tadi malam, hinga Ina sama sekali tak berselera dengan menu yang
ada apalagi daging. Jujur demi apa, Ina justru terbayang-bayang dengan semua
bayangaan mengerikan dan menjijikan yang terus menghantuinya saat ini.
“Tuan…” panggil salah seorang anak buah mereka dari ruang
__ADS_1
belakang.
“Ada apa?” tanya Hans padanya, sementara rekan yang
lain sibuk sarapan sembari memadu kasih dengan wanitanya masing-masing.
Pria itu lantas mendekat, Ia berbisik pada Hans jika
gadis yang ada dalam kurungan itu sakit saat ini. Sepertinya cukup parah,
hingga ia perlu obat untuk segera meredakan sakitnya saat ini.
“Apa-apaan dia ini? Sakit terus, manja sekali.” Geram hans
padanya
“Sayang, siapa yang sakit?” tanya Ina. Hans yang tak
memiliki rahasia lagi padanya, lantas menyeretnya masuk keruang penyekapan.
Saat itu Ina terperanjat melihat mereka semua, ia bahkan teringat adiknya,
berharap ditemukan diantara mereka yang ada disana.
Namun tak ada, Adik Ina seperti sudah dieksekusi oleh
misinya dan tak boleh sembarang bergerak. Ia tak ingin, justru ia menjadi
korban dalam hal ini.
Seorang gadis terbaring lesu disana. Ia diam, wajahnya
pucat dengan tatapan yang amat kosong dari matanya. Ina yang melihatnya amat
kasihan, Ia masih belia sama seeperti adiknya dari usia.
“Apakah sudah diberi makan?” tanya Ina pada Hans.
“Sudah, tapi dia tak mau memakannya.” Jawab hans
padanya. Ia cuek, mau makan atau tidak terserah, bahkan jika mati ia masih berguna
untuk hans dan kelompoknya saat itu.
“Ngga boleh. Nanti murah, saying. Nanti kamu ngga bisa
kasih aku uang banyak untuk perawatan,” bujuk dan rayu ina padanya. Yang
__ADS_1
bahkan, Ia memberikan makanan enaknya diberikan pada gadis itu disana.
“Kau terlalu baik, saying.” Kecup mesra hans padanya.
Saat itu, Hans meninggalkannya sejenak disana untuk
mengangkat telepon dari istrinya. Hal itu Ina manfaatkan untuk mencari info
tentang sang adik padanya, siapa tahu jika gadis itu sempat mengenalnya.
“Diva?” orang yang ada disebelah ruangan itu yang jsutru
menyahutnya. Ia bahkan memberi keterangan jika Diva hanya tinggal Lima hari
disana, setelah itu dibawa oleh pemiliknya. Entah pemiliki bagaimana maksudnya,
atau semua organ diva saat itu sudah diboking oleh pemesannya sejak lama.
Begitu pilu hati ina mendengarnya. Ia hanya bisa menghela
napas dan pura-pura bahagia didepan hans yang sebentar lagi Kembali. Namun, Ia
masih bisa memotret mereka dengan sebuah kamera kecil yang ia bawa.
“Sayang, sudah?” panggil Hans.
“Iya, saying. Ini mau tutup pintu,”
“Kunci kuat-kuat, agar mereka tak bisa kabur dari sana,”
pinta hans padanya. Namun, bukan mengunci dengan kuat, melainkan ina
melonggarkan kunci gadis itu agar bisa keluar dari sana.
“Kabur yang jauh, bila perlu pergi ke Tiger. Kau tahu?
Aku Ina,”
“Club?” tanya gadis itu, kemudian ina mengangguk
padanya. Ina kemudian pergi, menghampiri Hans dan segera membujuknya untuk membawanya
pulang Kembali ke club mereka.
“Aku capek, nanti mau perawatan.”
“Iya saying, perawatanlah. Nanti kalua uangnya kurang,
__ADS_1
kamu bisa hubungi aku.” Ucap hans padanya dengan penuh goda.