Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 34


__ADS_3

"Hana siap," panggil ceria gadis itu padanya. Dengan dandanan yang begitu cantik dan lipstik pink merona, rambutnya juga terurai panjang karena baru saja keramas petang ini.


"Kenapa dandan jika pakai masker?"


"Hana dandan buat kakak, bukan buat orang lain." jawabnya. Arga hanya menyipitkan mata, Ia tak bisa berkata apa-apa ketika Hana menggandengnya.


"Kita kemana?"


"Terserah..."


"Lah, gimana? Tadi kakak yang mau keluar, kan hana cuma ikut.."


"Seleraku hilang karenamu," jawab ketus arga padanya.


Hana melirik kanan dan kiri ketika turun menggunakan lift transparan yang mereka naiki. Hana terpaku pada pemandangan pantai yang amat indah dimalam hari, namun sepi. Ia kemudian merengek mengajak Arga kesana dan bermain bersama malam ini.


"Ayooo, disana sepi." ajak Hana yang terus menariknya.


"Sepi bagaimana? Yang namanya pantai pasti ramai. Orang- orang akan melihatmu,"

__ADS_1


Hana hanya memanyunkan bibirnya. Ia lihat memang benar-benar sepi disana, hingga pasti aman jika mereka menikmati pemandangan berdua. Dengan semilir angin pantai yang dingin, dipadu kemerlip lampu dari kota besar yang semakin memperindah suasana.


" Apalagi kalau dipeluk hangat dengan kecup mesra. Hihi," Hana cengengesan membayangkannya saat itu.


"Apa?" tatap Arga, tapi Hana hanya menggeleng sembari terus menyembunyikan wajah di belakang lengan kekarnya.


Kagumnya Hana seperti Zacky, kaget dengan bentuk tubuh yang amat sempurna itu. Kadang Ia bingung harus menderita atau bersyukur, karena diculik justru oleh orang yang Ia cintai selama ini.


"Tuan Arga," panggil salah seorang rekan kerja pada yang kebetulan juga menginap dihotel sana.


"Tuan Marco, apa kabar?" Arga berusaha ramah lalu menjabat tangannya.


"Ini?"


"Istri saya," jawab Arga, spontan tapi jujur. Hana tersenyum senang mendengarnya, ingin seketika terbang tinggi hingga menembus langit ketujuh. Karena meski begitu, Arga mengakuinya sebagai istri dihadapan orang lain meski wajahnya dututupi.


"Wah, Tuan arga sudah menikah? Kapan?"


"Kemarin, tapi memang tak dipestakan. Nanti... Mungkin,"

__ADS_1


"Aaamiiin," celetuk Hana dengan segala harapan didalam hatinya. Arga menyikut hingga menyenggol dada hana, yang masih perih akibat perbuatannya hingga ia meringis.


"Oooh, bulan madu?" ledek pria itu melihat ekspresi keduanya. Bagaimana tidak, pria itu juga pernah muda seperti pasangan yang ada didepan mata.


Arga keterusan mengobrol dengan rekan kerjanya itu. Meski rahasia karena membahas pengiriman senjata, tapi mereka berhasil berbicara dengan kode kata yang hanya mereka yang tahu artinya.


Hana bengong, Ia sama sekali tak mengerti maksud mereka berdua. Bahkan ketika Hana pamit pergi, Arga tak terlalu menggubrisnya. Hingga hana kesal, dan akhirnya keluar dari hotel menuju pantai malam itu sendirian.


"Ada pula pantai sepi begini, padahal pemandangannya indah." heran Hana. Ia ingat pernah kesana, bahkan sempat menemani Sofi ketika bulan madunya bersama Hans. Tak sesepi itu, lantas ada apa dengan mereka semua..


Hana berjalan dan terus berjalan, menikmati angin yang terus menerpa tubuhnya. Baru ia rasakan, sedikit nyeri seperti yang seharusnya.


"Ngga papa, besok enak." ringiknya menahan perih. Hingga beberapa orang datang untuk menghampirinya.


"Nona sendirian?" tanya kedua pria dengan seragam lengkap itu. Bahkan mereka melihat sekeliling, seperti benar-benar berjaga dengan lingkungan malam yang ada disana.


"Ya, saya sendiri. Ada apa, Pak?"


"Sebaiknya anda kembali, karena disini cukup berbahaya saat ini."

__ADS_1


"Hah? Bahaya?" Hana juga mendadak takut mendengarnya.


__ADS_2