Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 39


__ADS_3

Tangis Hana memuncah karenanya. Terserah jika nanti arga akan menganggap apa padanya, yang jelas arga sudah tahu bagaiamana perasaanya saat ini.


Arga meraih bahu Hana, melepas dekapan itu darinya lalu meraih dagu dan mengangkatnya. Apa yang Hana mau dari arga, itu keluar dari mulut pria itu saat ini. Padahal sejak awal arga sudah memperingatkan agar Hana tak terlalu berharap pada pernikahan mereka, namun hana justru sebaliknya.


"Aku sudah bilang, aku tak akan pernah memberimu apa-apa, adengan cinta." tegas Arga padanya.


"Karena kak sofi? Kenapa  kak arga tak pernah bisa membuka hati? Separah itukah sakitnya?" tanya Hana, yang kemudian mengarahkan telapak tangannya didada arga. Ia bahkan tak segan mengecupkan bibirnya dengan lembut disana.


"Deeeeg!! Perasaan apa ini? Seperti sebuah perasaan yang sudah sekian lama ku matikan, namun kenapa dia seperti datang lagi? Apa karena gadis ini?" tatap Arga pada Hana disana. Jantungnya berdegup dengan begitu cepat, lebih cepat dari ritme normal yang sering ia rasakan. Bahkan, terasa seperti nyeri seperti nyeri yang seketika menyerangnya.


"Arkhh!!" Arga spontan memekik karena tak bisa lagi menolak segala rasa yang ada.


"Kakak kenapa? Sakit? Hana ambilin obat ya?"


"Tak usah, pergilah dariku sebentar saja. Maka sakitnya akan sembuh,"

__ADS_1


Jujur hana merasa sedih mendengarnya. Apalagi membayangkan jika rasa sakit itu justru karena dirinya, padahal ia baru saja ingin menyembuhkan rasa trauma arga pada mereka.


Hana hanya bisa mengangguk, Ia akhirnya memilih kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya. Dan saat itu, Arga terduduk lemas mengusap dadanya yang terasa lenbih ringan saat ini. Ia merenung sejenak dengan segala keanehan  yang tengah ia rasakan. Ia kemudian memilih segera turun untuk sarapan daripada memikirkan semua beban yang ada.


"Hana mana?" tanya Zacky. Arga hanya menelengkan kepalanya kearah kamar hana, pertanda gadis itu masih ada diatas dan didalam kamarnya. Dengan sikap arga yang diam, Zacky tak lagi menyambung pertanyaan pada sahabatnya itu.


"Sam meminta, agar kau mempertemukan Hana pada ayahmu disana. Bahkan aku juga belum pernah bertemu dengan Beliau," ujar zacky padanya, yang mulai melayani untuk sarapannya.


"Harusnya ia tak meminta seperti itu, karena aku dan Hana_..." Ucapan terhenti ketika suara langkah hana turun dari atas tangga. Ia dengan dress indahnya itu tampak sangat anggun dan mempesona, bahkan Arga sampai tak berkedip melihatnya.


Hana melangkah mendekati keduanya, Ia bahkan hanya menyapa zacky dan tak menatap suami yang sejak tadi melihatnya. Bahkan seakan ia lupa baru saja mengemis cinta pada arga, hingga pria itu kesal refleks mengepalkan tangannya.


"Kak zacky ganteng sekali. Mau kemana har ini?" tanya Hana yang mulai meraih sarapan dipiringnya.


"Rencana hari ini? Arga akan membawa kita bertemu ayahnya," jawab zacky, tak perduli arga memberikan tatapan tajam padanya, seakan ingin segera menerkamnya seketika. Apalagi ketika Hana begitu pro dengannya, dan terkesan tak memperdulikan arga meski disampingnya.

__ADS_1


"Wuaaah, Hana bakal ketemu Ayah mertua. Kudu dandan yang cantik ini, bener kan kak?" tanya Hana pada zacky yang ada disebrangnya. Rasanya darah arga mendidih, ketika Zacky bahkan memuji istrinya berkali-kali didepan matanya saat itu. Tangannya mengepal, Ia bahkan melonggarkan kerah lehernya karena terasa begitu sesak saat ini baginya.


**


"Mas, hari ini aku belanja bulana, ya?"


"Baiklah, tapi aku tak bisa menemani karena masih harus mencari Hana," ucap Hans sembari mengeluarkan credit card dari dompetnya. JIka meninggalkan segala kebbejadan sifatnya, sebenanry arga adalah lelaki yang amat bertanggung jawab pada istrinya. Semua keperluan sof selalu ia lengkapi, memberi banyak meski sofi tak pernah meminta lebih padanya.


"Iya aku ngerti. Nanti kalau entah dimana aku dapet petunjuk, aku akan segera hubungin kamu kok," balas sofi pada sang suami.


Hans segera menyelesaikan sarapannya, lalu merapikan diri untuk pergi. Dan entah, pergi langsung ke tujuan atau melipir terlebih dahulu keanapun ia mau. Yang jelas, jadwalnya begitu padat hari ini meski tak mengunjungi Rumah sakit mereka.


Clig! Hp Hans berbunyi. Ia segera melihat pesan Wa yang terkirim padanya. Bahwa ada pesanan organ yang tengah menunggu antrian saat ini, dan orang itu sanggup membayar mahal dengan apa yang ia cari.


Hans tersenyum lebar dengan apa yang ia terima, rasanya memang benar kata orang jika rezeki akan sellau mengalir jika Ia bisa memanjakan atau bahkan membiarkannya menghabiskan seluruh jatah belanja yang ada.

__ADS_1


"Duit, Iam coming," ucpnya dengan antusias, dan langsung menyetir mobilnya ketempat tujuan.


__ADS_2