Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 29


__ADS_3

"Mas, gimana?" tanya Sofi ketika suaminya pulang. Tampakamat lelah, hingga ia segera membuatkan secangkir kopi dan memijat kakinya.


"Belum ada tanda-tanda. Tapi aku sudah mengirim beberapa anak buah untuk terus menacarinya," ungkap Hans dengan segala usahanya.


"Anak buah?" Sofi memicingkan mata.


"Ya, anak buah kan? Aku menyewa beberapa detektid untuk terus berpencar mencari Hana dimanapun berada. Bukankah artinya, mereka anak buah kita?" kilah Hans agar istrinya tak curiga.


Saat itu sofi hanya menganggukkan kepala, sembari terus memijit kaki dan lengan suaminya. Ia juga tak menaruh curiga, karena Hans adalah pemain yang begitu handal hingga tak meninggalkan jejak sama sekali dari perselingkuhan yang Ia lakukan. Bahkan Ia juga masih bisa terus mesra pada sofi, hingga selalu bisa merasa istimewa ketika dengan suaminya.


"Sayang," panggil Hans sembari mengusap mesra rambut istrinya.


"Ya, Mas"

__ADS_1


"Mengenai Arga. Apakah dia sudah bebas dari penjara?" Sofi langsung memicingkan mata mendengarnya. Setelah sekian lama, Hans baru kali ini menyebut kembali nama Hans didepannya.


"Sofi ngga tahu, Mas. Kenapa?" tanya Sofi. Dan Hans memang jujur dengan segala informasi yang ia temukan barusan, ketika mengunjungi club dan mendapati Arga sebagai pemilik disana pada sofi.


Sofi seakan tak percaya jika Arga memiliki bisnis seperti itu jika memang itu benar dia. KArena sofi amat tahu arga, yang bahkan tak pernah menyentuh minuman keras selama hidupnya. Apalagi memiliki usaha seperti itu.


"Dia bangkrut, bagaimana bisa mendapat modal untuk usaha begitu?" gumam Sofi didepan suaminya.


"Ya, kita mana tahu lah dia dapat modal darimana. Dan jangan terlalu membahas kebaikan dia, karena nyatanya dialah yang membunuh ayah saat itu." balas Hans yang kembali memprovokasi Hana dengan kenangan buruknya. Yang saat ingat itu, Hana akan seketika meradang dan kmebali mengingat kejahatan arga padanya


"Apa mungkin?"


"Tidak... Arga tak akan berani melakukan itu pada adikku," jawab Hans meski ia dalam ketakutan yang sama.

__ADS_1


Fikiran Hans mulai berat ketika telah tiba dirumahnya. Ia kembali memikirkan Hana, dimana dan sedang apa saat ini. Terlebih lagi, jika Hana benar-benar diculik oleh Hans untuk menggertaknya dan memanfaatkan Hana sebagai alat balas dendam padanya.


"Tidak mungkin kau, Ga. Kau tak akan pernah punya nyali melakukan itu, apalagi sofi ada ditanganku." gumam Hans dalam hati, seakan Arga masih begitu mengharapkan sofi hingga hari ini. Hans juga masih menganggap arga begitu lemah, dan tak berani melawannya sebagai yang terkuat diantara mereka


"Ya, siapa lagi yang terkuat? Itu aku, Hans Handoyo. Pemilik Rumah Sakit pelita dengan segala kekayaan didalamnya," bangga HAns pada dirinya sendiri. Namun, kebanggaan itu seketika buyar ketika seseorang menelponnya detik itu juga.


"****!! Kenapa dia menghubungi disaat seperti ini?" geram Hans menatap layar hpnya. Ia segera pergi kekamar mandi untuk diam-diam menjawab panggilan yang masuk darinya.


"Tuan?" panggil Hans dengan segala rasa hormatnya.


"Ada kabar mengatakan Hana hilang?"


"Ah... Itu, hanya kesalah pahaman saja. Biasa, Hana itu masih terlalu labil jadi masih susah untuk dinasehati." kilah Hans padanya.

__ADS_1


"Kau tahu Hans? Ini sudah dekat dengan waktunya, untuk aku bertemu dengan Hana."


Pria itu tengah menagih janji, bahwa Hans akan memberikan Hana padanya dengan semua imbalan besar yang akan pria itu berikan untuk Hans darinya. Pria itu juga sudah terlanjur menyukai Hana selama ini, tapi sayang hanya dia yang tahu hana dan hana sama sekali tak pernah tahu akan dirinya bahkan dengan perjodohan yang sang kakak atur untuknya.


__ADS_2