
Hana menangis sendirian didalam sana. Ia kembali dengan segala rasa kecewa yang ada dihatinya, membayangkan orang yang paling ia sanjung dan ia percaya rupanya tak sebaik apa yang ia kira.
“Kaka hans jahat… Ka khans jahat! Hana benci kakak!!”
Ia mengamuk didalam sebuah ruangan yang amat gelap dan pengap itu, merutuki kebodohannya sendiri disana. Ia saat itu hamper tak percaya dengan ucapan arga karena kepercayaan terhadap sang kakak yang terlalu berlebihan. Tapi ia menyesal, dan bahkan nayris percaya dengan arga tentang semua cerita mengenai kakaknya.
“Kak arga, maafin hana” Ia masih menangis diluar sana.
Hana tak tahu, apakah hans sudah pergi dari sana atau belum. Hana juga tak tahum Sudah berapa lama ia terjebak didalam sana sendirian dalam kegelapan, yang ia sendiri bahkan takut melangkah hanya untuk mencari sumber cahaya disekitar sana. Ia juga tak memiliki hp, karena tadi ia kembalikan pada arga saat izin keluar dari ruangannya. Saat itu ia hanya bisa meringkuk menunggu keajaiban hingga arga menemukannya.
Hana saat itu Lelah, dan bahkan merebahkan diri dan meringkuk tanpa alas disana merenungi nasibnya. Hans jahat, itu yang selalu ia sebutkan dalam keadaan setenagh sadarnya. Padahal itu hanya satu, dan belum ditambah kejahatan hans yang lainnya yang belum ia ketahui sama sekali.
Arga terus mencarinya bahkan hingga ke markas bawah tanah mereka. Ia sempat lupa, jika cincin yang hana pakai saat itu mengandung pelacak hingga hana tak akan bisa pergi jauh darinya.
“Zacky, keruang senjata!” titah arga. Dan zacky saat itu langsung berlari dan menghampirinya.
Titiknya disana, dan arga dapat merasakan hana terjebak didalamnya. Sayangnya pintu itu terkunci dari dalam dan zacky berusaha membukanya dengan semua alat yang ada. Namun arga tak sabar, ia memejamkan mata sejenak lalu memberikan sebuah tendangan kuat hingga pintunya terbuka.
Arga segera menyalakan hp dan mencari kontak disana untuk menyalakan lampunya. Dan benar saja, jika hana tengah terbaring lemah disana seakan kehabisan tenaga. Arga segera meraih tubu hana dan ingin membopongnya, tapi hana justru berbisik agar arga menggendongnya dibelakang seperti ketika mereka bermain dulu ditaman.
__ADS_1
“Kau masih sadar?” tanya arga, dan hana hanya menganggukkan kepalanya lemah padanya.
Arga kemudian mengendong hana sesuai permintaannya. Ia segera berjalan cepat membawa hana kedalam ruangan dan menidurkannya disofa dan tak melepaskan genggaman tanganya. Mereka menunggu dokter untuk segere mengani hana saat ini.
Sementara itu, seorang yang menjadi suruhan arga sudah bergerak untuk mendekati sofi. Ia datang dan membara beberapa bukti yang telah ia dapat saat ini agar sofi melihatnya dengan seksama. Itu saja beda dari apa yang diberikan oleh arga padanya.
Jika bukti dari pria itu saja sebanyak ini, ditambah dengan bukti yang arga miliki, semuanya sudah benar-benar bisa membawa hans menjadi tersangka komplotan penjual organ manusia bersama Rumah sakit yang tengah mereka Kelola.
“Jadi memang Lembaga yang dibuat itu, hanya manipulasi?” tanya sofi dan masih begitu gamang dengan segala yang ada
“Ya, hanya manipulasi. Pada kenyataanya, mereka menjual semua itu untuk keperluan pribadi hingga mereka tak akan ditanya jika ada pasien pulang dalam keadaan organ tubuh yang tak utuh,” terangnya. Tapi masih harus mencari beberapa bukti lain, yang menunjukkan jika Thomas memang terlibat dari semua masalah yang ada diantara mereka.
Ingin rasanya sofi melempar semua yang ada ditangannya saat itu. Rasa sakit dan kecewa yang datang padanya seakan tanpa jeda, seperti ia memang tengah mendapat karma dari arga.
“Dan, anda apa tak pernah tahu, jika yang membunuh ayah anda sebenarnya adalah pria yang menjadi suami anda sendiri?”
Jika sofi bilang belum, maka ia memiliki rekaman video ketika semua itu terjadi dan sebelum arga datang. Tapi, sofi menolak untuk melihat semua saat ini. Ia takut tak lagi bisa menahan emosi, hingga membuat semua rancana arga berantakan.
Ya, meski tak tahu apa rencana itu, tapi sofi seakan telah mendukung semua rencana mereka untuk suami dan komplotannya. Ia hanya ingin mencari tahu pada arga apa rencana dia sebenarnya untuk mereka.
__ADS_1
“Sudah,” lirih sofi dengan suaranya yang tertahan. Meminum air sebanyak apapun, rasanya masih amat sulit melegakan tenggorokannya saat ini. Tercekat, perih, dan sakit hingga ke ulu dadanya.
Sofi sudah tak tahan lagi. Ia kemudian meraih tasnya dan segera pergi dari ruangan itu dengan airmatanya yang tertahan. Ia memangil taxi yang mangkal didepan Rumah sakitnya, dan meminta agar membawanya kesuatu tempat, yang tak lain adalah makam ayahnya.
Disana sofi menangis sejadi-jadinya. Ia meluapkan segala perasaannya lagi, dan bahkan ia meminta maaf dengan sang ayah disana meski sudah sangat telat waktunya setelah sekian tahun dengan segala prasangka yang ada. Andai sang ayah masih bisa sebentar saja menunggu waktu hingga ia tiba, pasti semuanya tak akan seperti ini.
Namun, sesal tak dapat terelakkan, semuanya sudah terjadi dan begitu menyakitkan hati. Lepas dari masalah arga, sofi telah menikahi seorang criminal saat ini dan bahkan bisa disebut sebagai psikopat yang tak kenal takut. Jika sofi tak hati-hati dengan langkahnya sendiri, bisa jadi ia yang akan jadi korban mereka sebentar lagi.
Rumah sakit, dan semua milik sofi yang sempat ia percayakan, harus ia lindungi sejak saat ini agar tak lagi bisa dimanfaatkan oleh hans diluar sana. Itu harta milik ayahnya, ia tak perduli bagaimana hartanya sendiri atau semua yang hans berikan untuknya. Bahkan ia bingung, bagaimana caranya untuk meminta maaf dengan arga saat ini dengan semua kesalahpahaman fatal yang ada.
“Harus bangkit, sofi. Kau harus bangkit dan lawan mereka semua meski harus membelot bersama arga. Ini bukan hanya dirimu dan dia, tapi semuanya yang akan menjadi korban setelah ini. Dan semua harus dihentikan hingga tak muncul korban lebih banyak nanti.” Sofi mengusap air matanya, ia bangkit dari makam sang ayah dan pergi dari sana.
Entah kemana, ia juga takt ahu. Tapi ia sendiri belum siap untuk kembali bertemu dengan arga, ia harus menyiapkan mentalnya untuk itu semua yang bahkan ia mungkin akan mengemis padanya untuk segera bertemu dengan hana untuk sekedar melepas kerinduannya selama ini.
Berjalan saja lunglai, tapi ia harus tetap kuat setidaknya hingga ia tiba pada taxi yang telah menunggunya sejak tadi. kemudian ia masuk, dan duduk bersandar lemah mengusap air matanya.
"Kemana, Nyonya?"
"Jalan saja dulu, aku juga tak tahu akan kemana."
__ADS_1