
“Hana? Hana bangun, sayang. Bukalah matamu,” bujuk arga dengan terus menggenggam tangan sang istri. Bahkan ia mengecupnya agar hana segeea membuka matanya.
Saat itu semua melihat, bertapa khawatir arga pada istri tercinta, apalagi zacky yang ikut bahagia ketika arga sudah bisa menunjukkan rasa cintanya pada hana. Zacky mengoles minyak kayu putih dihidung hana agar segera sadar dari pingsannya.
Tangan hana mulai terasa menguat menggenggam tangan arga saat itu. Napasnya mulai teedengar normal, lalu sedikit menghela dalam-dalam hingga akhirnya ia dapat membuka matanya. "Kak arga," lirih hana menyebutkan nama suaminya.
"Ya, Sayang? Kau sudah bangun?" tanya arga sembari mengecup tangannya. Saat itu memang hana tengah sakit hati dengan sang kakak, tapi rasanya sakit itu menjadi sebuah berkah ketika arga mulai tampak memberi cinta untuknya. Ia tersenyu,, begitu bahagia dengan panggilan yang arga berikan padanya.
Hana kemudian membangunkan tubuh, ia berusaha duduk dibantu arga yang selalu siaga padanya. Hana diam hingga beberapa saat, tapi ia juga tak tahu memikirkan apa saat ini. Hingga akhirnya ia meminta arga mengantarnya untuk pulang. Tapi arga, dan ia tak mau yang lain mewakilinya atau menyupir untuk mereka. Dan saat itu arga langsung menurutinya, dan ia menitip club pada zacky serta yang lain.
Arga kemudian membungkuk, menggendong hana lagi seperti yang tadi hingga rampai di mobil. Ia segera menyalakan dan memulai perjalanan, yang saat itu juga hana masih bertahan untuk diam.
"Kak arga tahu, jika kak hans suka ke club?" tanya hana padanya.
"Zacky yang tahu. Katanya dia mencarimu, tapi justru tersangkut dengan Ina. Maaf, aku merahasiakannya demi_..."
"Apalagi, Kak? Kejahatan apa lagi yang kak hans lakukan diluar sana, dan hana tak tahu semuanya." tanya hana, dan nadanya sedikit menuntut untuk segera mendapat semua jawaban dengan sejelas-jelasnya.
Arga saat itu diam. Hana baru sadar dari pingsan dan ia tak mau membuatnya pingsan lebih parah lagi saat ini, dan ia hanya menggenggam tangan hana hingga tiba ke mansion mereka. Sampai, dan hana turun sendiri berjalan kaki hingga tiba dikamar keduanya. Arga menyusulnya, dan mereka duduk bersama diatas ranjang besar keduanya. Tempat dimana mereka sering menumbuhkan rasa cinta.
"Sofi tahu semua ini," ucap arga padanya.
"Kakak bertemu dengan dia? Kapan?"
"Kemarin dia datang padaku, ke club." jujur arga, dan saat itu hana mengepalkan tangannya mere mas seprai yang ada disana sekuat tenaga. Bahkan ia memiliki rasa cemburu pada sifi ketika mereka diam-diam bertemu dibelakang tanpa sepengetahuan dirinya.
__ADS_1
"Kami tak melakukan apapun,"
"Hana ngga perlu tahu," jawabnya singkat. Hatinya begitu perih saat ini, Ia merasa seperti manusia paling bodoh diantara mereka yang tak tahu apa-apa.
Arga menghela napas panjangnya. Ia masih bingung harus memulai darimana mengenai ini seua. Hana memang tahu masalah balas dendam itu, tapi seua lebih rumit dari sekedar balas dendam yang ada diantara mereka.
"Liska?" tanya Hana, yang menangkap kebingungan arga padanya. Ia bicara tetang liska yang pernah menceritakan kisah perih yang Ia alami, kabur dari gerombolan penculik dan penjual organ. Untung saja liska tak keceplosan dan langsung menyebut nama hans sebagai pelaku utamanya saat itu
"Ya, dia slaah satu korban kakakmu." jujur arga padanya, karena memang semua tak dapat lagi disembunyikan oleh arga.
Bak petir menyambar di siang hari. Jantung hana terasa sesak saat ini, napasnya berat, dan semua tubuhnya gemetaran mendengar ucapan dari arga. Baru mengenai perselingkuhan saja hana sudah menganggap kakaknya kejam, apalagi masalah ini? Hana merasa kakak yang selama ini ia banggakan didepan arga adalah seorang iblis berkedok malaikat. Ia menyesal telah begitu membanggakan dirinya pada semua orang yang ia kenal selama ini.
"Dan yang dihotel saat itu, kemungkinan adalah korban dari hans dan gerombolannya." jawab arga yang kembali memberikan fakta.
"Jadi, uang yang selama ini ia pakai untuk sekolah hana itu?"
Hana yang kembali terluka, kemudian berbaring menaruh kepala di paha arga. Ia kehabisan kata-kata, bahkan ia tak dapat berfikir apa-apa saat ini dengan semua isi kepala yang carut marut dengan segala rasa kecewa. Kecewanya sofi dan hana sama. Tapi sofi lebih emrasa beruntung karena dibalik ini semua ia mendapat cinta arga. Sedangkan sofi? Pasti rasa sakit itu Dua kali lipat dari yang ia rasakan saat ini.
"Maafin hana... Hana kira, kejahatan kak hans hanya sampai [ada pembunuhan dan fitnah itu saja. Ternyata engga. Hanya menyesal ketika pernah berfikir bahwa kakak tak seharusnya membuat hana seperti ini hanya karena kak hans yang masih bisa dimaafkan."
"Hana harus apa? Apakah hana bisa membantu semua rencana?"
Mendengar ucapan hana itu, arga seketika mengangkat tubuh hana. Ia membawa hana duduk diatas pangkuannya dan menatap wajah sendu sang istri bahkkan mengusap air matanya. Keinginan menggunakan hana sebagai akat balas dendam itu memang sudah hilang, dan ia ingin melindungi hana untuk sekarang ini.
"Aku hanya ingin mengumpulkan semua buktinya. Sofi juga begitu karena ia juga ingin melindungi Rumah sakit sang ayah yang dikelola suaminya saat ini. Ia tak ingin Rumah sakit yang mereka buat itu hancur hanya karena kesalahan segelintir orang yang menyalahgunakakan kekuasaannya untuk pribadi."
__ADS_1
"Kalian kerjasama, nanti deket lagi." cemburu hana padanya. Wajah itu begitu menggemaskan bagi arga, melihat sang istri yang bahkan cemburu dengan kakak iparnya sendiri.
"Kau cemburu?" Arga memberikan senyumnya saat itu. Tapi hana menggelengkan kepala, menunjuk-nunjuk dada arga dengan jari-jari lentiknya. Bibirnya mengatup, sesekali ia memainkannya hingga memerah.
"Bohong. Kau cemburu? Bilang saja?" goda arga padanya.
"Kalian bahkan udah hampir menikah loh. Ketemu lagi, dan_..."
"Aku punya kau," colek arga para bibir merah istrinya.
"Ngga jadi alas balas denda lagi? Jadinya apa?"
"Jadi alat pemuas dahaga," tatap serius arga sembari memainkan alisnya yang tebal dan begitu indah bagi hana.
Hana yang tersipu malu langsung menyembunyikan wajahnya di leher arga. Ia tersenyum sendiri disana tanpa mau arga melihatnya,. Pelukannya begitu erat pada pria itu, seakan sudah amat enggan melepasnya meski sebentar saja. Bahkan sesekali menghirup aroma maskulin yang kental dan ia sukai dari suaminya itu.
"Jangan mancing, Hana."
"Engga, Hana cuma mau cium ini aja."
"Itu termasuk areas sensitif bagi laki-laki," balas arga, tapi hana tak mau mendengar dan terus melakukan hal yang sama terus menerus disana.
Sementara itu di mall, saat itu hans benar-benar tengah memanjakan gadisnya. Seakan tak takut ketahuan, karena sofi pasti saat ini tengah sibuk dengan segala pekerjaan yang ada. Bahkan jika memang sofi tahu, si pejantan tangguh itu telah mempersiapkan jawaban dan alasan untuk sofi agar kembali percaya padanya.
Padahal, tanpa ia duga sebenarnya sofi tengah melihat kemesraan mereka berdua dari sisi lain tempat yang mereka datangi saat ini. Sofi tengah duduk disebuah cafe dengan dengan segelas kopi ditangannya, dan ia menatap mereka berdua dengan begitu santai disana.
__ADS_1
"Kau tahu, Mas? Bahkan sedikitpun tak ada rasa kecewa dihati ini melihat kalian bersama. Apa artinya aku sudah ikhlas? Atau hanya karena masalah ini hanya sepotong kecil dari semua kesalahan yang kamu buat selama ini?" ucap sofi dengan wajah datarnya. Ia yang baru saja meluapkan segala amarah dimakam sang ayah, saat rasanya begitu lega dan tak lagi memberatkan semua yang ada dalam fikirannya.