
Sofi terduduk lemas disofa. Ia meengerutkan dahu dan terus memijatinya, berharap sakit kepala yang ia derita bisa lebih ringan dari
yang sebelumnya. Namun, itu semua taka ada hasilnya. Sakitnya masih terasa dan
begitu sulit untuk ia hilangkan, aplaagi selalu terngiang bayangan hans dan arga. Itu masih belum fikirannya tentang hana.
“Kenapa mereka semua? Apakah tak ada lelaki yang dapat dipercaya didunia ini?” gera sofi melempar bantal yang ia pangku saat itu.
Bahkan, nyaris saja terkena oleh hans yang baru masuk kerumah.
“Hey, sayang… Kau kenapa?” tanya hans dengan begitu manis padanya.
Sofi yang melihatnya datang saat itu, ingin sekali langsung menyerang suaminya. Ingin memukul, menjambak, mencakar wajahnya yang tampan hingga berantakan untuk meluapkan segala emosi yang ada. Tapi itu ta kia lakukan, karena untuk menghadapi yang seperti ini tak bisa dengan mudah menggunakan kekerasan. Apalagi, Rumah sakit milik ayahnya masih dibawah kepemimpinan hans saat ini.
Sofi hanya bisa menghela napas, berusaha tersenyum dan bersikap seolah ia tak tahu apa-apa saat ini. Ia kemudian menambut dan memeluk suaminya dengan sebuah kecupan hangat dipipi. Begitu rapi permainan Hans,
hingga taka da sedikitpun jejak yang tertinggal ditubuhnya saat itu.
“Kamu kenapa, sayang? Kok emosi begitu?” tanya hans dengan lembut. Tangannya melingkar dipinggang ramoing sofi, dan satunya menyibak rambut yang cukup berantakan itu.
__ADS_1
“Ngga papa, hanya rindu karena semalam tak bertemu. Apalagi, aku kan mau program hamil Mas.” Rengek manja sofi padanya.
Hans langsung meraih wajah itu agar menatap matanya, perlakukan itu begitu manis dan lembut penuh cinta. Seakan tak mungkin, jika hans menyeleweng mengkhianatinya. Namun, kenyataan berkata lain tak seperti apa
yang ia kira selama ini.
Hans mendekatkan bibirnya, berusaha menautkan keduanya tapi sofi seketika menolaknya. Ia teringat kemesraan hans dengan wanitanya, ia jijik dengan semua yang ada dalam diri hans saat ini. Apalagi jika mereka telah larut dalam permainan ranjang keduanya, pasti sofi akan terus dibayangi bagaimana ketika hans berhubungan dengan Wanita itu. Ingin rasanya sofi teriak dengan histeris membuang segala fikiran buruk yang ada.
“Sayang, hey… kau kenapa?” tanya hans, yang tak biasa ditolak oleh istrinya itu.
“Ehmm… ngga papa, mas. Cuma rasanya capek aja, mungkin efek vitamin dan suplemen yang sering aku minum. Jadi, hawanya sering capek, laper, ngantuk.” Kilah sofi pada sang suami,
“Yaudah kalau gitu, kamu istirahat dulu. Aku Cuma sebentar, kemudian mau ke Rumah sakit lagi setelah ini,”
Bahkan sofi saat itu berterus terang tentang
pencariannya pada arga di lapas. Yang saat itu kabar mengatakan bahwa arga
sudah bebas dalam waktu yang cukup lama dan lebih cepat dari seharusnya. Namun sofi
__ADS_1
tak cerita jika ia baru saja melihat arga diclub itu, karena ia tak ingin hans
tahu jika ia mengikutinya. Justru menyangkal dengan cerita hans dengan nama
arga yang ada disana.
“Dua minggu, bukan waktu yang bisa untuk membangun sebuah club sebesar itu. Tapi, membeli club besar seperti itu arga juga mana mampu. Kita
tahu sendiri, betapa hancur arga setelah menjadi tersagka.”
“Ya sayang, aku tahu. Aku menangani semuanyam bahkan tak ada yang tersisa sama sekali dari perusahaan yang arga punya. Untuk pengobatan
ibu saja, kau diam-diam menbantunya, bukan?” Hans Kembali mengingatkan tentang
semuanya. Meski juga banyak kebohongan disana..
Saat itu hana mengirimkan sejumlah uang untuk membantu ibu melalui hans yang akan ia salurkan lewat zacky. Namun uang dalam jumlah cukup besar itu tak sampai pada mereka, justru hans pakai untuk modal bisnis gelap dan bermain dengan pawa gadis diluar sana. Padahal ia mendapatkan sofi dalam keadaan ori, arga sama sekali belum menyentuhnya saat itu.
Tapi sepeti yang sering orang bilang. Jika kucing, meski disajikan wiskas didepan mata, Ia masih akan mengejar ikan asin dirumah
__ADS_1
tetangga. Mungkin itu perumpamaan yang tepat untuk hans saat itu, yang tak
pernah bisa bersyukur dengan apa yang ia dapatkan selama ini.