
"Zack... Kau keterlalun mengerjaiku!" omel arga pada sahabatnya itu.
"Lah, apanya yang keterlaluan? Aku sudha memberikan sesuai dengan request yang ada, kamar dengan pasangan yang bulan madu. Pas kan?"
"Aku meminta kamar yang biasa saja, kenapa pula bahkan.... Bahkan ada kursi Tantra di dalamnya?" geram Arga. Zack amat paham dengan kekesalan arga yang selama ini ia kenal cukupĀ polos selama hidupnya. Bahkan, polosnya itu masih ada meski sudah bergabung dengan dunia mafia dan segala isinya.
"Bukankag itu bagus? Hey, ayolah. Nikmati sedikit hidupmu, jangan terlalu kaku. Disana ada gadis yang sudah sah menjadi istrimu, tak baik jika kau mengabaikannya." bujuk Zack padanya.
Arga mengacak acak rambutnya saat ini, begitu rumit yang ia rasakan. Ia berusaha terus mengendalikan akal sehat itu, apalagi melihat Hana yang terus berkeliaran didepan mata. Ia saat ini bahkan tengah berenang dengan biki ni seksinya, memperlihatkan lekukan tubuh yang amat ranum dan indah. Bahkan kadang duduk diatas kursi tantra itu dan semakin menyakiti dirinya, terutama sesuatu yang mulai mendesak dibawah sana.
"Apa dia memang sengaja?" kesal Arga yang sudah merasa tersiksa karenanya.
Hana semakin memperlihatkan pose indahnya, duduk diatas kursi penuh lekukan itu bahkan berganti-ganti posisi disana, "Katanya kursi santai, tapi kok ngga nyaman?" tanya Hana pada arga.
__ADS_1
Namun arga berusaha tak menghiraukannya. Ia terus fokus menatap layar tab yang ada ditanganya saat ini, meski Hana beberapa kali terus berusaha memanggilnya. Bahkan Ia memasan Earphone agar tak kembali mendengar panggilan Hana padanya.
"Kakaaaak!!!" pekik Hana. Ia yang ikut kesal lalu menghampiri arga yang duduk diranjangnya. Ia membuka earphone itu hingga arga lalu mendelik kesal melihatnya. Namun, justru ternganga dengan apa yang ada didepan mata.
"Kau tak menutupnya?" tanya arga dengan spontan ketika Hana masih dengan kaca mata yang hanya menutupi buah indahnya.
"Ngga sempet, keburu kesel. Itu kenapa kursinya ngga bisa buat santai seperti yang kakak bilang? Duduk disana malah bikin pegel," omel hana dengan rengekannya. Sudah pula ia dikurung dikamar seharian, masih saja dibuat kesal dengan semua alat yang ada disana.
"Ya... Itu santai yang beda, bukan santai seperti yang kau fikirkan..." jawab Hans degan wajah gugupnya, suaranya juga tertahan saat itu. Ia bingung harus menjelaskan apa dengan hana perkara kursi yang ada.
Bahkan Arga berusaha menjelaskannya perlahan, dengan segala pengetahuan yang ada. "Kamu dokter, tapi kamu sepolos itu." omel arga padanya. Namun hana belum mengerti juga hingga membuat Arga amat kesal padanya.
"Itu kursi tantra... Itu kursi untuk pasangan saling memadu cinta, kau masih tak paham?!!"
__ADS_1
Arga merasa jengah mendengarnya. Ia sekaan sudah tersulut emosi dan diambang kesabaran yang Ia miliki, dan akhinya berdiri meraih tangan Hana menuju kursi itu. Ia duduk disana dibagian lekukannya, lalu meminta hana duduk diatasnya. Meski ragu, hana menuruti ditambah segala rasa penasaran yang ada.
Greepp!! Hana sudah duduk diatas pangkuan Arga saat ini. Keduanya sama-sama diam setelahnya, apalagi Arga yang semakin mematung dengan segala situasi yang ada.
"Abis ini ngapain?" tanya Hana dengan polosnya. Ia bahkan meraih kancing kemeja yang arga pakai, dan satu persatu ia buka hingga memperlihatkan dadanya.
"Shiiit! Kau tak sepolos yang ku kira. Kau mengerjaiku?" geram arga padanya. Tapi Hana menggelengkan kepala, karena memang Ia tak tahu apa-apa hingga sejak Arga memangku tubuhnya.
Jiwa lelaki mana yang tak bergejolak, melihat umpan indah yang ada didepan mata. Semakin Ia tahan semakin sakit rasanya sesuatu yang seakan ingin meledak dibawah sana.
"Kau ingat, aku bahkan tak serius menikahimu."
"Tapi nyatanya kita sudah suami istri, Kak. Jadi Hana juga wajib melayani Kakak seperti ucapan Kak sofi," balas Hana, meski sebenarnya ragu menyebut nama itu didepan arga.
__ADS_1