Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 28


__ADS_3

Desa han demi desa han panas mengisi ruangan yang tak luas itu. Sudah beberapa jam sejak keduanya memadu kasih dengan pertemuan yang amat singkat, peluh yang membasahi menandakan betapa panas pemainan  mereka.


"Aaaah!!!" le nguh wanita itu yang mencapai puncak untuk kesekian kalinya, begitu juga denga Hans yang menerima servis luar biasa darinya saat itu.


"Kau benar-benar luar biasa. Siapa namamu?"


"Kau bahkan sudah menikmati tubuhku selema itu, tapi kau bahkan tak tahu namaku." ucap kesal gadis yang masih duduk diatas pangkuannya itu. Sangking panas dan kuatnya permainan hingga semua cara mereka coba untuk memuaskan satu sama lain diatas ranjang kecil mereka.


"Aku Ina, panggil saja begitu. Kau sudah punya istri?" tanya Ine tatkala melihat cincin yang tersemat dijari manis Hans saat itu.


"Ya, ada. Tapi, bukankah kau akan bosan dengan satu menu yang ada dirumah? KAu harus mencari menu lain yang lebih menyenangkan diluar sana," ucap Hans yang baru tengah santai menyulut cerutunya, bahkan Ia tak segan berbagi cerutu dan asap bersama kekasih barunya itu. Dan entah yang keberapa kali ia menyeleweng dari Sofi yang begitu setia dengan cemas menunggu dirumah mereka.


"Kau memang suka datang ketempat seperti ini, untuk mencari wanita baru?" tanya Ina padanya. Dan saat itu baru Hans ingat kembali tujuan utamanya masuk kesana. Hans membuka Hp dan membuka foto Hana, Ia memperlihatkannya pada Ina.


"Beritahu aku jika kau menemukannya. Dia adikku yang sudah hilang beberapa hari ini, dan kabarnya terakhir ia masuk club ini."

__ADS_1


Ina hanya tercengang menatapnya. Bahkan meski dalam keadaan cemas saja pria itu masih bisa menyeleweng dan memperhatikan isi celananya. Tapi Ina tak merasa bersalah sama sekali, toh Ia hanya menjalankan pekerjaannya disini, dan Ia tak bisa menolak jika ada siapapun yang ingin menggunakan jasanya.


"Aku tak pernah lihat. Jika malam, aku akan menari diatas panggung sana hingga sama sekali tak bisa memperhatikan orang lain. Kadang saja, saat turun aku harus masuk kekamar untuk melayani siapapun yang menyewaku."


"Kau tak lelah?"


"Lelah... Aku bosan terus berganti-ganti pria. Tapi, siapa yang mau dengan gadis sepertiku? JIka tak kerja, aku tak akan punya uang karena tak ada yang menanggungku,." curhat Ian yang yang masih polos diatas ranjang mereka.


 Ucapan itu membuat Hans semakin gemas, Ia akhirnya meminta Ina kembali untuk mengulang permainan panas keduanya. Seakan tak kenal lelah, Hans seperti pejantan tangguh yang bisa menaklukan wanita mana saja yang Ia inginkan saat ini.


"Kakak ngga mandi? Hana pengen kepantai," rengek gadis itu pada suaminya.


"Aku tak mau.... Aku lebih nyaman disini daripada keluar dan bertemu orang banyak. Lgipula, mereka akan melihat dan akan menemukanmu nanti,"


"Siapa? Kak sofi? Mereka tahu darimana Hana ada disini."

__ADS_1


"Mana ku tahu, mereka bisa menemukanmu dimana saja. Anak buah Hans banyak," jawab ketus arga, sembari membaca koran terbaliknya.


"Terus, kita mau ngapain disini? Hana tahunya, bulan madu itu jalan-jalan. Kalau ngga jalan, mau ngapain dikamar?" lesu hana yang langsung membaringkan tubuhnya. Ia merengek seperti anak kecil yang dikurung seharian dirumah, seakan Ia tak sadar jika masih mengenakan kimono saat ini karena baru saja mandi.


"Kaaaaak!" panggil Hana yang justru merangkak menghampiri arga ditempatnya.


"Jangan... Menggodaku Hana. Aku tak akan bisa berhenti jika_... "


"Jika apa?" tatap Hana, meraih pundak Arga dan memijitnya. Tanpa sadar Arga bergidik geli sampai beberapa kali menggeliat dibuatnya.


"Hana, sudahlah... Nanti kau akan_..."


"Apa sih? Orang cuma pijitin doang," tepuk Hana dipundak itu dengan wajah kesalnya. Ia lalu beralih, mengganti pakaian didepan arga dengan percaya dirinya.


Padahal Hana hanya ingat ucapan Kaka sofinya. BAhwa sebagaimanapun suaminya nanti, Hana harus melayani suami dengan sebaik-baiknya. Meski Hana belum paham, pelayanan apa yang diaksud saat itu.

__ADS_1


__ADS_2