
Hari ini Arga memaksa Hana untuk segera meninggalkan hotel tempat mereka menginap saat ini meski hana terus merengek dan menolak karena belum puas dengan acara bulan madu mereka saat ini.
"Ayolah, pekerjaanku banyak sekali saat ini." bujuk Arga yang sudah rapi dengan kemeja hitamnya. Sementara hana masih bertahan tidur diranjang besar mereka.
"Hana ngga mau pulang ke mansion,"
"Kau ingin tetap disini? Silahkan, tapi aku juga tak akan kemari lagi."
Hana kemudian menyibakkan selimutnya. Lingerie indah yang ia pakai lantas memperlihatkan lekuk tubuh indah yang bahkan sengaja tak memakai bra nya disana.
"Kalau di mansion ngga bebas. Kakak terlalu formal disana, buktinya kakak menyentuh hana disini." peluknya pada arga dari belakang.
Pria itu sedikit menoleh dan menatap Hana. "Sudah ku bilang, itu hanya akan sekali dan kau tak akan bisa memintanya lagi. Ganti bajumu dan pulanglah sekarang juga," titah Arga.
Hana mengunci bibirnya. Ia membuka lingerie itu disembarang tempat hingga Arga semakin leluasa bisa melihat tubuh polosnya yang bahkan banyak bekas arga disana. Ia meraih handuk dan segera masuk kamar mandi, saat itu arga segera menghela napas panjang dan menelan salivanya dengan kuat..
__ADS_1
"Astaga... Gadis itu kenapa semakin liar menggodaku?" gumam Arga, yang cukup merasakan sesuatu dibawah sana. Padahal ia sering menonton live di clubnya, namun kenapa tak seliar pesona Hana yang langsung menyerang seluruh inti tubuhnya.
Arga berusaha menepis semua rasa yang ada dan berusaha kembali fokus pada misi dendamnya. Ia yakin, Hans sudah semakin kebingungan mencari adiknya saat ini.
"Bagaimana perasaanmu, Hans? Sedih, atau ada sesuatu yang mengancam saat ini?" tanya arga dalam hati.
Ia tengah menunggu perkembangan kabar mengenai musuh bebuyutan ayahnya. Karena jika tak karena dia, Hans juga tak akan bertahan hingga sejauh ini dalam geliatnya. Bahkan anak buah itu juga sudah melaporkan jumlah kekayaan hans dengannya.
"Kau trilyuner, sama seperti aku. Kekayaanmu bertingkat berkali-kali lipat dari semua bisnis harammu itu,"
Ingin rasanya Arga segera memberitahu Hana tentang Kakaknya. Ia tahu jika Hana seperti sofi yang memiliki kemanusiaan tinggi.
"Seberapa baik Kakakmu,"
"Tumben nanya dia? Ya baiklah. Mengurus Rumah sakit dan membuat yayasan donor organ untuk para orang kurang mampu," ucap Hana yang teruz membanggakan kakaknya itu. Rasanya mual terus mendengarkan sesuatu dari jalan yang berlawanan dengan kenyataan, tapi terus ia dengar agar bisa terus mencari info darinya.
__ADS_1
Ia harus mengirim beberapa orang ke Rumah sakit itu bila perlu, agar bisa mencari tahu data mengenai pendonor organ dan penerimanya jika benar ada. Dan jika tak ada, itu bisa menjadi bukti untuk Hans nanti sementara ia mengurus orang dibelakangnya.
"Aku harus kembali pada sam dan Zack," lirihnya.
"Jadi pulang? Hana udah siap nih," tanya Hana lagi, melihat Arga lagi-lagi melamun mendiamkannya kali ini.
"Ya, jadi..." Arga meraih koper Hana dan meminta Hana membawa koper kecilnya. Hana membayangkan setidaknya seminggu mereka bersama memadu cinta berdua.
"Apa karena kasus itu kak Arga bawa hana pulang?"
"Hmmm, kasus?" kaget arga yang tengah fokus pada setirnya.
"Iya, kasus penculikan itu. Kak arga... Khawatir, sama Hana?" tanya gadis itu, berharap sangat jika Arga akan berkata iya pada pertanyaannya.
Hingga akhirnya arga benar-benar mengangguk, dan Hana langsung mengatupkan bibirnya. Ia tersenyum memainkan bibir dan jari jemarinya, lalu tak tahan untuk memeluk arga yang diam didekatnya.
__ADS_1
"Hey... Aku menyetir," sergah arga padanya. Tapi Hana menggelengkan kepala, Ia tetap seperti itu meski arga beberapa kali melepasnya.
"Terimakasih, setidaknya sudah perduli sama Hana."