
Arga mencengkram pegangan kursinya dengan kuat. Ia mengatupkan bibir dan menegangkan rahangnya saat itu,
bahkan darinya ia kendurkan karena rasanya begitu sesak. Ia kemudian bangkit dari
kursi yang ia duduki dan berjalan dengan cepat menghampiri sang istri yang sempat
tertawa terbahak-bahak dengan anak buah yang ada didekatnya.
Sreeekkk!! Arga merebut pistol itu dari tangan hana dan menarik tubunhnya. Hana kaget. Apalagi dengan
sang anak buah yang saat itu mundur seketika dari hadapan arga dan hana. Tapi ia tak merasa bersalah sama sekali. Toh, zacky yang memintanya mengajari hana saat itu.
“Kak arga?” lirih hana yang kaget melihatnya.
“Kau mau belajar menggunakan pistol??” tanya datar arga padanya, yang saat itu sudah mengambil
alih pistol yang dipegang oleh hana.
Gadis itu gugup, ia takut jika arga akan memarahinya karena berulah lagi. Namun, arga justru
meraih bahu gadis itu dan mengarahkannya fokus ke target yang ada didepan mata. Target tembak, yang pastinya hana harus mengarahkan tembakan tepat mengenai targetnya. Bahkan arga tak sungkan menjelaskan titik vital yang ada pada manusia agar bisa langsung jatuh karena tembakannya.
“Titiknya hanap paham. Hana dokter,”
“Ya… Perlahan tapi pasti, kau harus fokus pada titiknya dan mulailah menembak mereka.” Tangan kiri
arga membantu hana memegang pistolnya. Sementara tangan kanan arga merayap dari bahu turun ke lengan dan pergelangan tangan hana yang menganggur disana.
Sontak saja hana gelisah dengan setiap sentuhan arga padanya. Ia menelan saliva, tapi arga lalu berbisik padanya agar tetap fokus pada target yang ada. Bagaimana bisa fokus, jika disana arga juga terus-terusan menggoda dan memberi rangsangan padanya.
“Kak arga, jangan begini,” lirih hana yang menggigiti bibir bawahnya.
__ADS_1
“Kenapa? Kau tadi nyaman saja bersamanya. Kenapa sekarang seperti ini? Hm??” Arga bahkan
mengecupi punggung hana yang terbuka. Rasanya kaki hana seketika lunglai dibuatnya, tapi ia harus kuat didepan arga dan tak boleh kalah dengan hasratnya.
“Tembak,,,” titak arga, tapi saat itu ia juga mengecup leher hana dengan cukup kuat dengan bibirnya.
“Ta-Tapi, kak arga?”
“Tembak, Hana!! Atau aku yang menembakmu?” ancam arga padanya.
Hana dengan tangannya yang gemetar, berusaha mengangkat lagi tangan dan mencoba fokus
dengan targetnya lagi yang ada didepan sana. Perlahan ia Tarik pelatuk itu, dan dengan yakin ia menembakan pistol itu ke targetnya.
Door!!!
“Lagi,”
“Sekali lagi,
Hana!!!” pekik Arga padanya. Hingga akhirnya hana memekik, lalu menembakkan pistol
itu beberapa kali hingga tergetnya benar-benar hancur disana.
Hana menurunkan tangannya. Napasnya terengah engah dengan semua aksi menantang itu, dan bahkan
keringat mengucur deras dari dahinya. Kakinya lemas, ia lunglai dan nyaris jatuh kelantai. Untung saja arga segera menangkap pinggang hana dengan satu tangannya. Arga mengangkat paksa tubuh hana agar menghadap dengannya, hinga ia kembali menyerang bibir manis itu dengan membabi buta. Tak perduli, jika semua anak
buah melihatnya disana.
Tapi arga tak sendirian, hana yang mulai lihai dan sudah menyesuaikan diri dengan lidah arga
__ADS_1
kemudian membalasnya. Mereka kembali membara, seepertinya sudah tak akan lihat tempat lagi untuk melampiaskan Hasrat keduanya.
“Kak, mereka…” lirih hana memperingatkan arga saat itu. Arga kemudian menatap kanan kiri, ia
melihat para anak buahnya telah membuang muka darinya dan sebagaian menutup mata. Hingga akhirnya arga menggendong depan hana, dan membawa sang istri ke kamar yang tersedia disana.
Baru saja belajar menembak, dan saat ini hana harus siap menerima tembakan dari arga yang begitu dahsyat hingga mengisi seluruh tubuhnya.
“SKIP”
Hana sudah tiba dimension mereka, jek yang membawanya pulang karena arga kembali ke clubnya. Ia sadar
bagaumana kesibukan arga sebenarnya. Tapi saat ini, entah kenapa rasanya tak ingin terlalu lama jauh dari arga.
“Ah, lebay.” Cibir hana pada dirinya sendiri. Hana kemudian berjalan santai naik terus ketangga
menuju kamarnya yang ada diatas sana. Ia Lelah, setelah semua gempuran arga padanya yang seolah tanpa jeda. Seakan taka da hari esok, arga selalu ingin dan candu akan tubuh hana saat ini.
“Mulai sekarang, jangan suka pancing-pancing lagi. Capek,” lirihnya ketika mengguyur tubuh dibawah
kucuran shower dengan air dinginnya.
Sementara arga memebrsihkan diri dimarkas usai mereka ber cinta disana. Hana juga, tapi ia kurang puas karena tak bisa berlama-lama membersihkan tubuhnya.
Arga masuk ke dalam club, dan ia segera masuk ke dalam ruangannya untuk kembali bekerja. Hingga tak lama kemudian atik datang memberitahu jika sedari tadi ada tamu yang menunggunya.
“Maaf, saya ngga menelpon karena tahu Tuan sibuk. Saya meminta Wanita itu agar datang lagi sore
atau malam hari, tapi ia kekeuh menuggu tuan sampai saat ini.” Jawab atik padanya.
“Wanita? Siapa?” tanya arga padanya dengan begitu penasaran.
__ADS_1