
Usai dengan eksekusi itu, mereka yang lelah kemudian mencari hiburan. Hans yang begitu candu dengan tubuh Ina kemudian menelponnya, dan Ia meminta Ina bersiap untuk segera menjemputnya setelah ini. Ina disana langsung bersemangat segera mempersiapkan diri. Tak lupa, Ia memberitahu Zacky mengenai panggilan Hans padanya.
"Kau yakin mau kesana?" tanya Zacky yang cukup mencemaskannya saat itu.
"Tak apa. Aku akan baik-baik saja disana karena dia tak akan melukaiku," jawab Ina dengan yakin padanya. Asal tak ada sesuatu yang mencurigakan dan Ina dapat melayani Hans sepuasnya, pasti semua akan baik-baik saja.
"Aku akan memberi semua informasi apapun yang ku temukan padamu," ucap Ina padanya.
Zacky disana hanya bisa menganggukkan kepala dan memberi dukungan padanya. Itu semua rencana mereka untuk arga dan Hana, setidaknya agar sofi dapat mengetahui tingkah yang suami yang sebenarnya dibelakang sana.
Ina pun pergi usai menutup teleponya pada zacky, yang bahkan ia juga menghapus riwayat panggilannya saat itu. Ia juga pamit pada Arga yang masih ada disana untuk paggilannya, dan zacky membantu Ia menyamarkan nama pria yang memesannya agar arga tak curiga pada rencana mereka.
__ADS_1
"Panggil jika ada apa-apa. Ingat, kau adalah tanggung jawabku." ujar Arga dengan begitu dingin padanya. Ia sama sekali tak melirik meski Ina begitu minim berpakaian didepan matanya saat itu, toh Ina memang tengah bekerja saat ini.
Diluar sana, Hans sudah menunggu wanita itu di dalam mobilnya. Ia masuk, dan Hans segera menyerang bibirnya dengan brutal seolah tak mampu lagi menahan bi ra hinya saat itu. Tanganyya bahkan langsung bergerilya di dada ina yang padat, seperti bola karet kenyal yang menyenangkan ketika dimainkan.
"Eeh, ngga boleh gini, bahaya." tegur Ina dengan amat lembut padanya. Ia membalas ciuman arga dan melepas tangan besar itu dari tubuhnya.
Hans hanya bisa pasrah dengan penolakan sementara itu. Tapi Ia yakin bahwa Ina akan melayaninya dengan begitu memuaskan, dan malam ini akan begitu panas bagi keduanya.
"Tidak, tapi kesebuah tempat. Mereka mengajak beberapa wanita untuk menjamuku disana, tapi aku hanya ingin kau saja. Aku sudah begitu candu denganmu," goda Hans dengan begitu manja.
Ina memang profesional dengan pekerjaannya, tapi Ia akan selalu ingat tugasnya untuk arga. Dan saat ini, Ia dibawa kerumah tua itu oleh Hans, Ia bahkan ternganga dan sedikit ngeri melihatnya.
__ADS_1
"Kenapa bawa kesini? Masa iya kita main di_... Apa enaknya?" omel Ina padanya, meski masih dengan begitu manja. Ia merayu hans, agar pergi dari sana dan menyewakan sebuah hotel untuk permaianan panas mereka malam ini. Hotel yang indah dan mewah, dengan pemandangan yang cantik untuk mereka berdua nikamti.
"Hey, ini tak seburuk yang kau kira. Di dalam juga tak kalah suasananya dengan hotel mewah," bujuk Hans yang kemudian menggendongnya masuk ala pangntin baru.
Namun, meski mewa didalamnya Ina juga merasakan sesautu yang aneh disana. Suasanya begitu seram, dan Ia mencium bau anyir darah dimana-mana. Belum lagi, dengan bentung ruangan aneh yang baru saja ia lewati, dan beberapa kamar dilengkapi jeruji besi. Ia bahkan amat takut, jika Ia akan dikurung setelah ini.
"Kok, kamarnya begitu, Mas?" tanya Ina yang amat penasaran.
"Tak apa. Itu hanya ruangan iseng untuk menghukum pembangkang," jawab Hans yang tak henti terus mempermainkan tubuh Ina selama perjalanan mereka. Hingga keduanya tiba disebuah tempat, dimana para pasangan sudah berkumpul disana. Yang jelas, mereka bukan pasangan sah yang berhubungan setelah menikah.
"Apa kita akan bermain ramai-ramai disini? Kenapa mengerikan sekaali?" Tubuh Ina kembali merinding dibuatnya.
__ADS_1