
Hana menggandeng
mesra tangan suaminya ketika masuk ke dalam club. Meski masih pagi, tapi
terdengar jelas dentuman music yang ada disana dan hana begitu menikmatinya sebagai
gadis yang juga biasa berdugem ria bersama temen-temanya.
Mereka disambut
oleh para penjaga disana, yang langsung menundukkan kepala untuk keduanya. Arga
mengangguk, lalu meraih kepala hana untuk ikut mengangguk pada mereka semua. Dan
meski kaget, hana kemudian melakukannya.
“Kau ini,”
“Iya, maaf. Hana kelepasan.
Namanya juga udah lama ngga keluar, dikurung dikamar mulu.” Tukas hana pada suaminya.
Mereka yang disana
hanya mengatupkan bibir mendengar semuanya, bahkan menahan tawa karena lucu
dengan tingkah mereka berdua saat ini.
Arga kemudian menggandeng
tangan istrinya untuk masuk kedalam ruangan itu, dan duduk diam disana selama
beberapa saat. Tapi, sepertinya hana sudah tak tahan denga napa yang ia dengar
saat ini. Kakinya terus bergoyang berikut dengan kepalanya, bahkan ketika
berbaring memainkan hp arga ditangannya saat itu. Hingga akhirnya hana
menyerah, memohon pada sang suami agar membiarkannya keluar sejenak untuk bermain.
“Hana ngga kemana-mana,
hana janji. Cuma mau disana sebentar aja,” rengek hana penuh rayu. Dan bahkan,
ia duduk diatas pangkuan arga dan mengusapi dadanya dengan Gerakan yang cukup
memancing saat itu.
“Begini caramu
merayuku sekarang? Kau mau aku makan saat ini juga?” tatap tajam arga padanya,
yang kemudian meraih wajah hana dengan telapak tangan besarnya itu.
“Nanti aja. Hana mau
isi tenaga, boleh?” bisiknya ditelinga arga dengan begitu sensual. Tapi,
setelah itu tanganya bergerak sedikit untuk menurunkan lengan dress yang ia pakai
hingga terbuka dan menampakkan sesuatu disana. Yang seketika arga langsung mendelik
dan menyrang ketika melihatnya.
Arga bergerilya
disana dengan waktu yang cukup lama. Bibir disisi satu dan tangan disii lainnya
dan terus bermain dengan lincah membuat hana menggeliat seperti cacing
kepanasan. Untung saja hal itu tak segera mendesak sesuatu yang ada dibawah
sana untuk bangkit dan minta untuk dituntaskan hasratnya.
“Boleh kan?” bujuk
hana lagi pada arga yang sudah selesai dengan aksinya. Arga hanya menjawab
dengan sebuah kecupan hangat dibirbirnya, lalu menganggukkan kepala.
Hana kemudian bangkit.
Dengan ceria ia turun kebawah dan duduk disebuah kursi dengan minuman yang disediaakan
__ADS_1
untuknya. Yang pasti hana tak boleh minum terlalu banyak dan bahkan mabuk saat
ini, dan mereka semua harus mengawasi hana dengan matanya yang selalu terbuka
untuk sang nyonya.
Wanita itu menikmati
semuanya, bahkan tak segan menggoyangkan kepala dan kakinya disana. Ingin bergabung
untuk bergoyang secara maksimal, tapi ia takut jika justru nanti akan ditarik
arga dan dikurung kembali didalam kamarnya.
“Nikmatin aja dulu
deh, jangan kebanyakan mau.” Gumam hana dengan minumannya.
Semakin menjelang
siang suasana semakin ramai, dan hana benar-benar menahan diri untuk tetap ditempatnya
saat ini. Dan beberapa karyawan yang tadinya mengawasi, saat ini sudah mulai
sibuk dengan kegiatanya yang lain hingga sulit fokus dengan hana saat ini.
“Ah, kebelet.” Hana
kemudia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mandi yang ada
diujung Lorong sana. Ia menuntaskan hajatnya, dan segera keluar niatnya untuk
mencari arga dan ingin tidur siang diatas pangkuannya.
Hingga ia melewati
sebuah kamar, dan itu rupanya kamar ina yang sedikit terbuka pintunya. Itu sudah
biasa sebenarnya, tapi sangat rancu jika untuk hana. Apalagi yang ada diatas tubuh
ina saat itu adalah kakak kandungnya sendiri dan mereka sangat menikmati. Dari pengamatan
ina dengan semua Gerakan sensual mereka, tampak jika keduanya sudah sangat
yang lainnya.
Hana yang syok
kembali lari kekamar mandi. Ia membasuk wajahnya beberapa kali saat itu dengan
segala rasa kecewa yang ada didalam hatinya. Ia menangis, tak menyangka jika sang kakak yang ia kira setia
dan bucin pada istrinya bisa melakukan itu semua.
“Dengan ka ina. Apa
maksudnya semua ini? Kenapa begini?” lirih hana dengan segala rasa kecewa dalam
hatinya. Dan ia juga bertanya dalam hati, apakah sofi sudah mengetahui semua ini.
Ia saja sakit, apalagi kakak iparnya itu yang tampak begitu mencintainya.
Hana memutuskan
kembali untuk keruangan arga. Ia akan mempertanyakan semua itu padanya, apakah
arga tahu jika ina dan hans itu sering bersama. Atau memang awalnya hans
mencari hana tapi terjebak oleh ina dengan kemolekan tubuhnya.
Langkah kaki itu
begitu pelan, ia kembali melewati kamar ina yang masih terbuka dan mendengar
tawa mereka disana. Ia tak perduli, dan terus berjalan melewatinya, hingga tanpa
ia sadari hans melihat hana lewa disana.
“Hana?” lirih hans
saat itu.
“Ha-hana? Hana adik
__ADS_1
kamu?” tanya ina yang ikut syok mendengarnya. Ia syok dan kaget karena hans
melihatnya, dan mendadak hana ada diclub mereka.
“Iya, itu tadi
hana. Aku paham dia, dia adikku.” Hans kemudian buru-buru keluar dari sana
meski ina berusaha untuk terus mencegahnya.
“Hana!!” panggil
hans saat itu. Hana menyadari jika hans melihatnya, tapi entah kenapa ia justru
lari dari sang kakak dan terus menghindarinya.
“Han, tunggu! Kenapa
kamu justru menghindar hana? Ini kakak. Udah lama kakak cari kamu,” panggil
hans yang terus mengikuti Langkah adiknya saat itu. Menelusuri setiap Lorong yang
ada, dan bahkan menembus kerumunan yang mulai memenuhi club mereka.
“Bohong acri hana.
Cari hana kenapa harus melipir main sama kak ina? Racau hana dalam hatinya,
yang terus berjalan dengan cepat menghindari sang kakak. Hingga ia masuk
kedalam sebuah ruangan dan bersembunyi disana sendirian.
Sementara itu ina
tak tinggal diam. Ia segera mengode yang lain agar menahan hans bertemu dengan
adiknya itu. Dan ia juga dengan cepat meminta arga untuk tak keluar karena hans
masih ada disana mencari hana.
“Istriku bahkan entah
dimana, tapi aku harus bersembunyi?”
“Tuan, maaf jika
aku teledor. Ini semua memang kesalahku, yang tak memperhatikan jika tuan datang
bersama nyonya saat ini.”
“Segera lindungi
hana,” titah arga padanya.
Ina akhirnya bisa
menangkap hans dan menenangkanya saat itu. Ia membujuk hans agar tak terkecoh denga
napa yang ia lihat barusan, karena ada seorang pelayan yang memang memiliki postur
nyaris sama dengan hana. Meski nyaris tak percaya, tapi akhirnya hans luluh
dengan ucapan dan semua bujukan ina padanya.
“Aku tahu kamu
masih mabuk. Yuk, antar aku jalan-jalan. Aku pengen shoping ditemenin kamu,
siapa tahu dujalan kita ketemu hana.” Bujuk ina dengan bibir manis yang sulit
ditolak sipejantan Tangguh itu.
Akhirnya mereka
berdua keluar, dan para penjaga disana mulai fokus mencari hana yang ketakutan
dan entah dimana.
“Cari kesetiap
suduh club ini. Jangan sampai ada satupun yang terlewat!” panik arga yang
memikirkan istrinya saat ini. Dimana, dan nyasar keruangan apa karena club itu
__ADS_1
juga begitu luas bangunannya dengan ruangan bawah tanah yang ada.