Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 66


__ADS_3

Thomas menyadari sesuatu tengah terjadi saat ini. Sofi kembali ke kantor, hana hilang, dan tahanannya pergi. Semua itu seolah saling bersahutan satu sama lain dalam fikirannya.


Wajar saja dia merasa, karena ia juga adalah anak didikan papa Dirga selama ini hingga instingnya juga terlatih dengan kuat. Jika dibandingkan arga, Thomas itu lebih berpengalaman darinya.


"Hans, kau dimana?"


"Cari hana, kenapa?"


"Kau mencarinya kemana? Kenapa tak ada perkembangan meski kau seharian tak muncul dihadapanku?!" geram thomas padanya.


Langkah hans terlalu lamban baginya yang tak sabaran, terutama dalam hal yang berhubungan dengan hana yang selalu bisa membuat darahnya mendidih seketika. Bahkan thomas menyimpan foto hana didalam dompetnya saat itu dan ia anggap sebagai yang tercinta.


"Aku... Aku mampir sebentar," jujur hans pada akhirnya.


"Menemui Ja lang itu? Apa kau gila? Aku cari Hana! Hana harus segera datang untukku!" sergahnya dengan segala emosi yang ada.


Hans hanya mengorek telinga mendengar teriakan thomas padanya. Ia salah, dan akan selalu salah meski hanya ingin menghibur diri sendiri saat ini. Ia akhirnya mengalah, dan berjanji akan kembali mencari hana secepatnya hingga mereka segera bersama.


"Kau dengan gadis malam itu? Siapa namanya?"


"Ina?" jawab hans padanya. Ia melirik ina, ia merasa takut ketika Thomas mulai mempertanyakan gadis itu padanya. Demi tuhan, hans tak akan membagi ine apalagi padanya. Yang bahkan ia akan berusaha meresmikan hubungan dengan ina, dan gadis itu hanya miliknya.


" Bisa kau bawa dia kemari?"


"Kau mau apa dengan gadisku? Jangan! Aku tak mau kau menyentuhnya. Aku tak akan rela,"

__ADS_1


"Kau mau istrimu yang ku jamah? Bukankah kau sering bilang wanita itu kaku dan sulit bergairah?"


Pertanyaan itu bernada ancaman untuk hans saat ini. Ia tak akan mau kehilangan sofi lebih dari apapun dan dibandingkan apapun  didunia ini. Dia akhirnya melirik ina, dan berusaha mengikhlaskan gadis itu pada sahabatnya.


Hans kemudian mengajak ina pulang. Hans masih bermesraaan disana dan ina terus meladeninya dengan baik. Hingga akhirnya mobil hans berbelok kearah lain dari club tempat ina bekerja.


"Kita mau kemana?" tanya ina penasaran. Tapi hans tak menjawab apa-apa, dan terus hanya bia menggoda untuk merebut perhatian dari kekasihnya saat itu.


Hingga mereka berdua tiba dirumah tua, dan hans memasukkan mobilnya kesana. Ia mulai ngeri dan mencoba menolak, tapi hans hanya meyakinkan jika semuanya baik-baik saja asal ina mau terus menuruti maunya mereka.Dan ina hanya bisa menganggukkan kepala dengan segala firasat buruk yang ada. Ia bahkan pasrah jika mereka mematikan ina saat ini sebagai ganti kehilangan mereka terhadap liska.


Mereka duduk bersama didalam sana, bersandar mesra hingga beberapa saat kemudian Thomas datang dan menemui keduanya. Saat itu, Ina mulai cemas dan gemetar melihat pria arogan didepan mata.


"Hey cantik, kau sudah lama disini?" tanya Thomas padanya. Dan saat itu Ina kaget mendengar betapa manis thomas memanggilnya.


"Ada apa?" tanya Ina dengan tatapan tajamnya. Apalagi ketika Thomas duduk disebelah dan langsung menggandeng tangannya dengan kuat seperti tak akan pernah mau melepaskannya lagi.


"Hey, Kau kenapa?" Hans mulai cemas melihat kekasihnya dibuat seperti itu. Ia tak tega melihat wajah ina yang ketakutan, padahal ina sebenarnya tak takut sama sekali pada mereka.


Thomas tak banyak bicara, Ia menyeret tubuh ina dan membawa gadis itu kesebuah kamar yang ada. Ina tak menjerit, justru hans yang begitu cemas dengan tingkah mengerikan thomas padanya.


Braakk!! Pintu Thomas tutup dengan kasar hingga mengagetkan mereka semua.


Tubuh ina dilempar ke ranjang dengan kasar, hingga Wanita itu jatuh terlentang disana dan mengusap tangan sakitnya. Thomas segera merangkak nail keranjang dan mencengkram mulut mungil itu dengan kasar, memaksa ia bicara meski ia tak sama sekali bertanya apa-apa padanya.


“Apa maumu denganku?” tanya ina kasar padanya.

__ADS_1


“Katakan, kau tahu sesuatu?”


“Aku tak tahu menahu tentang apa yang kau tanyakan padaku. Bahkan jika kau membunuhku, aku tak tahu.” Jawab tegas ina padanya.


Thomas kemudian melakukan kekerasan verbal pada tubuh Ina, dan bahkan tak segan melecehakannya. Tapi ap aitu melecehkan bagi ina, semua itu sama saja karena ia juga sudah biasa menjual dirinya pada siapapun yang sanggup membayar. Sakit ta kia rasa meski Thomas begitu kuat mencengkram seluruh bagian tubuhnya dengan begitu kasar dan tanpa jeda. Justru hans saat itu yang cemas dan menggedor pintu itu dari luar.


“Siapapun, bantu aku membuka pintu ini bagaimanapun caranya!” teriak hans saat itu pada mereka yang mungkin mendengar teriakannya. Hingga beberapa orang datang dan membantu hans mendobrak pintu besar itu untuknya.


“Ina!!” pekik Hans, ketika melihat sang kekasih terluka diatas ranjangnya, dan bahkan nyaris polos tanpa bisa menutup tubuhnya saat itu. Hans langsung meraih tubuh ina dan meraih selimut untuk menutupi tubuh ina yang terbiasa polos didepan matanya, sesayang itu hans pada ina saat ini, seakan ia telah memberikan cinta yang utuh dari hati padanya.


“Kau cinta dia?” ledek Thomas padanya saat itu.


“Kau sadis! Sebenarnya apa yang kau mau darinya? Dia gadis polos yang tak tahu apa-apa,” bela hans pada ina, yang seketika membuat Thomas tertawa sejadi-jadinya.


“Bodoh!!” Ucapab itu terlontar dari mulut busuk Thomas pada rekannya sendiri. Yang bahkan saat itu rasanya hans ingin segera menghampiri dan beradu tinju dengannya saat itum, tak perduli jika mereka akan bertentangan setelah itu.


“Atas dasar apa kau bilang aku bodoh?!!!” sergah hans yang masih fokus memeluk ina disana. Ina begitu lemah tak berdaya dengan segala pelecehan yang ia alami saat ini.


“Ya, kau bodoh! Bodoh hanya gara-gara Wanita ja lang ini. Kau bahkan tak inga tapa tujuanmu ketuka masuk kedalam club itu, dan tak mengingat siapa pemilik club yang kau datangi. Kau mabuk, Hans!!"


Tatapan Thomas begitu nyalang. IA terus mencecar hans dengans segala kebodohan yang ia lakukan saat itu, dan segala hal picik yang membuatnya lalai.


Hans kemudian mempertanyakan lagi semua itu pada ina, terutama mengenai pemiliki club itu padanya. Dan memang arga, tapi ina sama sekali tak menyebut nama lengkap arga padanya. Thomas yang geram untuk kesekian kalinya itu, lantas merampas hp ina yang ada ditasnya. Ia membuka paksa hp itu bahkan menarik kasar tangan ina untuk sidik jarinya.


Thomas menemukan galery foto, dan memang benar ada foto Zacky disana bersama ina dan teman yang lainnya. Ia memberikan semua itu pada hans, agar ia melihatnya sendiri dan mencerna dengan baik setiap slide foto yang disimpan ina dihpnya saat itu.

__ADS_1


"Kau masih ingat, dia siapa? Tak mungkin kau tak ingat, karena ia adalah salah satu sahabatmu tempo dulu. Dan ini, alasan aku mengataimu bodoh, Hans Handoyo..."


__ADS_2