
Sofi tengah menikmati makan malamnya sendirian saat ini. Ia dengan
begitu tenang menyendok setiap makanan yang terhidang diatas piringny. Ia bahkan
tak khawatir sama sekali dengan has yang tak kunjung pulang kerummahnya, meski
arga sudah mengabari mengenai ina yang meninggal barusan.
Untung saja organ tubuh ina aman didalam sana hingga arga masih bisa
sabar untuk saat ini.
Akhirnya hans pulang dengan wajah lesunya. Tapi sayang wajah lesu itu
bukan karena Lelah mencari sadiknya, melainkan wajah Lelah karena menanam benih
kesana kemari tanpa jeda dan menangisi selingkuhan yang mati didepan matanya.
Jantung sofi berdebar dengan kuat, tapi masih harus dituntut untuk
menahan diri sebentar lagi dan masih harus bisa memeluk hans sekuat hati meski
ia sebenarnya sudah tak bisa. Ia benar-benar sudah muak dengan semua tekanan
yang ada, dan ingin segera lepas dari mereka atau pergi memita perlindungan arga
jika tak ingat Rumah sakit dan semua
aset yang harus ia jaga.
Sofi bangun dari kursi, menghampiri dan segera menyambut suaminya dengan
senyum yang ramah meski harus terpaksa.
“Sayang, aku capek sekali,” manja hans pada sang istri saat itu. Kejam,
yang bahkan menangis dibahu sofi dengan air mata untuk ina, tapi ia tak merasa
bersalah sama sekali dengan semua Tindakan yang telah ia lakukan.
Sofi lantas membawanya ke kemar, lalu memandikan suami hingga
menyuapinya makan malam saat ini. Ia juga bertanya mengenai perkembangan untuk
pencarian hana, meski ia tahu jawabannya akan sama saja.
“Aku Sudah berusaha. Tapi tadi, aku seperti bertemu hana di club itu. Tapi
hana justru lari dariku,” ucap hans padanya.
“Kam uke club?” tanya sofi yang cukup membuat arga gelagapan dengan jawabannya.
Tapi bukan hans Namanya, jika ia tak menemukan alasan untuk sofi agar tenang
mendengarnya.
Hans hanya mengaku, ia kembali menelusuri tempat hana terndikasi hilang
dan bahkan melakukan penyidikian disana.
“Aku cemas, mas.”
“Kenapa, sayang?” tanya arga.
“Cemas, jika sofi rupanya diculik oleh komplotan penjual organ manusia. Bukankah,
belakangan ini marak seperti itu?” ucap sofi, dan itu cukup membuat suaminya
menelan saliva.
__ADS_1
“Kau tahu darimana ada komplotan begitu?” gaga phans saat itu.
“Ya, denger-denger aja. Marak soalnya, saat banyak hilang terus ngga
pernah ditemukan. Takutnya, mereka masuk ke dalam jaringan yang katanya donor, tapi
malah dijual demi keuntungan pribadi. Kan ngeri jadinya,” sofi semakin
memprovokasi.
Hans saat itu tak ingin mendengarnya lagi. Ia justru mengajak sofi
membicarakan hal lain diluar apa yang sofi ceritakan saat ini, bahkan hans
bertanya tentang arga.
“Kok nanya arga lagi?” tanya sofi padanya.
“Kamu ngga ad acari info, kemana arga pergi setelah ini? Atau arga siapa
saja yang mengunjunginya didalam penjara. Temen kamu kan sipir sana,”
“Iya, tapi dia udah pindah. Aku agak riskan mau nanya sampai kesana,
mas. Kenapa??” Sofi mulai mencium tanda jika hans mulai mencurigai arga saat
ini.
Hans hanya berkata seadanya, jika dalam hidupnya dan sofi hanya memiliki
satu musuh. Yaitu adalah arga yang dipenjara karena membunuh. Jadi, hans meyakinkan
sofi jika memang arga yang melakukan semuanya, menculi hana dan dijadikan
tawanan balas dendam pada mereka
“Yak an kita tahu, Mas. Dia salah kok bunuh ayah, kenapa harus dendam
mendengarnya. tenggorokannya langsung perih karena sofi juga baru saja menyuapinya
dengan sambel yang cukup pedas saat itu.
“Kenapa sih? Kaget ampe batuk gitu? “ sofi mengelap wajah suaminya yang
seketika pia situ dengan tisu yang ada disana. Hingga bersih, dan bahkan sofi
dengan isengnya mencolek hidung bangir sang suami saat itu.
Hans semakin yakin jika itu semua adlaah ulah arga dan temannya. Sayangnya
ketika mengantar jasad ina, Thomas segera
pergi dan mereka tak bisa lama hingga menunggu arga keluar dari sana. Atau minial
zacky, karena ia ingin melihat wajah sahabat karibnya itu saat ini, yang sudah
berubah menjadi musuh terbesarnya.
Sofi kemudian keluar untuk membereskan sisa makanan yang ada dibawah
sana. Ia hanya diam dan terus diam hingga kembali kekamar untuk menemani hans
tidur bersama. Ia bahkan tak menceritakan mengenai pekerjaannya jika hans tak
bertanya. Ia hanya memilih diam, karena ia benar-benar tengah mencoba untuk menahan
rasa muaknya.
Saat itu, Thomas tengah mengobrak abrik hp ina dirumahnya. Ia tengah
__ADS_1
mengecek semua isi hp itu yang kemungkinan menjadi petunjuk untuk pencariannya
mengenai hana. Tapi, belum tak sama sekali ada tanda disana yang mendukung semuanya.
“Mereka benar-benar menyembunyikan hana. Tapi dimana?” gumam Thomas saat
itu dengan segala kesibukannya. Hingga ia ingat akan masa lalunya sendiri, ia
ingat akan club dan smeua yang sempat ia tinggalkan selama sepuluh tahun ini. Ia
bahka ingat dengan ayah angkatnya yang juga tengah dipenjara, dan mereka saling
berhubungan.
Apalagi mereka juga sempat dikurung didalam penjara yang sama. Ia akan
menyelidiki apakah keduanya ada diruangan yang sama juga saat ini. Karena biar
bagaiamanapun, Thomas sudah memahami seluk beluk bisnis mereka sejak arga belum
datang kesana.
“Mansion… Apa kau disana, Hanaku?” duga Thomas dengan segala keyakinannya.
Arga malam itu juga memakamkan tubuh ina. Mereka ingin ina dimakamkan
dengan layak seperti seharusnya dengan segala penghormatan yang mereka berikan.
Bahkan club mereka tutup lebih cepat hanya demi untuk ina. Mmereka juga akan
libur beberapa hari untuk menenangkan diri saat itu, dan akan memperketat
penjagaan dari karena mereka pasti sudah mencium aroma arga disana.
“Bagaimana dengan sofi?” tanya zacky yang lagi-lagi mencemaskan Wanita itu.
“Aku akan membicarakan semuanya nanti. Saat ini, biarkan tenang dulu
karena mereka semua pasti juga tengah mencari kita.” Balas arga.
Mereka semua kembali ketempat mereka masing-masing. Beberapa anak buah
yang tinggal diclub juga kembali kesana untuk beristirahat dan membereskan
kamar hana. Tragis memang, karena hans dan ina baru saja memadu kasih dikamar
itu sejak pagi, mengajaknya pergi ketika siang, dan ina dikembalikan mati ketika
malam.
Mereka semua hanya bisa menangis disana, mengenang kebaikan ina yang selama
ini ceria dan ramah pada mereka yang anak baru disana. Bahkan tak segan berbagi
ilmu, meski ia tahu jika yang dilakukan adalah hal yang tak benar. Mereka hanya
berbagi ilmu dalam berbuat dosa. Tapi mereka hanyalah manusia yang hanya ingin
menyambung nyawa,, bagi diri sendiri atau untuk menghidupi keluarganya.
“Kak hans, sudah pulang?” Hana segera menyambutnya dengan cemas. Ia
langsung menggandeng arga dan membawa sang suami ke kamarnya.
“Mau saya buatkan teh, Tuan?” tanya liska, yang saat itu memang sudah tak
menggunakan tongkat lagi, dan mulai bisa berjalan dengan normal.
“Biarkan mia yang membuatnya, lalu antar ke kamar,” titah hana padanya. Dan
__ADS_1
saat itu, entah kenapa perasaa liska menjadi tak karuan, bahkan terasa perih
dan menyesak didada akibat penolakan hana pada bantuan yang ia tawarkan.