Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 70


__ADS_3

Sofi tengah menikmati makan malamnya sendirian saat ini. Ia dengan


begitu tenang menyendok setiap makanan yang terhidang diatas piringny. Ia bahkan


tak khawatir sama sekali dengan has yang tak kunjung pulang kerummahnya, meski


arga sudah mengabari mengenai ina yang meninggal barusan.


Untung saja organ tubuh ina aman didalam sana hingga arga masih bisa


sabar untuk saat ini.


Akhirnya hans pulang dengan wajah lesunya. Tapi sayang wajah lesu itu


bukan karena Lelah mencari sadiknya, melainkan wajah Lelah karena menanam benih


kesana kemari tanpa jeda dan menangisi selingkuhan yang mati didepan matanya.


Jantung sofi berdebar dengan kuat, tapi masih harus dituntut untuk


menahan diri sebentar lagi dan masih harus bisa memeluk hans sekuat hati meski


ia sebenarnya sudah tak bisa. Ia benar-benar sudah muak dengan semua tekanan


yang ada, dan ingin segera lepas dari mereka atau pergi memita perlindungan arga


jika tak ingat  Rumah sakit dan semua


aset yang harus ia jaga.


Sofi bangun dari kursi, menghampiri dan segera menyambut suaminya dengan


senyum yang ramah meski harus terpaksa.


“Sayang, aku capek sekali,” manja hans pada sang istri saat itu. Kejam,


yang bahkan menangis dibahu sofi dengan air mata untuk ina, tapi ia tak merasa


bersalah sama sekali dengan semua Tindakan yang telah ia lakukan.


Sofi lantas membawanya ke kemar, lalu memandikan suami hingga


menyuapinya makan malam saat ini. Ia juga bertanya mengenai perkembangan untuk


pencarian hana, meski ia tahu jawabannya akan sama saja.


“Aku Sudah berusaha. Tapi tadi, aku seperti bertemu hana di club itu. Tapi


hana justru lari dariku,” ucap hans padanya.


“Kam uke club?” tanya sofi yang cukup membuat arga gelagapan dengan jawabannya.


Tapi bukan hans Namanya, jika ia tak menemukan alasan untuk sofi agar tenang


mendengarnya.


Hans hanya mengaku, ia kembali menelusuri tempat hana terndikasi hilang


dan bahkan melakukan penyidikian disana.


“Aku cemas, mas.”


“Kenapa, sayang?” tanya arga.


“Cemas, jika sofi rupanya diculik oleh komplotan penjual organ manusia. Bukankah,


belakangan ini marak seperti itu?” ucap sofi, dan itu cukup membuat suaminya


menelan saliva.

__ADS_1


“Kau tahu darimana ada komplotan begitu?” gaga phans saat itu.


“Ya, denger-denger aja. Marak soalnya, saat banyak hilang terus ngga


pernah ditemukan. Takutnya, mereka masuk ke dalam jaringan yang katanya donor, tapi


malah dijual demi keuntungan pribadi. Kan ngeri jadinya,” sofi semakin


memprovokasi.


Hans saat itu tak ingin mendengarnya lagi. Ia justru mengajak sofi


membicarakan hal lain diluar apa yang sofi ceritakan saat ini, bahkan hans


bertanya tentang arga.


“Kok nanya arga lagi?” tanya sofi padanya.


“Kamu ngga ad acari info, kemana arga pergi setelah ini? Atau arga siapa


saja yang mengunjunginya didalam penjara. Temen kamu kan sipir sana,”


“Iya, tapi dia udah pindah. Aku agak riskan mau nanya sampai kesana,


mas. Kenapa??” Sofi mulai mencium tanda jika hans mulai mencurigai arga saat


ini.


Hans hanya berkata seadanya, jika dalam hidupnya dan sofi hanya memiliki


satu musuh. Yaitu adalah arga yang dipenjara karena membunuh. Jadi, hans meyakinkan


sofi jika memang arga yang melakukan semuanya, menculi hana dan dijadikan


tawanan balas dendam pada mereka


“Yak an kita tahu, Mas. Dia salah kok bunuh ayah, kenapa harus dendam


mendengarnya. tenggorokannya langsung perih karena sofi juga baru saja menyuapinya


dengan sambel yang cukup pedas saat itu.


“Kenapa sih? Kaget ampe batuk gitu? “ sofi mengelap wajah suaminya yang


seketika pia situ dengan tisu yang ada disana. Hingga bersih, dan bahkan sofi


dengan isengnya mencolek hidung bangir sang suami saat itu.


Hans semakin yakin jika itu semua adlaah ulah arga dan temannya. Sayangnya


ketika mengantar jasad ina,  Thomas segera


pergi dan mereka tak bisa lama hingga menunggu arga keluar dari sana. Atau minial


zacky, karena ia ingin melihat wajah sahabat karibnya itu saat ini, yang sudah


berubah menjadi musuh terbesarnya.


Sofi kemudian keluar untuk membereskan sisa makanan yang ada dibawah


sana. Ia hanya diam dan terus diam hingga kembali kekamar untuk menemani hans


tidur bersama. Ia bahkan tak menceritakan mengenai pekerjaannya jika hans tak


bertanya. Ia hanya memilih diam, karena ia benar-benar tengah mencoba untuk menahan


rasa muaknya.


Saat itu, Thomas tengah mengobrak abrik hp ina dirumahnya. Ia tengah

__ADS_1


mengecek semua isi hp itu yang kemungkinan menjadi petunjuk untuk pencariannya


mengenai hana. Tapi, belum tak sama sekali ada tanda disana yang mendukung semuanya.


“Mereka benar-benar menyembunyikan hana. Tapi dimana?” gumam Thomas saat


itu dengan segala kesibukannya. Hingga ia ingat akan masa lalunya sendiri, ia


ingat akan club dan smeua yang sempat ia tinggalkan selama sepuluh tahun ini. Ia


bahka ingat dengan ayah angkatnya yang juga tengah dipenjara, dan mereka saling


berhubungan.


Apalagi mereka juga sempat dikurung didalam penjara yang sama. Ia akan


menyelidiki apakah keduanya ada diruangan yang sama juga saat ini. Karena biar


bagaiamanapun, Thomas sudah memahami seluk beluk bisnis mereka sejak arga belum


datang kesana.


“Mansion… Apa kau disana, Hanaku?” duga Thomas dengan segala keyakinannya.


Arga malam itu juga memakamkan tubuh ina. Mereka ingin ina dimakamkan


dengan layak seperti seharusnya dengan segala penghormatan yang mereka berikan.


Bahkan club mereka tutup lebih cepat hanya demi untuk ina. Mmereka juga akan


libur beberapa hari untuk menenangkan diri saat itu, dan akan memperketat


penjagaan dari karena mereka pasti sudah mencium aroma arga disana.


“Bagaimana dengan sofi?” tanya zacky yang lagi-lagi mencemaskan Wanita itu.


“Aku akan membicarakan semuanya nanti. Saat ini, biarkan tenang dulu


karena mereka semua pasti juga tengah mencari kita.” Balas arga.


Mereka semua kembali ketempat mereka masing-masing. Beberapa anak buah


yang tinggal diclub juga kembali kesana untuk beristirahat dan membereskan


kamar hana. Tragis memang, karena hans dan ina baru saja memadu kasih dikamar


itu sejak pagi, mengajaknya pergi ketika siang, dan ina dikembalikan mati ketika


malam.


Mereka semua hanya bisa menangis disana, mengenang kebaikan ina yang selama


ini ceria dan ramah pada mereka yang anak baru disana. Bahkan tak segan berbagi


ilmu, meski ia tahu jika yang dilakukan adalah hal yang tak benar. Mereka hanya


berbagi ilmu dalam berbuat dosa. Tapi mereka hanyalah manusia yang hanya ingin


menyambung nyawa,, bagi diri sendiri atau untuk menghidupi keluarganya.


“Kak hans, sudah pulang?” Hana segera menyambutnya dengan cemas. Ia


langsung menggandeng arga dan membawa sang suami ke kamarnya.


“Mau saya buatkan teh, Tuan?” tanya liska, yang saat itu memang sudah tak


menggunakan tongkat lagi, dan mulai bisa berjalan dengan normal.


“Biarkan mia yang membuatnya, lalu antar ke kamar,” titah hana padanya. Dan

__ADS_1


saat itu, entah kenapa perasaa liska menjadi tak karuan, bahkan terasa perih


dan menyesak didada akibat penolakan hana pada bantuan yang ia tawarkan.


__ADS_2