
“Kenapa aku ngga berani, Mas? Aku mau bela adiku, yang bahkan kakak
kandungnya sendiri ngga bisa bela. Salah aku?” sergah sofi padanya.
“Durhaka kamu!”
“Ngerti artinya durhaka? Terus, gimana dengan suami yang punya simpenan
dan suka main perempuan dibelakang sana? Gimana?”
Hans segera membulatkan matanya, ia mundur perlahan dengan segala tuduhan
sofi padanya.
Hana segera memeluk sofi ketika sudah sampai dibawah, Thomas terus saja
mengejar dan meraih tangannya. Tapi, sofi menepis tangan kekar itu dari adiknya.
Hal itu sontak membuat Thomas menegang, dan langsung menatap sofi nyalang.
“Singkirkan istrimu, atau kau akan kehilangan dia untuk selamanya,” ancam
Thomas padanya.
Hans langsung menelan saliva, dan ia meraih tangan sofi untuk segera menyingkir
dari hana. Dan bukankah, sofi sempat berkata jika ia sudah menyetujui
perjodohan mereka demi Rumah sakit ayahnya. Kenapa beda lagi dengan jawaban
beberapa saat lalu ketika sofi membuat hans tenang dengan sikap pasrahnya.
“Sof, kita harus bicara.” Paksa hans yang terus menarik tangan istrinya.
Sofi terus diam, tak bergeming sama sekali dari tarikan hans padanya. Sofi juga sama sekali tak gentar,
membalas tatapan Thomas yang begitu ingin membunuhnya saat itu juga hanya
dengan satu pukulan tangan besarnya.
“Stop! Bukan hanya kalian yang perlu bicara. Tapi, hana juga.”
Hana kemudian maju melepas genggamannya pada sofi. Ia berada ditengah
mereka semua saat ini, tertunduk sejenak dan memantapkan diri. Ia meraih kancing
kemeja yang ia kenakan dan perlahan membukanya. Saat itu tatapan me sum Thomas segera
tertuju pada dada indah dan sintal yang ada ditubuh hana. Begitu indah, bahkan
nyaris meneteskan air liurnya.
Namun pemandangan mencengangkan ada disana. Saat dada hana semakin terbuka
didepan mereka, dan hanya tersisa bra dengan renda putih disana. Sebuah penampakan
yang kontras dengan kulit putih hana, hingga memperjelas warna dari tanda yang ada.
“Apa maksudmu? Siapa yang membuat ini semua?” pekik hans yang syok
dengan tanda cinta yang ada ditubuh adiknya. Masih merah, karena baru kemarin
malam itu dibuat oleh bibir arga untuknya.
“Ini, dari kak arga.” Jujur hana pada kakaknya.
Tangan Hans seketika mengepal, seluruh uratnya tampak memperlihatkan jika
ia tengah benar-benar emosi saat ini.
“Kami menikah, bahkan beberapa hari sejak hana ada disana. Hana…
Mencintai dia,” Hana dengan tegas mengucapkan itu, bahkan meski ada Thomas disana.
Bisa dibayangkan betapa marahnya pria itu saat ini, yang bahkan ia melayangkan
__ADS_1
sebuah bogeman ke rahanh hans saat itu juga.
Bugghh!! Hans langsung jatuh tersungkur dihadapan mereka semua.
“Jika kau tak lambat, makan hana akan segera ditemukan! Dan jika kau tak
mementingkan napsumu bersama Ja lang itu, maka semua tak jadi seperti ini!” Pukulan
bertubi-tubi melayang diwajah tampan hans saat itu. Kuucuran darah juga ikut mengalir
disana tapi baik sofi dan hana tak ada yang melerai keduanya.
“Thomas, STOP!!” mengulurkan tangan meminta Thomas menghentikan semua
hujaman itu unutknya. Sudah sakit dimuka, sakit pula dihatinya ketika istri dan
adik bahkann sama sekali tak mencoba untuk menolongnya. “Stop, aku mohon.” Suara
hans mulai lemah saat itu.
Thomas masih saja mengepalkan tangannya dengan darah hans disana. Tatapannya
kemudian beralih pada hana, dan ia seolah tak terima perlakuan hana padanya.
Hana fikir saat itu Thomas akan segera membawanya ke markas mereka sebagai
persembahan berikutnya, dan saat itu arga akan segera datang padanya. Namun,
rupanya perhitungan mereka salah. Thomas menarik hana dan segera menyerangnya
membabi buta, dibibir, leher dan dadanya yang sempat terbuka.
“Aku tak perduli. Aku sudah terlanjur menunggumu, dan aku akan tetap
memilikimu, Hana.” Bahkan Thomas tak perduli, jika ada sofi dan hans disana dan
terus menyerang hana dengan brutalnya.
Thomas kemudian terus mendorong tubuh hana lalu merebahkannya disofa. Ia
adiknya. Sofi sudah akan pergi, tapi hans yang tak punya hati itu terus
menariknya hingga tak bisa melangkah kesana.
“Kamu gila, Mas? Dia adikmu! Adikmu sedang dilecehkan seperti itu
didepan matamu sekarang!”
“Kamu mau mati? Thomas bukan orang yang mudah mengampuni.” Cecar hans
padanya yang masih terus menahan sakit akibat luka yang ia derita.
“Lebih baik aku mati! Aku ngga akan bisa lihat adik sendiri begini. Kakak
macam apa kamu?”
“Ini demi kebaikan kita!”
Amarah sofi memuncah mendengarnya. ia sudah tak tahan lagi dan mendorong
hans darinya. Ia pergi menghampiri dan menarik tubuh Thomas dari hana saat itu.
Hana dengan kesempatan itu segera berdiri dan membenarkan lagi kemejanya.
“Kau mau mati?!” tantang Thomas, seperti tak ada kata-kata lain yang
bisa keluar dari mulutnya saat ini. Dengan tatapan yang benar-benar lapar dengan
darah manusia seperti vampir.
“DIAM! Diam kalian semua!”
Hana berteriak sekuat tenaga, dan saat ini ia tengah memegang sebuah
pisau ditangannya.
__ADS_1
“Hana, kamu mau apa?”tanya hans yang berusaha mengangkat tubuhnya dari
lantai meski lemas dan terhuyung.
“Kalian ributin hana kan? Gimana kalau hana udah ngga ada? Kalian mau
apa?” tantangnya pada mereka.
“Hana, sayang… Jangan nekat. Nanti kakak sama siapa kalau kamu ngga ada?
Kakak sendirian ngga ada yang bela lagi,” tangis sofi melihat adik iparnya
seperti itu.
Tapi hana tak perduli. Ia jsutru menatap Thomas dengan rasa jijik dan
marahnya saat ini, apalagi pria itu benar-benar menginkannya tak perduli dengan
apapun statusnya. Ia tahu, pria seperti itu akan nekat dan akan terus melakukan
apapun demi dirinya.
“Kau mau apa??” tatap Thomas dengan penuh tantangan padanya.
“Kau fikir aku tak berani? Aku akan melakukan apa? Aku hanya akan
melindungi harga diriku saat ini,”
“Turunkan itu, atau_”
“Atau apa?” tatap hana padanya.
“Atau… Kau akan jadi korbanku selanjutnya,”
Hana tersenyum, itu yang ia inginkan sejak tadi. Karena jika begitu Thomas
akan membawanya ke markas jahanam mereka. Dan saat itu juga, Hana mendaratkan
pisau tajam itu ke pergelangan tangannya.
“HANA!!” hans memekik sekuat tenaga. Ia yang paling dekat dengan
adiknya, bahkan terkena kucuran darah yang mengalir dari arteri Hana.
Mata hana seketika meremang. Ia menatap ada arga didepan mata dan ia
langsung tersenyum padanya. Dalam hati hana saat ini, yang terpenting adalah rencana
mereka berhasil dan arga segera dapat menuntaskan semua misi yang telah direncakan.
Bruughh! Tubuh hana terjatuh lemas dengan darah yang terus mengalir di
pergelangan tangannya saat ini.
Thomas segera melepasnya sofi. Ia berlari dan menghampiri hana untuk
segera menggendongya, ia bahkan menarik sofi untuk segera keluar dari rumah itu
dan segera menolong hana dengan Tindakan medis darurat berdua karena sofi juga
seorang dokter seperti dirinya.
“Tapi, aku tak akan bawa dia ke Rumah sakit. Tidak… Karena terlalu banyak
resiko disana. Dan setelah ia sadar, kami akan menikah secepatnya.” Thomas terus
meracau didalam mobilnya, sementara sofi terus menjaga hana dibelakang sana agar
tak kehilangan darah hingga sampai ditempat mereka.
“Rencana kita berhasil, Sayang. Meskipun, kau harus mengorbankan diri
seperti ini dan menaggung rasa sakitnya. Kau tahu, jika kakak tak berharga
sepertimu dimata mereka,” gumam sofi dalam hatinya.
__ADS_1