Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 76


__ADS_3

“Kenapa aku ngga berani, Mas? Aku mau bela adiku, yang bahkan kakak


kandungnya sendiri ngga bisa bela. Salah aku?” sergah sofi padanya.


“Durhaka kamu!”


“Ngerti artinya durhaka? Terus, gimana dengan suami yang punya simpenan


dan suka main perempuan dibelakang sana? Gimana?”


Hans segera membulatkan matanya, ia mundur perlahan dengan segala tuduhan


sofi padanya.


Hana segera memeluk sofi ketika sudah sampai dibawah, Thomas terus saja


mengejar dan meraih tangannya. Tapi, sofi menepis tangan kekar itu dari adiknya.


Hal itu sontak membuat Thomas menegang, dan langsung menatap sofi nyalang.


“Singkirkan istrimu, atau kau akan kehilangan dia untuk selamanya,” ancam


Thomas padanya.


Hans langsung menelan saliva, dan ia meraih tangan sofi untuk segera menyingkir


dari hana. Dan bukankah, sofi sempat berkata jika ia sudah menyetujui


perjodohan mereka demi Rumah sakit ayahnya. Kenapa beda lagi dengan jawaban


beberapa saat lalu ketika sofi membuat hans tenang dengan sikap pasrahnya.


“Sof, kita harus bicara.” Paksa hans yang terus menarik tangan istrinya.


Sofi terus diam, tak bergeming sama sekali dari tarikan hans  padanya. Sofi juga sama sekali tak gentar,


membalas tatapan Thomas yang begitu ingin membunuhnya saat itu juga hanya


dengan satu pukulan tangan besarnya.


“Stop! Bukan hanya kalian yang perlu bicara. Tapi, hana juga.”


Hana kemudian maju melepas genggamannya pada sofi. Ia berada ditengah


mereka semua saat ini, tertunduk sejenak dan memantapkan diri. Ia meraih kancing


kemeja yang ia kenakan dan perlahan membukanya. Saat itu tatapan me sum Thomas segera


tertuju pada dada indah dan sintal yang ada ditubuh hana. Begitu indah, bahkan


nyaris meneteskan air liurnya.


Namun pemandangan mencengangkan ada disana. Saat dada hana semakin terbuka


didepan mereka, dan hanya tersisa bra dengan renda putih disana. Sebuah penampakan


yang kontras dengan kulit putih hana,  hingga memperjelas warna dari tanda yang ada.


“Apa maksudmu? Siapa yang membuat ini semua?” pekik hans yang syok


dengan tanda cinta yang ada ditubuh adiknya. Masih merah, karena baru kemarin


malam itu dibuat oleh bibir arga untuknya.


“Ini, dari kak arga.” Jujur hana pada kakaknya.


Tangan Hans seketika mengepal, seluruh uratnya tampak memperlihatkan jika


ia tengah benar-benar emosi saat ini.


“Kami menikah, bahkan beberapa hari sejak hana ada disana. Hana…


Mencintai dia,” Hana dengan tegas mengucapkan itu, bahkan meski ada Thomas disana.


Bisa dibayangkan betapa marahnya pria itu saat ini, yang bahkan ia melayangkan

__ADS_1


sebuah bogeman ke rahanh hans saat itu juga.


Bugghh!! Hans langsung jatuh tersungkur dihadapan mereka semua.


“Jika kau tak lambat, makan hana akan segera ditemukan! Dan jika kau tak


mementingkan napsumu bersama Ja lang itu, maka semua tak jadi seperti ini!” Pukulan


bertubi-tubi melayang diwajah tampan hans saat itu. Kuucuran darah juga ikut mengalir


disana tapi baik sofi dan hana tak ada yang melerai keduanya.


“Thomas, STOP!!” mengulurkan tangan meminta Thomas menghentikan semua


hujaman itu unutknya. Sudah sakit dimuka, sakit pula dihatinya ketika istri dan


adik bahkann sama sekali tak mencoba untuk menolongnya. “Stop, aku mohon.” Suara


hans mulai lemah saat itu.


Thomas masih saja mengepalkan tangannya dengan darah hans disana. Tatapannya


kemudian beralih pada hana, dan ia seolah tak terima perlakuan hana padanya.


Hana fikir saat itu Thomas akan segera membawanya ke markas mereka sebagai


persembahan berikutnya, dan saat itu arga akan segera datang padanya. Namun,


rupanya perhitungan mereka salah. Thomas menarik hana dan segera menyerangnya


membabi buta, dibibir, leher dan dadanya yang sempat terbuka.


“Aku tak perduli. Aku sudah terlanjur menunggumu, dan aku akan tetap


memilikimu, Hana.” Bahkan Thomas tak perduli, jika ada sofi dan hans disana dan


terus menyerang hana dengan brutalnya.


Thomas kemudian terus mendorong tubuh hana lalu merebahkannya disofa. Ia


adiknya. Sofi sudah akan pergi, tapi hans yang tak punya hati itu terus


menariknya hingga tak bisa melangkah kesana.


“Kamu gila, Mas? Dia adikmu! Adikmu sedang dilecehkan seperti itu


didepan matamu sekarang!”


“Kamu mau mati? Thomas bukan orang yang mudah mengampuni.” Cecar hans


padanya yang masih terus menahan sakit akibat luka yang ia derita.


“Lebih baik aku mati! Aku ngga akan bisa lihat adik sendiri begini. Kakak


macam apa kamu?”


“Ini demi kebaikan kita!”


Amarah sofi memuncah mendengarnya. ia sudah tak tahan lagi dan mendorong


hans darinya. Ia pergi menghampiri dan menarik tubuh Thomas dari hana saat itu.


Hana dengan kesempatan itu segera berdiri  dan membenarkan lagi kemejanya.


“Kau mau mati?!” tantang Thomas, seperti tak ada kata-kata lain yang


bisa keluar dari mulutnya saat ini. Dengan tatapan yang benar-benar lapar dengan


darah manusia seperti vampir.


“DIAM! Diam kalian semua!”


Hana berteriak sekuat tenaga, dan saat ini ia tengah memegang sebuah


pisau ditangannya.

__ADS_1


“Hana, kamu mau apa?”tanya hans yang berusaha mengangkat tubuhnya dari


lantai meski lemas dan terhuyung.


“Kalian ributin hana kan? Gimana kalau hana udah ngga ada? Kalian mau


apa?” tantangnya pada mereka.


“Hana, sayang… Jangan nekat. Nanti kakak sama siapa kalau kamu ngga ada?


Kakak sendirian ngga ada yang bela lagi,” tangis sofi melihat adik iparnya


seperti itu.


Tapi hana tak perduli. Ia jsutru menatap Thomas dengan rasa jijik dan


marahnya saat ini, apalagi pria itu benar-benar menginkannya tak perduli dengan


apapun statusnya. Ia tahu, pria seperti itu akan nekat dan akan terus melakukan


apapun demi dirinya.


“Kau mau apa??” tatap Thomas dengan penuh tantangan padanya.


“Kau fikir aku tak berani? Aku akan melakukan apa? Aku hanya akan


melindungi harga diriku saat ini,”


“Turunkan itu, atau_”


“Atau apa?” tatap hana padanya.


“Atau… Kau akan jadi korbanku selanjutnya,”


Hana tersenyum, itu yang ia inginkan sejak tadi. Karena jika begitu Thomas


akan membawanya ke markas jahanam mereka. Dan saat itu juga, Hana mendaratkan


pisau tajam itu ke pergelangan tangannya.


“HANA!!” hans memekik sekuat tenaga. Ia yang paling dekat dengan


adiknya, bahkan terkena kucuran darah yang mengalir dari arteri Hana.


Mata hana seketika meremang. Ia menatap ada arga didepan mata dan ia


langsung tersenyum padanya. Dalam hati hana saat ini, yang terpenting adalah rencana


mereka berhasil dan arga segera dapat menuntaskan semua misi yang telah direncakan.


Bruughh! Tubuh hana terjatuh lemas dengan darah yang terus mengalir di


pergelangan tangannya saat ini.


Thomas segera melepasnya sofi. Ia berlari dan menghampiri hana untuk


segera menggendongya, ia bahkan menarik sofi untuk segera keluar dari rumah itu


dan segera menolong hana dengan Tindakan medis darurat berdua karena sofi juga


seorang dokter seperti dirinya.


“Tapi, aku tak akan bawa dia ke Rumah sakit. Tidak… Karena terlalu banyak


resiko disana. Dan setelah ia sadar, kami akan menikah secepatnya.” Thomas terus


meracau didalam mobilnya, sementara sofi terus menjaga hana dibelakang sana agar


tak kehilangan darah hingga sampai ditempat mereka.


“Rencana kita berhasil, Sayang. Meskipun, kau harus mengorbankan diri


seperti ini dan menaggung rasa sakitnya. Kau tahu, jika kakak tak berharga


sepertimu dimata mereka,” gumam sofi dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2