
"Non, Nona..." panggil Nia yang membuyarkan khayalan Hana saat itu.
Ya, rupanya hana hanya mengkhayal akan ketulusan arga padanya. Membayangkannya saja sudah membuatnya cukup berbunga-bunga, tapi sepertinya itu akan tetap jadi khayalan semata karena arga tak akan mungkin menangis untuknya.
"Ya, Mba?" ucap Hana.
"Panggil saja Nia, kita seumuran agar tak sungkan."
"Iya, Nia... Ada apa? Maaf tadi Hana ngelamun," ucapnya sedikit tersipu malu. Untung saja Ia tak reflek menyebut nama Arga ketika terkejut tadi.
__ADS_1
"Ini susu hangatnya. Dan sini, matanya dikompres dengan air hangat supaya tak bengkak." tawar Nia.
Hana meraih susu itu dan meneguknya dengan begitu dahaga. Ia akui, memang ia sangat haus saat ini namun bingung akan meminta tolong pada siapa untuk meminta minuman disana. Ia hanya kenal Arga dan Zacky, tapi mereka begitu mengerikan saat ini.
Hana memberanikan diri mempertanyakan tentang Arga pada Nia. Kebebasannya, dan asal dari semua yang dimiliki arga saat ini darimana sebenarnya. Karena ia tahu benar, jika semua aset arga habis karena semua kerugian yang ia alami akibat kasus itu. Kasus yang arga bilang Roy sebagai dalang semuanya.
Tapi Hana masih kurang percaya, Ia masih ragu dengan tuduhan arga pada kakaknya. Selama ini mereka bershabat begitu dekat, tak mungkin kakaknya melakukan hal keji seperti itu. Dan mengani Sofi, hana kira hanya karena mereka belum berjodoh saja, karena itu memang rahasia tuhan baginya.
DI mansion itu terjaga oleh begitu banyak pengawal, dan CCTV dimana-mana juga dalam pengawasan yang ketat. Apalagi besok hari pernikahan, maka penjagaan dilakukan dua kali lipat dari hari sebelumnya. Entah butuh waktuberapa lama jika Hana ingin berlari dari kaar menuju pagar. Bahkan halamannya saja seluas lapangan golf rasanya, dan ketika Ia turun dari atas saja mungkin sudah dihadang penjaga dibawah sana.
__ADS_1
"Lagian mau ngapain? Sudah terlanjur terkurung disini. Pengen bunuh diri aja hanya khayalan semata. Mana berani hana begitu," gumamnya sendiri usai Nia pergi. Jujur saja, Hana benar-benar takjub dengan istana yang Ia tempati saat ini. Kamarnya saja begitu luas dengan ornamen yang amat cantik dan hiasan yang indah.
Kamar itu seolah tercipta dan dibuat untuk Hana, karena ia menginginkan kamar seperti ini sejak dulu dan sudah amat lama. Mungkin inilah yang dimaksud terkurung dalam sangkar emas, ketika suka tapi masih saja merasa terkekang disana dengan segala kemewahan yang ada.
"Kenapa nikahnya harus terpaksa. Hana mau kok diajakĀ nikah sama kak arga dengan cara normal. Hana emang suka kakak sejak dulu," gumam Hana dikamarnya.
Ia memeluk guling yang besar dan empuk itu, terasa begitu nyaman namun belum bisa memejamkan matanya hingga saat ini. Padahal ia sudah minum susu hangat, dan itu biasanya membuat hana tidur dengan cepat.
Ia lantas membayangkan bagaimana esok, ketika ia dipaksa menikah dengan Arga tanpa wali sebenarnya.
__ADS_1
"Apa itu sah? Terus, kak arga mau apa setelah kami menikah?" gerutu Hana dalam hati.