
Rga sudah tiba di markas. Mereka menyebutnya markas Dua, karena terbentuk setelah markas pertama ada. Markas satu tak muat lagi jika digabung dengan persenjataan yang ada, hingga dialihkan ke markas dua sebagai gudangnya.
Arga masuk, dan mereka semua memberi hormat dengan menundukkan kepalanya. Mereka sudah mengetahui arga pimpinan baru mereka dari semua kabar yang tersebar, hingga akhirnya mereka bertemu hari ini.
"Saya dengar, Anda baru saja menikah?" tanya salah seorang diantara mereka.
"Ya, baru kemarin siang." jawab Arga dengan santainya. Tapi Ia tak mengatakan untuk apa pernikahan itu, karena Ia tak ingin semua orang tahu rencananya setekah ini. Ia hanya ingin mereka fokus dengan segala pekerjaan yang ada, karena memang begitu banyak tugas yang menanti sesuai jadwalnya.
Mereka memulai semua pembahasan yang ada, membawa arga berkeliling markas untuk melihat semua persediaan senjata mereka yang kebanyakan sudah dipesan dan hanya tinggal mengantar pada pemiliknya. Bahkan mereka meminta arga yang sesekali mengirimkan barang itu melalu dermaga, itu semua dilakukan agar mempermudah perjalanan dan terhindar dari razia yang ada.
"Ya, meski sebenarnya bekingan kita juga ada. Tapu, perjalanan lewat laut ini terasa lebih aman," jawab pria bernama Dom itu.
__ADS_1
"Aku dengar, Anda ingin senjata?"
"Ya, untuk dia juga." tunjuk Arga pada Zacky yang sejak tadi diam ikut dibelakangnya.
"Aku?" tunjuk Zacky pada dirinya sendiri. Tapi Ia tak mendapat jawaban, melainkan langsung dilempar sebuah pistol oleh Dom ke arahnya. Ia memekik, Ia belum terbiasa dengan dengan benda tiu kembali gemetar saat ini.
"Dom, latih dia dan aku akan terus berkeliling di markas ini." titaha arga padanya. Seketika Zacky membulatkan mata, Ia berusaha mengejar arga tapi tubuh besar Dom mencegahnya. HIngga tak ada cara lain untuk Zacky selain pasrah pada semua kenyataan dalam hidupnya.
Sementara itu Arga berjalan menuju ruangan lain dari setiap lorong markas itu. Cukup luas sebenarnya, dengan beberapa ruangan disana yang fungsinya masing-masing. Namun mereka tak menyentuh obat-obatan terlarang, hanay fokus pada Senjata ilegal yang mereka jual beserta CLub dan kasino yang mereka miliki.
Tiba di ruang khusus, yang merupakan ruang pribadi Ayah arga kala itu. Saat ini ruangan itu beralih menjadi milik arga dengan segala isinya tanpa terkecuali, Sam yang baru datang juga membeberkan semua data dan dokumen rahasia yang tersimpan disana.
__ADS_1
"Anda ingin membacanya?" tanya Sam pada Arga.
"Dokumen mengani Cobra?" tanya Arga, karena itu fokusnya saat ini. Cobra yang kabarnya bekerja sama dengan Hans itu, menjadi sasaran utama balas dendam Arga dan ayahnya. Dan pimpinan cobra juga yang telah memfitnah ayah dirga dengan kesalahan yang tak pernah ia buat selama ini.
Sam segera meraih, lalu memberikannya pada arga. Beberapa dokumen tertulis disana, tapi arg meraih satu karena ada nama Hans disana. Dan saat itu, Sam menjelaskan semua usaha mereka berdua yang membuat mereka menginginkan Rumah sakit milik Sofi dan ayahnya.
"Penjualan organ?" kaget arga, bahkan ia merasa mual dengan semua gambar
tanpa blur yang ada didepan sana.
Semua adalah laporan dari pada detektif yang mereka kirim, dan para penyelundup yang menyamar dengan segala tugas mereka. Bisnis mereka sudah amat lama, menculik pada pemuda bahkan remaja untuk diambil organnya dan dijual dipasar gelap mereka mengatasnamakan yayasan yang mereka kelola.
__ADS_1
Bahkan dengan rayuan manisnya, Hans membujuk para pasien mau menjadi donor organ ketika tahu nyawa mereka ada diujung tanduk saat itu. Yang bahkan, pihak merekalah yang membuat diagnosa palsu dengan obat-obatan yang mereka berikan untuk memperparah penyakit mereka disana.