
Arga baru saja membuka matanya pagi ini. Ia menlirik kesampingm namun
tak ada hana disana, hingga ia ingat jika hana sedang bersama sofi. Ia hanya
bisa menghela napasnya dengan begitu panjang, tapi amat berat hingga rasanya ia
enggan sekali beranjak dari sana dan menikmati aroma hana yang masih tersisa.
“Kau tak boleh cengeng. Percuma ayah mendidikmu dengan keras jika kau
masih seperti ini,”
Arga kemudian mengangkat tubuhnya sendiri untuk beranjak ke kamar mandi. Ia tak menyiakan semua kesempatan, dan hanya tinggal menunggu kabar dari sofi untuk renacana mereka berdua hari ini. Arga yang sudah rapi itu segera turun ke bawah, tapi dasinya masih terurai panjang dileher karena ia tak bisa untuk memasangnya
sendiri.
Mereka yang ada dibawah sudah menunggu sejak tadi. Semua pasukan sudah ada disana, merka siap menerima perintah tuannya untuk menyerang kapanpun dan dimanapun mereka harus datang.
Arga saat itu begitu gagah dengan kemeja putih dan rompi hitamnya. Ia benar-benar siap untuk menjemput hana sang istri tercinta apapun resikonya. Dan dengan kesempatan itu ia juga ingin agar semuanya dapat terselesaikan dengan baik hingga tak aka nada masalah lagi dikemudian hari. Ia akan hidup damia bersama hana dan anak-anak mereka setekahnya.
“Tuan, biar saya pasangkan_”
“Panggil Mia,” tolak Arga pada liska yang menghampirinya saat itu. Membuat gadis itu seketika tertunduk dan mundur dari hadapanya, dan mia segera datang untuk merapikaan semua yang ada ditubuh arga.
Zacky juga telah mia rapikan, dengan segala keamanan yang ada.tampilan mereka nyaris sama disana. Meski mereka menyatakan diri jika tak takut mati, tapi arga meminta mereka terus memproteksi diri. Mereka memiliki keluarga, yang pasti menunggunya pulang disana.
Mereka kemudian duduk untuk sarapan bersama, dan saat itu arga mulai bertanya pada liska mengenai markas mereka. Saat itu memang liska tak ingat jelas, tapi ia memberi semua petunjuk yang terngiang dikepalanya pada arga.
“Saya melihat pohon pinus dimana-mana. Tapi, saya tak melihat ada pantai disekitar sana. Saya tak tahu, saya hanya tersasar atau memang lokasinya seperti itu.” Jelas liska.
Dan saat itu, Sam segera meraih tab untuk mencari info berbekal semua informasi dari liska. Hingga ia mendapati sebuah lokasi yang mungkin sama dan segera memperlihatkan gambarnya.
“Ini?” tanya Sam padanya, dan liska mengangguk karena memang seperti itu dalam ingatannya.
Liska datang dengan mata tertutup hingga ia tak bisa melihat jalan. Ia juga pergi terburu-buru dari kejaran
mereka semua hingga tak ingat semua yang ia lewati saat itu. Hanya selamat dan masih hidup hingga sekarang saja ia sudah amat bersyukur rasanya. Selama dikurungpun ia tak pernah bisa keluar sama sekali, ruangan juga amat tertutup dan sesak dengan ventilasi yang tinggi. Kadang merasa ia dikurung dalam sebuah kastil seperti
__ADS_1
rapuzele. Tapi setidaknya rapunzele masih bisa melihat pemandangan yang ada diluar pengurungannya.
“Kami dikurung didalam rumah tua. Tapi didalamnya cukup mewah dengansegala peralatan canggihnya. Yang kadang, kami bahkan mencium bau dari mereka yang baru saja_,”
“Uhukkk!!” Arga langsung tersedak dan serasa begitu mual mendengarnya, meski liska baru setengah berbicara tentang kondisi rumah yang ada.
“Maaf, Tuan. Saya tak akan melanjutkannya. Saya hanya terbawa suasana,” ucap liska yang kemudian memberi air putih untuk arga. Ia senang, karena setelah beberapa kali, baru sekarang arga menerima dan meminum pemberian
darinya.
Sementara itu dirumah sofi, hana baru saja mandi dan mengganti pakaiannya dengan rapi. Ia dan sofi baru saja memasak untuk sarapan mereka bersama hans disana. Mereka senang, saat itu Thomas tak ikut pulang dan menginap dirumah mereka hingga hana bisa tidur pulas tanpa gangguan dari pria yang terus saja ingin menikahinya.
Hana saat itu memakai sebuah kemeja putih, sedikit sempi dibagian dada dan ia sadar itu karena perbuatan suaminya. Ia hanya bisa tersenyum dan terus mengingat semua kenangan indah mereka. Ia lantas kelaur karena sadar jika sofi telah menunggunya bersama sang kakak disana.
“Morning,” sapa hana lalu mengecup pipi mereka berdua secara bergantian.
“Ceria sekali adik kakak pagi ini?” tanya hans padanya.
Ya, memang harus dipaksa ceria agar mereka semua tak curiga dengan rencanasofi dan arga. Namun, keceriaan mereka sirna ketika Thomas datang menghampiri mereka semua dengan senyum bahagianya. Pasti, ia akan menagih janji menikahi hana hari ini.
“Hey, sayang,” sapa Thomas pada hana, yang tak sungkan meraih bahu dan beberapa kali mengusapnya dengan mesra. Risih, tapi hana mencoba untuk tersenyum padanya.
bahkan Thomas tak berhenti memuji hana dengan masakannya. Hana hans dan Thomas yang tertawa dalam keadaan itu, tak melihat para Wanita yang ada didekatnya saat itu
begitu tersiksa.
“Aku akan mengajakmu pergi hari ini, kau mau? Tapi, memang kau harus ikut.” Pinta Thomas dengan sedikit memaksa.
“Kemana?” tanya datar hana padanya. Ia meraih segelas air putih dan meminumnya
hingga tandas, pertanda usainya sarapan saat itu.
“Membawamu fiting baju pengantin, untuk kita. Bukankah aku bilang, jika hari ini
kita akan menikah?” balas antusias Thomas padanya. Ia langsung meraih tangan hana dan terus mengecupnya dengan mesra. Rasanya ingin segera menggendong hana
dan membawanya kekamar yang ada disana. Tak perduli dengan hans dan sofi karena
__ADS_1
mereka tak akan bisa menghentikan aksinya.
Dan benar saja, Thomas yang saat itu sudah kepalang tak tahan segera membopong
tubuh hana dan membawanya pergi. Ia bahkan tahu kamar hana dan segera naik
kesana tak perduli dengan siapapun bahkan sofi yang terus berteriak melerainya.
“Lepasin! Kamu mau apa sama aku?” Hana terus memukuli Thomas agar segera
melepaskan dirinya saat itu.
“Maaf, aku sudah tak sabar untuk segera mendapatkan dan menikmatimu. Aku
bahkan sudah tak sabar untuk malam pengantin kita. Aku janji, aku akan lembut
saat ini.” Bujuk Thomas padanya.
Hana terus melawan. Tenaganya cukup kuat dan ia akhirnya berhasil turun
dari gendongan Thomas padanya. Sofi yang berlari ingin menolong, segera dicekal
oleh hans agar tak ikut campur dalam masalah mereka berdua.
“Kau tetap disini, biarkan mereka selesaikan urusannya.”
“Kau bahkan tega melihat adikmu diperlakukan kasar seperti itu? Kau Gila!”
“Berani kamu bilang aku begitu? Mau ku hajar kamu?!” sergah Hans, dan
saat itu sofi tampak membusungkan dada menantangnya.
Hans terkejut melihat perlawanan sofi, dan ia menurunkan kembali tangan
yang sempat ia angkat untuk sang istri. Wajahnya jsutru tampak gugup, seperti
tengan berfikir ia harus melakukan apa saat ini.
__ADS_1
“Kamu berani sama aku, sofi?” lirih hans, seolah kehilangan keperkasaan
ketika ditentang oleg istrinya.