
Degg!!!
Degup jantung arga terasa berdenyut begitu kuat saat ini hingga membuatnya
nyeri. Sakit, hingga ia meringis memegangi dadanya dan tak terasa air mata menetes
mebasahi pipinya.
“Hana?” lirih arga menyebut nama sang istri. Ia semakin penasaran
menunggu kabar dari sofi saat ini, hingga hp sama sekali tak lepas dari genggaman
tangannya.
“Arga, kau kenapa?” tanya Zacky padanya. Baru kali ini ia melihat sahabatnya
menangis sejak terakhir kejadian itu. Bahkan, ketika ibunya meninggal pun arga
tak sama sekali mengeluarkan air mata. Tapi dengan hana, air mata itu keluar
seketika entah bagaimana caranya.
“Entah, Zack. Aku sendiri tak tahu kenapa dia mengalir. Aku terfikir
hana disana,”
“Semoga Nyonya tak kenapa-napa, karena_”
Sreeekkk!! Tangan arga segera meraih lengan liska saat itu juga dan
memberikan tatapan tajam dengan matanya. Liska seketika tertunduk dan begitu
takut dengan tatapan itu seumur hidupnya.
“Hana bukan gadis lemah. Dia tak akan kenapa-napa sampai aku datang
menjemputnya,” tegas arga padanya. Saat itu liska hanya mengangguk dan meng’iyakan
ucapan arga. Dengan tangan yang gemetar, dan wajahnya tampak begitu pucat.
Liska kemudian ditarik mia untuk Kembali ke kamarnya dan duduk diam
disana dengan segala nasehat yang keluar dari mulutnya.
“Kamu kenapa sih, Ka? Lagi tegang, malah kamu mancing amarah tuan aja,”
kesal mia padanya.
“Maaf, aku ngga sengaja. Aku hanya tahu mereka kejam dan tanpa ampun. Itu
saja,”
“Hans itu kakak hana, dan ada bu sofi disana. Aku tahu dari zacky jika
mereka sangat menyayangi hana. Jadi, ngga mungkin mereka menyakiti adiknya
sendiri.”
__ADS_1
“Iya, maaf.” Sesal liska dengan perkataannya.
Arga disana masih diam menggenggam hpnya, masih menunggu datangnya kode
dari sofi jika mereka telah sampai disana.
Sebenarnya sudah sampai, tapi saat ini sofi masih harus fokus mengurus
hana dengan lukanya. Ia tengah ada diruangan bawah tanah rumah tua hans dan Thomas,
begitu mengerikan dipandang matanya dengan suasana hening, bahkan ada sebuah freezer
penyimpanan daging disana.
“Kau tahu itu apa?” tanya Thomas dengan tatapan tajamnya.
“Kau menyimpannya disana?”
“Ya, kau tahu. Jangan sampai, beberapa bagian tubuhmu ada disana bersama
beberapa rekan lainnya. Kau hanya harus diam, dan kunci mulutmu rapat-rapat.” Ancam Thomas padanya.
Mereka berdua tengah mengoperasi hana saat ini dengan alat yang ada. Cukup
lengkap, dan bahkan cukup bersih untuk ruangan illegal seperti itu menurutya,
mirip seperti ruangan operasi di Rumah sakit pada umumnya.
Untung saja hana juga dokter, dan ia amat mengerti bagian vital yang
akan membuatnya mati dan masih bisa untuk diselamatkan meski sulit untuk mengatasinya.
tahanan Thomas yang ada disana. Sofi belum melihat, dan bahkan rasanya tak
sabar untuk melepas mereka semua dari sana dengan tangannya sendiri.
Hampir satu jam berkutat dengan pergelangan tangan hana. Jahitan
terakhir telah sofi lakukan dan hanya tinggal membalut lukanya. Saat itu, Thomas
ia minta keluar untuk mempersiapkan kamar yang bagus untuk hana. Selain itu ia juga
akan segera memberi kode untuk arga.
“Kaluarlah. Aku akan membersihkan tubuh hana setelah ini,” pinta sofi
padanya. “Aku melihat penjagaan disini begitu ketat. Apa kau fikir aku akan
lari meninggalkan adik dan suamiku? Meski seperti itu, aku tetap istrinya.”
“Dan jika kau mencoba kabur, maka kau sendiri akan menjadi taruhannya.” Thomas
kemudian melangkahkan kaki untuk pergi dari sana. Ia melepaskan semua alat yang
terpasang dari tubuhnya, dan benar-benar meninggalkan sofi bersama hana.
Jujur saja, perasaan sofi tak karuan saat itu. Ia gemetar. Apalagi ketika
__ADS_1
ia ingin memotret beberapa bukti yang tersimpan difrezeer mereka. Dan benar
saja, isinya membuat sofi benar-benar lemas tak berdaya. Itu adalah hasil pekerjaan
mereka semalam, hanya tinggal menunggu dimasukkan ketubuh penerima yang lain
saja dan tak boleh terlalu lama.
Hana segera melakukan tugas, dan kembali pada tubuh hana setelah
sebelumnya menyalakan maps untuk arga. Tapi sofi tak memberitahukan perihal
hana. Ia takut akan mempengaruhi emosi arga dan merugikan mereka nantinya.
“Hati-hati, ga… Mereka bukan manusia,” gumam sofi yang telah selesai dengan
hana. Dan mereka membawa hana kedalam sebuah kamar, sofi menunggunya untuk control
istimewa pada adik iparya itu.
“Bagaimana hana?” tanya hans yang datang padanya.
“Bagaimana jika hana tak selamat? Perjanjian, bisnis, Rumah sakit. Apa
mereka akan selamat? Apakah kau lehga, jadi adik persembahanmu ini masih bisa mempertahankan
nyawanya?”
“Sofi_”
“Aku memafkanmu, Mas. Aku mencoba memaafkan kamu atas semua yang kamu lakukan
selama ini dibelakang aku. Aku hanya berharap, setelah ini kamu berubah dan
kita bahagia hidup bersama, bahkan dengan buah hati yang akan ada,” jujur sofi
pada akhirnya, jika ia sekarang tengah benar-benar mengandung anak mereka
berdua.
Sekarang sofi bingung. Ia harus apa dengan anak itu, yang akan lahir mungkin
tanpa ayahnya setelah kasus ini naik ke pengadilan. Dari kemungkinan yang ada,
hans mungkin akan dihukum seumur hidup atau bahkan dihukum mati setelah ini.
“Sofi… Kamu?” Hans melangkah pelan menghampiri sang istri. Ingin
memeluk, tapi sofi dengan segera menepis tangan yang mendarat dipundaknya saat
itu.
Sofi merasa menyesal, kenapa anak itu harus hadir disaat yang tak tepat
seperti ini padahal ia begitu menginginkannya. Tapi, untuk melihat dan mengakui
keberadaan ayah bayinya saja ia sudah enggan.
__ADS_1
“Apakah harus ku buang anak ini?” tanya sofi dengan tatapan kosongnya.