
Arga nenyudahi obrolan dengan koleganya itu. Mereka bersalaman, namun arga baru sadar jika Hana sudah tak ada didekatnya.
"Na?" Arga mencarinya di sekeliling ruangan itu.
"Sepertinya istri anda keluar tadi," tunjuk sang rekan dari arah pintu keluar.
Arga yang seketika cemas segera pergi usai pamit padanya. Ia berlari terus mencari Hana disekitar sana, memanggilnya dengan begitu kuat hingga hana akan mendengarnya. Namun, belum juga ia temukan meski sudah cukup jauh berjalan.
Arga meraih Hpnya, sayangnya Ia lupa jika hp hana ia hancurkan beberapa hari lalu dengan tangannya sendiri.
"Haish!!" Arga tampak mulai cemas dan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Lalu arga melihat beberapa orang pria, mengajak istrinya bicara diujung sana. Ia lantas memanggil Hana dalam keadaan kesal dan kemudian menarik lengan hana ketika sudah dekat dengannya
" Eh... Apaan?" kaget Hana, dan Dua pria itu juga ikut kaget bahkan mengeluarkan senjatanya. Dan saat itulah, Hana baru tahu jika Arga selalu membawa pistol di pinggangnya l.
"Kak... Jangan!" Hana langsung mendekat dan memeluk Arga agar Ia tak kelepasan dengan emosinya.
"Apa ini kesenanganmu? Mengganggu pria lain?"
__ADS_1
"Hana ngga ganggu, Hana justru diminta mereka balik ke kamar." terang Hana padanya.
Kedua penjaga itu menurunkan tongkat mereka ketika tahu kedua sejoli itu adalah pasangan, "Maaf, Tuan. Pasalnya saat ini sedikit genting. Ada beberapa kasus penculikan para tamu disini."
"Penculikan?" Arga memicingkan mata mendengarnya.
"Ya... Terhitung sejak setahun ini, sudah Sepuluh orang lebih hilang ketika berjalan dipantai malam hari seperti ini. Bahkan ketika malam tahun baru, Tiga orang langsung hilang ketika perayaaan besar disini."
Mereka menjelaskan yang sebenarnya terjadi, bahkan mereka bersedia ketika Arga meminta data orang hilang itu pada mereka. Hanya meminta arga waspada, dan juga pengunjung lainnya. Karena itu semua cukup merugikan tempat mereka bekerja.
Para penjaga itu membawa Arga ke pos. Bahkan gambar para orang hilang itu terpampang disana, karena ktp sempat mereka cek ketika memesan kamar.
"Kok, Kakak doain mereka mati?" tanya Hana.
"Tak ada kemungkinan lain, dan pasti mereka akan mati." Arga seakan paham kasus yang tengah dibicarakan, tapi Ia masih menjaga semua dari mereka hingga benar-benar menemukan bukti atas semuanya.
"Kak?" panggil Hana ketika arga melamun didepannya.
"Ya, sebentar." Arga mengeluarkan hp itu dan memotret semua foto yang ada. Ia juga meninggalkan nomor Zack disana, agar mereka bisa memberitahu jika ada perkembangan atau bahkan kejadian baru.
__ADS_1
"Tuan?" Salah seorang disana nelirik seperti mengenal arga, tapi Arga hanya mengedipkan mata dan meminta mereka diam didepan hana. Keduanya segera mengangguk, menundukkan kepala pertanda memberi hormat padanya.
"Kita kembali," Arga meraih tangan Hana lalu membawanya pergi. Naik, untuk langsung kembali ke kamar bulan madu ala mereka berdua.
"Tapi Hana laper,"
"Pesan makanan. Bukankah kau anak manja yang selama ini dilayani?"
"Hpnya?" tanya Hana, dan Arga segera memberikan Hp miliknya.
Hana langsung kegirangan, Ia berlari masuk ketika arga membuka pintu kamarnya. Ia segera telungkup dan mengotak atik hp itu untuk mencari makanan yang ia suka.
"Jangan banyak-banyak, aku tak selera makan malam ini." ujar arga, yang seketika ingat akan kasus Hans dan komplotannya.
"Apa benar, mereka dalang semua ini? Hans?"
"Apa sebut nama Kakak Hana? Kangen?" tanya Hana yang mengagetkan Arga disana. Padahal ia tengah fokus, tapi langsung tersentak, terbatuk hingga nenangis ketika melihat wajah hana ada didepan mata.
"Bisakah tak mengagetkanku?" sergah Arga padanya. Saat itu hana hanya bisa memanyunkan bibir dan seakan kehilangan selera bicara.
__ADS_1