
Hana mengganti pakaiannya kembali dengan yang lebih rapi. Meski Arga dan zacky belum memberitahu hana dimana keberadaan ayahnya saat ini, tapi hana begitu antusias untuk berkenalan dengannya.
"Kak?"
"Hmm?"
"Hana tahunya, ayah kakak sudah meninggal deh. Udah lama kan?" tanya Hana mengenai ayah yang dimaksud oleh arga.
"Ini ayah angkatku," jawab Arga seadanya. Hana hanya be'Oh ria, lalu mengangguk mendengar semua keterangannya. Hingga Hana tercengang ketika mobil masuk kesebuah tempat, yang Ia tahu itu adalah rumah bagi orang jahat.
"Kak, ini?"
"Ya, Ayahku disini. Dia adalah seorang penjahat seperti aku. Tapi, Dia yang paling mengerti saat aku membutuhkan orang yang bisa mendukungku," jawab Arga dengan deep voicenya.
Mobil zacky parkir ditempatnya, Arga kemudian turun tanpa mengandeng Hana ikut keluar bersamanya. Hana hanya mencebik kesal sembari menghenduskan napas dari mulutnya. Hingga Zacky mengambil alih tugas itu darinya, dan bahkan mengulurkan tangan pada hana.
"Terimakasih, Kak Zacky...." ucap Hana dengan senyum manisnya meski Arga sama sekali tak melirik padanya. Arga hanya melaju dengan langkah penuh wibawa masuk kedalam karena Sam sudah menunggunya disana.
__ADS_1
"Kak Arga," Hana lari dan langsung menggandengnya. Seumur hidup hana belum pernah kesana, apalagi yang ia tahu di dalam sana isinya penjahat semua dengann hukuman yang beraneka ragam.
Arga hanya diam, dan terus berjalan menuju tempat pertemuan mereka. Dan benar, disana mereka semua sudah menunggu Arga cukup lama.
"Ayah," Arga langsung menghampiri Tuan Dirga dan mencium tangannya. Hana yang meski sedikit ngeri melihatnya, tapi memberanikan diri untum ikut melakukan hal yang sama dengan suaminya.
"Kau menantuku?" tanya Ayah arga pada hana. Arga sudah akan menyela, tapi sang ayah mengulur tangan untuk mencegahnya.
"Iya, Saya Istri Kak Arga." angguk Hana, dan Ayah dirga mengulur senyum padanya. Meski hanya untuk alat balas dendam, ayah tahu jika Hana benar-benar menyukai putranya itu. Hanya wajah Arga yang masih datar pada Hana meski terbaca sedikit perhatian dari matanya.
"Ayah..." Arga mencoba berkilah dari lirikan sang ayah padanya.
"Selamat datang pada Tiger, Zacky." sambut ayah padanya yang mungkin sebenarnya sudah telat.
"Terimakasih, Tuan..." angguk Zacky padanya. Ia kemudian mengajak Hana keluar bersama Sam, untuk memberi kesempatan ayah dan anak itu bicara berdua.
"Bagaimana saat ini?" tanya Ayah Dirga padanya.
__ADS_1
"Beberapa informasi sudah digali semakin dalam, tapi baru tentang Hans. Belum yang lain yang berada dibelakangnya."
"Gadis itu? Apa fungsinya?"
"Hana akan menjadi alat pancingan agar hans keluar dari persembunyiannya. Ketika Hans sudah mulai bingung mencari sang adik, Rumah sakit akan dengan gampang kami teliti lebih lanjut."
"Bagus rencanamu. Nanti jika Hana terlalu lama menghilang, akhirnya dia akan keluar juga dari persembunyiannya selama ini. Bisa jadi, Dia yang akan lebih gelisah dengan hilangnya hana disana,"
"Maksud ayah?" tanya Arga dengan pernyataannya saat itu. Ayah hanya tersenyum kecut, Ia sedikti tahu masalah Hans dengan segala janji pada pria itu.
"Hans akan memberikan Hana pada Marco sepertinya. Marco menginginkan Hana sejak lama, dan bahkan menunggunya hingga saat ini. Tapi malah kau yang mengambilnya. Kau tahu, ini yang dinamakan Double kill." Sang Ayah menyunggingkan senyumnya. Ia merasa puas dengan semua rencana sang putra, meski sebenarnya keberuntungan itu tanpa disengaja.
Hans hanya diam. Rupanya Hans tak sesayang itu pada Hana hingga Ia sanggup menumbalkan adiknya sendiri. Dan saat ini, Ia merasa kasihan pada gadis yang ia sebut istrinya itu. Dan bagaimana besok, jika suatu hari Ia harus melepaskan Hana kembali pada mereka dalam keadaan tak suci lagi karena Ia sendiri yang telah merenggutnya.
"Jika kau perduli, lindungi saja gadis itu hingga tak menjadi korban mereka. Dia tak tahu apa-apa, ladipula dia juga terlihat mencintaimu,"
"Dia menyukaiku sejak dulu, saat kami sering bermain bersama dengan sofi dan yang lainnya." jawab spontan arga dengan pendapat ayahnya.
__ADS_1
"Lindungi, karena jika tidak maka Ia akan mati."