
Zacky berjalan menyusuri setiap Lorong yang ada di club. Ia tengah melakuan pengecekan disetiap ruangan yang ada, karena meski club sarat dengan dunia negative tapi mereka begitu jauh dengan obat-obatan terlarang yang mungkin masuk diam-diam kesana dan menyerang mereka.
Langkah zacky terhenti. Ia bahkan memundurkan langkahnya menuju sebuah rauangan yang isinya mengganggu pemandangannya saat itu. Hingga akhirnya ia nekat masuk tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
“Sofi?” sapa Zacky yang melihat sofi tengah duduk termenung disana dan entah menunggu siapa.
“Zack, kau datang? Mana arga?” to the poin sofi memang ingin bertemu dengan mantan kekasihnya itu saat ini.
“Kenapa kau kemari? Darimana kau tahu jika_”
“Rahasia itu tak akan menjadi rahasia seterusnya, Zack. Aku tahu, jika kau selama ini masih bersama arga dan terus membantunya. Dimana dia?” desak sofi padanya.
Sata itu zack merasa bingung akan menjawab apa. Karena dari keterangan yang sofi ucapkan, ia seolah memang sudah tahu pasal ia dan arga. Ia takut, jika sofi juga diam-diam tahu tentang hana.
“Zack, pertemukan aku dengan dia, sekarang!”
“Tak usah memaksa, Sof. Aku datang untuk bertemu denganmu,” Arga tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu sendirian. Ia juga tak tahu jika zacky sudah ada disana lebih dulu darinya.
“Kau boleh pergi,” titah arga, tapi zacky tetap disana dan menunggu mereka berdua. Setidaknya, ia bisa ancang-ancang denga napa yang harus dilakukan dengan mereka berdua.
“Ada apa?” tanya arga yang kembali menatap sofi dengan tatapan tajamnya.
Mereka saling bertatap mata sejenak. Bahkan sofi saat itu berkaca-kaca
dan sudah akan megeluarkan airmatanya mlihat arga. Dial ah kekasih yang amat
memperjuangkan mereka dulu, berjuang bagaimana caranya untuk kehidupan yang layak
untuk mereka berdua tanpa embel-embel ayah sofi dibelakang mereka.
Sofi melangkah dan mendekati arga. Bahkan ia mengulurkan tanan untuk
meraih wajahnya.
“Tidak, sof. Jangan,” tolak arga yang langsung menepis tangannya saat
itu. “Katakan, apa yang kau inginkan dengan mencariku?” tegas arga padanya.
“ Kau dendam padaku dan hans?” tanya sofi dengan suara lembutnya, yang
jujur saja, saat itu arga begitu bergetar mendengar suara yang begitu lama ia
rindukan.
“Kenapa kau tanya seperti itu? Bukankah, seharusnya kau tau semua jawaban
dari pertanyaanmu itu?”
Sofi setetika tertunduk sedih mendengarnya. Jawaban kecil arga itu
__ADS_1
mewakili semua yang akan ia pertanyakan padanya, dan semua yang saat itu menjadi
tanda tanya besar untuknya.
“Ga, kita sudah sama-sama dewasa. Kenapa kau masih harus terjerumus dalam dendam lama? Kau membalas dendam pada kami, ayahku dan ibumu tak kan hidup kembali.”
Ucapan itu sontak membuat arga marah padanya. Bisa-bisanya sofi berkata seperti itu, seolah begitu meremehkan diirnya dengan segala derita yang ada.
“Dan apakah jika aku diam, perusahaanku dan semuanya akan kembali? Itu semua rusak dan sudah hancur, sofi. Bahkan hanya untuk bekasnya saja, aku sudah tak akan bisa mengumpulkan dari sisa puing yang ada.”
“Ga, kau sudah dewasa,”
“Dan kau? Kau masih anggap aku apa selama ini? Kau masih menganggap aku
pembunuh ayahmu, dan tak akan pernah merubah keyakinan itu.”
“Tapi memang kenyataannya_”
“Tidak… Aku sama sekali tak membunuhnya saat itu. Saat aku datang, ayahmu sudah tergeletak disana dengan menyebut nama hans sebagai kata terakhirnya. Kau tak pernah mau mendengarku saat itu, Sofi.”
“Ga, aku sudah memaafkanmu. Jadi, lupakan_”
“Tidak… Aku tak akan semudah itu melupakan semuanya. Dendam ini, harus terbalaskan padanya. Kau tak tahu, kau hanya bisa diam. Atau, kau sendiri ingin bukti dan memenjarakan suamimu sendiri?” Arga saat itu melempar sebuah map coklat pada sofi. Ia juga segera meminta sofi untuk membuka dan membacanya. Dan itu, hanya
bukti arga dari masa lalu mereka yang kelam selama ini.
itu?”
Sofi menangis membaca semuanya. Semua bukti itu memang sangat telat arga
berikan padanya, hingga rasanya tak mungkin untuk ia usut lagi saat ini.
“Lalu,, apa mau kamu, Ga? Apa yang
akan kamu lakukan pada kami saat ini? Dan, apa kamu tahu hana?”
Arga hanya menaikkan alisnya mendengar pertanyaan sofi padanya. Ia tak
berkata apa-apa, tapi hanya memberikan beberapa lembar data lain pada sofi mengenai
suaminya. Seakan tak percaya, tapi semua bukti amat lengkap disana dan sofi hanya
bisa membungkam mulutnya.
“Aku tak ingin membalas dendamku atas itu semua. Hidupku sudah lebih baik
saat ini bersama mereka, Sof. Yang selama ini ku kira orang kotor, tapi rupanya
mereka lah yang menggenggam tanganku ditempat kotor itu. Dan yang ku kira suci,
__ADS_1
justru merekalah yang menenggelamkanku didalam lumpur yang kotor itu.”
“Tidak… ini tidak mungkin. Dia ngga mungkin begini, Ga. Ngga mungkin!!”
tolak sofi pada kenyataan yang ada.
Sofi saja sudah sakit hati ketika hans ternyata memiliki banyak Wanita dibelakang
mereka. Tapi ini? Ini sangat kejam baginya dan ia tak dapat mempercayai
semuanya. Ia menolak, ia tak percaya dengan tuduhan arga pada suaminya saat itu
yang begitu keji. Tapi ia lupa, kekejian
apa yang mereka sempat lakukan pada arga dahulu kala.
“Jika kau tanya hana… Aku ingin tahu, bagaimana cara hans mencarinya. Dan
bahka aku tahu, karena Wanita itu adalah anak buah kesayanganku disini, yang
bisa membuat hans bahkan lupa dengan adiknya.” Arga menyeringai, entah kenapa
ia amat puas dengn eskspresi galau sofi saat ini.
Marah, kecewa, dan jijik semua bercampur aduk menjadi satu didalam hatinya.
Yang bahkan, ia tak tahu bisa dekat lagi atau tidak dengan hans setelah ini.
“Kau pemilik Rumah sakit itu, Sofi. Carilah semua buktinya jika kau
ingin tahu kebenaranya,” Arga terus saja memprovokasi sofi. Itu juga bagus
untuk rencananya yang telah mantap, apalagi anak buahnya juga ada disana.
Sofi berdiri dari segala rasa kacau yang menghampiri. Ia menggenggam semua bukti yang diberikan arga padanya, lalu meremasnya untuk ia bawa pergi. Entah apa yang sofi rasakan saat ini, begitu hancur hingga ia tak tahu cara untuk memperbaiki nya lagi.
Jika hanya masalah dengan mendiang sang ayah, sofi sudah bisa memaafkan semuanya. Toh,
selama ini hans sudah menjaga aset mereka dengan baik, dan ia akan membujuk suaminya untuk meminta maaf pada arga. namun, saat ini ia tak tahu harus bagaimana lagi. Wajahnya serasa telah dilempari kotoran saat ini oleh suaminya sendiri.
"Arrrrghhhh!! Jahat kamu mas! Ternyata kamu sejahat itu dan sudah ngga bisa dimaafkan lagi.
Aku ngga bisa memaafkan ini semua. Kamu telah mencoreng nama baik Rumah sakit ayahku. Ini ngga bisa aku biarkan!!" geram sofi dengan semua kenyataan yang ada didepan mata. Ini sudah terlalu sadis, dan
semua adalah illegal. Belum lagi dengan pasal penipuan dan penculikan yang menjadi satu dengan pasal lainnya.
Sofi hanya bisa memijat keningnya saat itu. Kepalanya mendadak sangat nyeri hingga rasanya tak
tertahankan lagi. Bahkan ,rasanya begitu mual ketika membayangkan kesadisan yang mereka lakukan dibelakangnya selama ini.
__ADS_1