Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 31


__ADS_3

Dengan tangan gemetar arga meraih wajah itu, lalu ia usap dengan lembut. Hana sampai memejamkan mata menikmati semua sentuhan yang ia rasakan.


"Kau basah... Tak dingin?" tanya Arga dengan suaranya yang mulai serak.


"Sekarang rasanya panas," lirih Hana mendongakkan kepalanya. Arga menelan saliva, wajah itu tampak begitu indah saat ini. Tatapannya turun keleher Hana, diikuti gerakan tangan yang mulai membelainya dengan penuh rasa.


"Kenapa kau selalu menggodaku? Padahal kau harusnya takut, karena aku akan memanfaatkanmu demi dendamku."


"Hana sama sekali tak tahu masalah kalian. Hana hanya akan fokus pada kakak saja sebagai suami hana,"


Greeep! Tangan besar Arga meraih tengkuknya. Pria mana yang tahan jika terus-terusan digoda, apalagi suasana yang benar-benar mendukung semuanya.


Arga mendorong kepala hana agar mendekat dengannya. Tapi Arga justru sempat ragu, hingga akhirnya Hana terlebih dulu bergerak untuk mengecup bibir Arga yang ada didepan mata.

__ADS_1


Sebentar, lalu ia melepaskan dan menundukkan wajahnya. Apalagi ketika melihat wajah arga yang semakin tajam menatapnya. "Maaf," lirih Hana yang takut jika Arga justru akan semakin marah padanya.


Dari sekian banyak tatapan yang diberikan arga, entah kenapa yang satu ini benar-benar membuat dadanya berdegup dengan kencang dan tubuhnya gemetaran. Bahkan selama ini Arga membentaknya pun tak pernah seperti ini rasanya.


Hana sudah akan beralih dari pangkuan arga, namun ternyata arga menekuk kaki hinngga mencondongkan tubuh hana semakin dekat ke wajahnya. Arga semakin erat meraih tengkung hana, hingga kini mendekatkan bibir keduanya dengan begitu dekat hingga mengikis jarak diantara mereka.


"Empphhh!" Hana tersentak, ketika Arga saat ini telah melu mat bibirnya dengan begitu ganas dan menuntut. Bahkan gerakannya begitu brutal hingga Hana nyaris kehabisan napas karenanya.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Bahkan harusnya kau tahu, jika pria sudah terpancing maka ia akan kesulitan untuk berhenti. Kau harus bertanggung jawab pada sesuatu yang sudah sesak dibawah sana."


Arga membawa Hana miring sedikit dari pangkuannya, Ia kembali menge cup dan melu mat bibir indah itu dengan ganas dan bahkan sedikit kasar. Hingga Hana merasa perih karenanya. Napasnya naik turun tak karuan, terutama ketika Arga mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain.


Hanya dalam sekali tarikan, penutup dada itu terbuka dan menyembul indah hingga langsung arga sentuh dengan tangan besarnya.

__ADS_1


"Kak... Arga!" pekik Hana disela-sela serangan arga dibibir indahnya.


"Bukankah ini yang kau inginkan? Kau menikmatinya?" bisik arga yang mulai menjalar ke telinga Hana, terus turun hingga ke tengkuk lehernya. Itu lantas membuat hana semakan tak bisa mengendalikan dirinya saat ini.


"Kakak! Kak arga," berkali-kali hana hanya bisa menyebut namanya.


Seluruh tubuh yang nyaris polos itu seakan tengah dialiri listrik bertegangan tinggi. Terutama dengan sofa yang tengah mereka duduki, mendukung segala aktifitas mereka saat ini. Arga terasa bisa lebih bebas mengeksplor seluruh tubuh indah yang tengah ada dalam pelukannya itu.


Hana tak kuasa menahan desa han, ringikan dan semua yang secara spontan keluar dari bibir tipisnya. Dan bahkan bibir itu mulai bengkak akibat aktifitas arga yang tiada henti untuk menjelajah setiap inti tubuhnya.


"Dan ini? Sudah sangat terang sang, Hana. Kau memang benar-benar menginginkan ini rupanya? Kau pemain handal?" tukas arga padanya, dan terus terang itu sedikit menyakiti perasan Hana.


"Jika kakak penasaran bagaimana Hana, maka lakukan saja selagi Kakak bisa. Kakak akan tahu, Hana pemain atau hanya sekedar menjalankan tugas sebagai istri." tantang hana, yang kembali mengarahkan tangan Arga ke pangkal pahanya.

__ADS_1


__ADS_2