
Setengah jam sebelum kejadian penculikan hana, tepatnya ketika arga baru saja keluar dari hotelnya. Ia mendapat teleponn jika club saat itu kebakaran dengan begitu hebatnya, bahkan seaka api yang ada saat itu amat sulit dikendalikan.
Arga segera bergegas kesan bersama zacky, dan hana yang mendengarnya cemas bahkan meminta beberapa pengawal untuk membantu disana. Ia tahu, jika beberapa anggota yang dimarkas harus fokus dengan urusan lain agar semua bisnis berjalan tetap seperti biasanya.
Ketika arga datang, bahkan mobil pemadam kebakaran sudah ada disana. Beberapa orang dari markas inti sudah menyelamatkan beberapa berkas dan milik mereka yang penting dari setiap ruangan yang ada. Mereka menyelamatkan semua pekerja dengan begitu sigap hingga tak ada korban nyawa, dan untung saja memang club sedang ditutup saat ini.
Arga membantu mereka semua untuk meredakan api yang ada, tak perduli dengan kerugian yang penting para anak buahnya selamat disana.
“Hana!!”
“K-Kan hans?” lirih hana yang spontan menghentikan Langkah kakinya. Genggamannya pada Mia dan
liska seketika melemah, dan ia justru membalik tubuhnya menghadap sang kakak.
“Ternyata benar, kau disini. Arga mengurungmu, sayang?” Hans segera berlari dan memeluk adik semata wayangnya dengan berlinangan air mata. Saat itu Thomas segera meraih liska dan mencengkram rahangnya.
“Lepasin dia!” tegas hana pada pria bertubuh besar itu, tapi ia taj tahu siapa Thomas sebenarnya.
“Diam hana, kamu tak tahu siapa dia, yang bahkan bisa merusak karier kakakmu sendiri.” Sergah Thomas padanya.
“Hana ngga tahu siapa dia. Hana tahu… Dia bahkan ngga ingat siapa Namanya,” Hana mengode liska agar pura-pura amnesia didepan mereka semua, dan liska paham kodenya saat itu
“Nyonya, mereka siapa?” tanya mia dengan segala rasa takutnya.
__ADS_1
Hans saat itu mulai sok perhatian pada adiknya. Menanyakan kabar, melihat semua bagian tubuh adiknya apakah disakiti arga atau tidak selama mereka mengurungnya. Tapi hana tak bilang, jika ia sudah menikah dengan arga agar tak semakin terjadi kericuhan disana. Hans kemudian membujuk hana pulang. Dan kali ini, hana tak bisa menolaknya sama sekali karena takut liska dan mia akan menjadi korban mereka semua.
“Hana ikut, tapi jangan sakiti mereka.” Syarat hana pada keduanya.
“Tidak menyakiti, hanya membuat mereka diam sesat.” Jawab Thomas, yang kemudian memukul bagian belakang mereka hingga pingsan saat ini.
Hana menatapnya dengan perasaan begitu jijik dan jengah, namun hanya bisa menarik napas panjang padanya yang begitu kejam tak kenal ampun. Seketika hana ingat, jika liska pernah membicarakan pimpinan dari kelompok itu dan Bernama Thomas. Memang sangat sesuai denga napa yang liska katakana padanya. Kejam, bahkan tak memiliki hati sama sekali.
Hans saat itu merangkul hana untuk keluar bersama. Tak ada minat sama sekali mereka untuk merampok mansion itu, karena Thomas tahu tak begitu banyak harta disana yang bisa ia rampas karena semuanya ada di club dan diruangan bawah tanahanya. Thomas belum tahu, jika markas mereka sudah ada beberapa sejak kepergiannya.
Langkah Thomas terhenti sejenak, ketika melihat foto besar ayah dirge terpajang di dinding rumahnya. Pria itu langsung mengarahkan senjata, dan dengan antusias menembak bagian kepalanya. Tapi untuk hanya foto, dan bukan aslinya. Jika aslipun, Thomas belum tentu berani dan mampu berhadapan langsung pada ayah angkatnya itu.ia tersenyum dengan begitu puas, seolah ia merasa telah menang dari semua perang yang padahal belum terjadi.
Hans membawa hana masuk kedalam mobilnya, “Sayang, kau tak apa?” tanya hans dengan segala perhatian untuk adiknya. Hana hanya diam, saat itu ia sendiri bingung harus bersikap apa dengan kakaknya sendiri. Hingga akhirnya mereka membawa hana kerumah hans dan sofi, dan Thomas ikut dengan mereka saat itu.
“Hana, perkenalkan aku calon suamimu. Kita sebentar lagi akan menikah,” ucap Thomas dengan jujur padanya, seakan ia tak bisa lagi menahan semua atau menunda hingga semua urusannya beres saat itu.
“Thom, ayolah. Tenang dulu, hingga semuanya sedikit aman.” Tegur hans padanya, tapi yang ada justru Thomas
berdiri dan mengarahkan pistol padanya saat itu.
“He-hey,, aku hanya memberi saran saat ini.” Balas hans dengan segala rasa cemasnya.
Mendengar itu, Thomas menurunkan senjata dan kembali duduk didekat hana. Ia yang semakin tergila gila dengan gadis itu, rasanya sudah tak bisa mengedipkan matanya saat ini. Ia bahkan sudah tak sabar lagi untuk menyentuh hana dan seluruh tubuh lainnya. Yang ia bayangkan, adalah hana begitu sempurna tanpa cacat hingga pantas jika ia perjuangkan seperti ini.
__ADS_1
Hans segera menelpin sofi, agar ia segera pulang saat itu juga. Sofi yang penasaran, langsung pulang kerumahnya dan begitu terkejut melihat hana sudah ada disana.
“Astaga, Hana!” panggil sofi, dan saat itu hana langsung menghampiri dan memeluknya begitu erat. Hana menangis dipeluk kakak iparnya saat itu, sedangkan sofi masih sibuk menenangkan dan melempar tatapan penuh tanya pada suaminya.
“Aku dan Thomas berhasil membawa hana, mengabilnya dari mansion arga. Bahkan melumpuhkan beberapa anak buahnya disana.” Dari ucapan itu, hans seolah begitu bangga denga napa yang dilakukannya, atau bahkan berharap jika sofi memuji dan bahkan bersimpuh di kakinya saat itu sebagai luapan rasa bangga.
“Terimakasih, Mas.Karena, telah berusaha menemukan hana.” Balas sofi untuk suaminya. Ia segera membawa hana kembali ke kemar miliknya yang ada dirumah itu, dan menenangkan hana untuk beberapa saat.
“Kak sofi, hana takut. Itu tadi kenapa dia ngaku calon suami hana?” tanyanya dengan suara gemetar.
“Maaf, sayang. Kakak juga baru tahu, jika kakakmu selama ini menjodohkan kamu dengan dia. Kakak benar-benar
kaget saat itu,” sesal sofi, yang kemudian memberikan air putih untuk adik iparnya.
Mereka saling menenangkan sejenak saat ini, dan saling berjanji untuk tak menyebut nama arga selagi mereka berdua masih ada disana.
Liska dan mia masih pingsan, tapi liska tak separah ia saat itu hingga ia bisa segera sadar dan memaksakan dirinya untuk membertahu arga lewat telepon rumah yang ada. Langkahnya tertatih hingga akhirnya benar-benar bisa menggunakan telepon dan menghubungia arga dnegan bekal nomor yang ada dibukunya.
“Ya, sayang?” sapa arga. Karena ia hanya tahu hana yang sering menelponnya dengan telepon rumah itu.
Bagaimana perasaan liska dengan ketidaksengajaan itu, tapi ia masih bebrusaha sekuat tenaga agar tetap sadar diri dengan maksudnya menghubungi arga.
“Tuan… Ini Liska,” lirihnya dengan suara yang memang lemah.
__ADS_1
“Liska, kau kenapa? Ada apa disana?” tanya arga dengan instingnya untuk hana.
“Rumah diserang Tuan Thomas dan hans. Nyonya ikut dengan mereka, maaf kabisa mencegahnya,” sesal liska saat itu dengan deraian airmata yang mulai mengalir.