
Pagi datang kembali dengan matahari indahnya, tapi tak secerah perasaan Hana saat ini. Karena ketika mereka kembali ke mansion, maka kamar mereka akan terpisah lagi seperti biasanya. Hana masih dengan piyamanya, berjalan menyambangi kamar sang suami untuk mempersiapkan semua keperluannya disana.
"Nyonya?" sapa seorang maid yang tengah melakukan tugasnya. Hana segera mengusir maid itu dan mengambil alih semua tugasnya, ia selalu berkacar dari perlakuan sofi untuk sang kakak ketika mempersiapkan semua perlengkapannya bekerja.
"Celan, dasi, kemeja, Jas dan semuanya. Oh iya, satu lagi," Hana membuka laci paling bawah dan mencari sebuah dalaaman untuk arga pakai hari ini. Sebuah celana boxer ia ambil, tapi ia justru gregetan sendiri ketika membuka lipatan itu didepa matanya.Ia membolak balik bentuknya yang tak terlalu besar, hingga tampak sangat ketat jika arga memakainya.
"Apa sih yang aku fikirin?" tanya Hana pada fikirannya sendiri, yang justru membayangkan yang tidak tidak terutama pada isi dalamnya nanti. Ia sempat melihatnya ketika sudah semakin ketat dan mendesak meminta untuk dikeluarkan jika sudah membengkak. Hana tertawa sendiri membayangkannya, bahkan sampai duduk mengingat kejadian kemarin.
"Kau kenapa?" tanya Arga yang memergoki istrinya menggila sendiri dikamarnya. Apalagi ketika menggenggam pakaian dalam ditangannya saat ini.
"Ah, Kakak udah keluar rupanya." Hana segera bangkit kemudian memberikan benda itu pada suaminya untuk ia pakai.
"Kau kenapa disini? Mana maid yang seharusnya melayaniku?"
__ADS_1
"Hana istri kakak, jadi Hana yang harus melayani. Hana udah pilihin semua pakaian yang akan kakak kenakan pagi ini," ucap hana memamerkkan semua pilihan yang ada diatas ranjangnya.
Arga tampak tak perduli, dan bahkan ia tak mengucapkan terimakasih pada sang istri yang masih setia disana menunggunya. Ia hanya diam lalu memakai semua pakaiannya, bahkan menepis ketika hana berusaha untuk membantu memakai semuanya. Tapi hana tak menyerah, Ia meraih dasi arga untuk memasangkannya meski harus ia paksa.
"Hana, No!"
"Larangan adalah perintah," jawabnya dengan santai mengatupkan bibir dan mulai mengikat dasi itu dilehernya. Bahkan arga mendorongnya dengan sedikit keras hingga hana jatuh diatas ranjangnya saat itu dengan dasi yang masih ia tarik dengan tangannya.
"Pasang dasinya belum selesai," ucap lembut hana padanya. Arga hanya bisa mempertanyakan, bagaimana Ia bisa memasang dasi dalam keadaan seperti itu, tapi rupanya hana memang bisa dengan mudah melakukan itu semua.
"Dah, selesai..." ucap Hana dengan bangganya. Ia melepas arga yang kemudian berdiri menatap tampilannya dicermin besar lemarinya.
"Udah, rapi itu. Hana kan belajar dari ahlinya," balas hanya yang kemudian berbaring miring bertumpu dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Arga juga menyadari, simpul yang ada sering dipakaikan oleh sofi padanya ketika mereka bersama kala itu. Dan saat ini, ia memakainya lagi begitu juga dengan hans yang telah menjadi suaminya. Arga lalu dengan kasar menarik dasi itu dan segera melepasnya.
"Kakak!!!" pekik Hana yang sedih dengan tingkahnya. Ia segera berdiri, menatap arga dengan begitu kesal dari matanya. Ia juga merutuki arga yang sama sekali tak bisa menghargai kerja kerasnya untuk melayani sebagai istri yang baik saat ini.
"Jika kau mau jadi istri yang baik, maka buatlah versimu sendiri. Aku tak ingin terus hidup dalam bayang-bayang sofi selamanya," jawab arga padanya.
"Hana sudah berusaha bagaimana caranya agar kak arga melihat Hana sebagai istri. Hana sudah memberikan semuanya, tapi kak arga masih saja kefikiran kak sofi. Benar kan?" tukas Hana pada suaminya.
"Aku memikirkan itu bukan karena aku mencintainya, tapi_..."
Pluukk! Hana langsung mendekap arga dan menaruh wajah itu didadanya.
"LIhat Hana sebagai Hana, Kak. Bukan sebagai adik Kak Hans atau ipar kak sofi. Hana tahu Kakak dendam dengan mereka, tapi Hana ngga tahu apa-apa. Hana bahkan sudah ikhlas jika mau kakak manfaatkan bagaimanapun keadannya, tapi Hana tetap istri sah kakak meski hana juga ngga tahu akan sampai kapan menyandang gelar itu."
__ADS_1