
“Kak Mia,” panggil Hana pada maidnya. Dan memang hanya mia yang bisa membuatnya nyaman disbanding maid yang lain saat ini. Mungkin karena mereka seumuran, hingga hana bisa mengajaknya ngobrol sesuai rentang usia mereka.
“Ya, nyonya? Ada apa?” Mia langsung menghampiri Hana yang masih berdiri ditangga. Speertinya ia baru saja mandi setelah bangun kesiangan, dan rambutnya masih sangat basah saat ini.
Hana saja saat itu justru mengenakan kaos oblong milik arga yang kebesaran untuknya, dengan dalaman hotpants pendek hingga
memperlihatkan kaki jenjangnya yang indah. Tampak beberapa cetakan yang masih
merah dibeberapa titik bagian lehernya. Mia hanya tersenyum melihatnya saat itu.
“Kak Mia, bantuin Hana pindah kamar yuk,” ajaknya. Yang dimaksud Hana adalah memindahkan beberapa barang Hana ke kamar arga, dan sejak saat ini mereka satu kamar hingga hana tak perlu bolak balik lagi untuk melakukan tugasnya sebagai istri.
Toh arga juga sudah tak begitu sulit digoda saat ini, hanya dengan melihat lekuk tubuh hana saja arga sudah tak tahan dan segera menyerangnya seperti tadi pagi. Begitu brutal, hingga tak tahu lagi hana berapa kali
merasakan puncak dari permainan arga pada dirinya. Dan bahkan hana tak tahu, kapan arga pergi karena Kembali terlelap usai permainan panas mereka.
“Nyonya, sudah izin dengan tuan?” tanya mia.
“Ngga perlu izin deh,”
“Jangan, daripada nanti bertengkar lagi. Nyonya tahu
bagaimana tuan, bukan?” bujuk mia padanya.
__ADS_1
Hana hanya mencebik. Repot sekali rasanya jika harus izin, apalagi harus Kembali membujuk suaminya yang dingin dingin empuk itu. Tapi hana
memang harus banyak mengalah, dan akhirnya ia menelpon arga menggunakan telepon rumahnya lagi karena hpnya belum sama sekali arga ganti dengan yang baru. Padahal, Hana sendiri sudah memantapkan hati untuk terus bersamanya menjadi tawanan cinta.
“Hallo?”
“Kak arga,”
“Hmmm, ada apa?”
“Hana mau ajak Mia buat pindahin barang hana ke kamar kakak, boleh? Hana capek kalau harus kesana kemari,”
“Aku tak memintamu untuk melakukan itu…”
hinga tak bisa meledeknya saat ini.
Ya, bagaimana lagi? Ia adalah seorang pria dewasa dengan gairahnya. Pernah gagal menikah, dan saat ini selalu mendapat umpan renyah didepan mata. Siapa yang tak terpancing, apalagi mereka juga sah sebagai suami istri. Meski, arga harus menjaga agar Hana tak hamil anaknya dalam waktu dekat
ini.
“Kaaak,” rengek manja hana saat itu padanya.
“Beberapa saja, jangan dibawa semua. Kamarku sudah cukup penuh dengan barangku,” jawab arga, yang memang sudah mulai melunak pada
__ADS_1
istrinya. Tapi tetap, balas dendam menjadi prioritas utamanya.
Hana langsung tersenyum senang, disambut mia yang menghela napas lega dibelakangnya. Ia bersyukur, pagi ini tak lagi diawali keributan diantara mereka seperti biasanya. Pagi ini terasa lebih tenang dan
damai, semoga saja seeperti ini seterusnya, atau bahkan setiap pagi diisi dengan pemndangan mesra dan romantis ala mereka berdua.
“Tapi barang hana banyak. Apa lemarinya saja hana pindahkan supaya tak terlalu repot?”
“Kenapa tak dinding kamar saja yang jau hancurkan sekalian, agar dua kamar kita menjadi satu ruangan yang luas?”
“Iiih, kan hana cuma nanya, kok jawabnya gitu?”
“Pertanyaanmu yang aneh. Sudah mending ku perbolehkan membawa barang masuk ke kekamarku kau malah mkin banyak mau.”
“Eeergghhh!! Yaudahlah, hana kesel!” geramnya, yang kemudian langsung menutup telepon itu dengan cukup kasar dimeja.
Helaan napas mia tadi ia Tarik lagi. Ia tak jadi
bersyukur dengan pagi yang indah dan damai ini, karena kenyataan untuk mereka
berdamai itu memang begitu sulit terealisasi dalam waktu yang cepat.
“Haissshhh… Baru aja akur,” pasrahnya dengan segala keadaan yang ada.
__ADS_1