
Namun, Zacky tak tahu bagaimana akhirnya jika Arga berpindah rencana tak sesuai kemauan mereka. Apa Arga akan sektika mati ditangan ayah angkatnya sendiri?
"Untuk sekarang yang jelas buat Hans kebingungan. Bagaimana dia saat kehilangan orang yang paling Ia sayang. Hana adiknya, tak mungkin Hans tak menyayanginya, bukan?" tanya Arga, dan Sam serta Zacky mengangguk padanya.
Meski sofi hanya dimanfaatkan untuk Rumah sakit ayahnya, tapi Hana adiknya. Benar-benar tepat keputusan arga meski semua datang tanpa sengaja. Hana dan Hans hanya berdua setelah ibunya tiada, dan Hans begitu bertanggung jawab akan adiknya dan semua tentangnya.
"Aku memintamu ke markas lain. Kita mempunyai Tiga markas, dan diantaranya termasuk gudang senjata yang kita punya. Oh iya, apa kau sudah masuk ruang senjata?"
"Aku belum sempat, nanti ku lakukan." balas Arga padanya.
"Baiklah. Nanr kau ambil satu yang sesuai untukmu. Zacky akan ku kirim nanti, karena kau masih perlu banyak belajar.
" Memang Arga... Eh, Tuan arga sudah mahir?" tanya Zacky dengan segala kepolosannya.
" Kau belum tahu?" tatap Sam dengan tawanya..
Zacky menepuk jidat. Penjara macam apa yang arga masuki, hingga dia dapat berlatih bahkan untuk senjata. Manusia macam apa yang arga patuhi saat ini hingga semua tunduk meski dengan segala pangkat yang ada.
"Begitu mengerikan," gumam Zacky dalam hatinya.
Sementara itu, rencana arga mulai berjalan sesuai instingnya. Sofi yang masih belum bisa menghubungi adik iparnya itu, mulai kebingungan dengan keadaanya saat ini.
"Padahal tadi sempet miscall. Tapi mati lagi," galaunya yang beberapa kali mencoba menghubungi lagi dan lagi. Bahkan semua teman kost Hana sudah ia telepon dan bertanya akan keberadaannya saat ini.
"Semalem dia masih ada diclub, Kak. Katanya ada urusan sebentar, tapi sampai sekarang belum pulang." ujar Cica, teman kost hana.
"Astaga, Hana... Kamu dimana sayang?" lirih perih Sofi memikirkan adik kesayangannya itu..
__ADS_1
Sofi tak lupa mengucpkan terimakasih pada mereka semua, meminta melapor jika ada sesuatu mengenai Hana padanyam
Frustasinya bertambah, ketika sang suami masih juga belum bisa ia hubungi sama sekali saat ini. Padahal Hana adik kandungnya, tapi semua pengasuhan hana diberikan pada istrinya dengan alasan kesibukan.
"Apakah ngga ada perasaan sama sekali dihatinya, kalau adiknya itu ngga ada." geram Sofi pada hans saat ini. Rasanya ingin melempar hp itu kedinding, namun itu akan percuma dan tak akan berpengaruh apa-apa untuknya.
Kadang sofi memang bertanya-tanya, bagaimana hubungan mereka. Kadang sofi berfikir, jika hans hanya menjadikannya perawat adiknya saja dan sebagai pelampiasan hasratnya. Bahkan sofi tak yakin, jika ia satu-satunya untuk suaminya itu.
Hingga beberapa lama dalam kegalauan yang ada, akhirnya Hans menelpon istrinya. Sofe segera mengangkat dan berusaha tak mengomel padanya kali ini dan fokus pada hana mereka yang belum juga diketahui keberadaannya.
"Hah... Bagaimana bisa hilang?"
"Aku ngga tahu, Mas. Semalam masih bisa aku hubungi, tadi siang juga masih miscall tapi tahu-tahu udah ngga ada kabar lagi."
"Teledor kamu,"
"Udah, aku ngga mau debat. Aku akan kirim orang untuk menelusuri keberadaan Hana dari tempat terakhir kalian bicara. Dimana?"
"Di club," jawab Sofi dengan gugupnya. IA pasti akan disaalahkan lagi karena membiarkan adik iparnya itu masuk club dan lepas kontrol darinya. Dan benar saja, omelan HAns terdengar tak kunjung berhenti dan membuat panas telinga Sofi saat itu.
"Sesekali, Mas. Dia mau rayain kelulusan,"
"Aku lebih baik mengeluarkan ratusan juta untuk membuatkan dia pesta pribadi daripada harus membiarkan dia ketempat seperti itu, Sofi. Kau tahu, penculikan dan penjualan organ sedang marak saat ini,"
Ucapan Hans itu seketika membuat tubuhnya merinding. Ia memang pernah mendengar beberapa kasus seperti itu dari media, dan bahkan menangkap mafia yang memperjual belikan semuanya. Namun meski sang pimpinan tertangkap, rupanya masih ada saja bisnis gelap itu dan bahkan terus merajalela sampai saat ini.
"Mas, maaf. Hana merengek, dan aku_..."
__ADS_1
"Haish, sudahlah... Aku pusing. Kau diam dirumah, dan akan segera ku cari Hana."
"Iya," angguk sofi, lalu mematikan teleponnya. Ia duduk disofa dengan segala rasa bersalah dalam hatinya, terasa amat cemas apalagi dengan kabar dari Hans saat itu mengenai dunia diluar sana.
Sofi memang diminta dirumah dan tak bekerja lagi oleh Hans setelah menikah, dengan berbagai alasan. Rencana kehamilan, dan semua alasan manis pria itu yang dapat meluluhkan hatinya dan melupakan mengenai Arga yang bahkan nyaris menikahinya.
"Arga? Bagaimana kabar dia sekarang? Apa sudah keluar dari penjara?" tanya Sofi dalam hati, dan Ia berharap agar Arga segera bisa sadar dengan segala perbuatan jahatnya.
Ya, bagi Sofi arga memang manusia paling jahat dimuka bumi ini. Ia bahkan tega membunuh orang yang sudah ia anggap ayahnya sendiri dan akan menjadi ayah mertuanya. Meski sofi masih gamang tentang alasan arga melakukannya.
Balas dendam. Tapi balas dendam apa antara arga dan ayahnya karena selama ini mereka terlihat baik-baik saja, akrab dan sering bermain catur bersama. Sofi kembali meradang jika ingat semuanya, tapi Ia kadang kasihan dengan apa yang dialami setelahnya.
"Mengenai ibu, maaf karena aku telat menolongnya, Ga." sesal sofi disana.
Bak gayung bersambut, kepala arga mendadak nyeri saat ini dan telinganya berdenging dengan cukup kuat.
"Hey, kau kenapa?" tanya Zacky ketika arga menepuk kepala. Ia juga meraih sebotol minuman yang ada dipinggir pintu mobilnya lalu memberikan pada arga disana.
"Entah, aku juga tak mengerti kenapa. Telingaku berdenging rasanya,"
"Berdenging? Kata ibu, jika telinga kita berdenging tandanya ada yang sedang membicarakan kita atau mengumpat kita dari tempat yang berbeda."
"Mengumpatku? Siapa?"
"Mana ku tahu, Hana mungkin. Ku lihat dia sedang begitu kesal denganmu,"
"Hhh, gadis itu..." tawa sinis Arga ketika mengingat hana dalam kepalanya.
__ADS_1