
Pagi hari itu tampak begitu indah. Tapi Hana dibangunkan ketika ia masih amat ingin memejamkan matanya. Para maid dan beberapa orang asing mendadak datang, dengan gaun indah dan berbagai ornamen yang mereka bawa.
Ya, ini bukan mimpi bagi Hana. Ini nyata dan Ia akan benar-benar menikah hari ini dengan arga. Ia bahkan tak sempat mencuci muka dan ia segera kelur kamar dengan tenaga supernya. Para maid yang cemas seketika mengikutinya, namun ternyata ia pergi dan masuk kekamar arga.
"Kak Arga!" pekik Hana.
Ia bahkan tak menutup mata meski Arga hanya mengenakan handuk diatas paha dan dibawah pinggangnya. Hanya maid yang ada dibelakang langsung membalikkan tubuh mereka karena kaget dan spontan.
"Ada apa?" tanya Datar arga padanya. Ia juga dengan santainya memakai pakaian didepan hana. Toh ia dokter, hingga ia tak asing dengan tubuh lawan jenis meski hanya sekedar pasiennya.
"Jadi beneran mau nikah? Hana ngga mau! Masa cuma gara-gara barang-barang itu kita harus menikah. Hana ngga mau permainkan pernikahan,"
"Pernikahan ini resmi, hanya memiliki kontrak selama beberapa bulan saja. Setelah itu kita berpisah," jawab arga dengan santainya. Bahkan ia berkata jika sebentar lagi Zacky akan memberikan kontrak itu dan ia harus menandatanganinya.
"Jika tidak..."
"Apa? Apalagi isi ancemannya? Kak sofi? Atau_..."
"Pergilah, dan jangan pernah sebut nama itu didepanku saat ini!" usir Arga padanya.
Hana menghentakkan kaki lalu pergi dari ruangan itu. Maid yang tadi mengikuti kembali hingga kekamar, dan mempersiapkan semua keperluan mandinya disana. Dan kini Hana tengah dirias, dengan gaun yang indah telah terpasang ditubuhnya.
Semua memang cantik dimatanya saat itu, tapi ia tak suka dengan momentnya. Andai tak dibuat seperti ini, pasti kenyataannya ia sangat bahagai dengan pernikahannya dengan arga.
__ADS_1
"Pernikahan macam apa yang bahkan walinya tak ada?"
"Aku jadi walimu,"
"Kak Zacky?" Hana menoleh, ketika Zacky datang padanya. Zack sepertinya lebih friendly dibandingkan arga saat ini, tapi belum ada kesempatan untuk Hana bertanya kenapa Arga bisa berubah separah ini padanya.
"Kakak harap, Hana menurut saat ini."
"Tapi Hana ngga paham, apa maksud kak arga berbuat seperti ini?"
Zacky hanya mendekat, lalu Ia mengusap bahu hana yang terbuka. Tanpa berkata apa-apan, dan kemudian hana mengangguk pasrah padanya.
Kini hana telah siap dengan semuanya, dengan gaun putih mewah dan mahkota dikepalanya. Semua memujinya cantik, tapi bagi hana itu bukan apa-apa tanpa kehadian sofi dan kakaknya. Yang bahkan mereka tak tahu sedang apa hana saat ini.
Yang hana bisa hanya terus bisa maju kedepan, menuruti semua yang arga perintahkan padanya. Selangkah demi selangkah, menuruni tangga hingga ia takjub sendiri dengan semua pemandangan yang ada.
Meski hanya dimansion, tapi altar itu dibuat dengan sedemikian mewahnya seperti pesta pernikahan sesungguhnya. Tapi memang pernikahan sesungguhnya, karena arga sama sekali tak main-main dengan semua rencana yang ada.
Arga sudah ada disana, menunggu hana dengan wajah tegangnya. Entah tegang yang bagaimana, tegang karena menikah atau tegang hanya karena rencananya maju selangkah.
Campur aduk perasaan hana disana. Ingin sekali ia segera berlari dan kabur, tapi memang tak ada celah sama sekali disana untuk ia lalui. Darahnya brdesir, jantungnya bergemuruh dan tubuhnya panas dingin. Apalagi ketika arga mengulurkan tangan menyambutnya datang.
Beberapa kali menghela napas kembali, dan Hana meraih tangan arga hingga tiba didepan pendeta untuk mengucapkan janji suci mereka.
__ADS_1
"Suci apa? Pernikahan ini bahkan tak jelas tujuannya," racau hana dalam hatinya.
Mereka berhadapan, hana bahkan sama sekali tak memperhatikan atau bahkan mendengarkan apa yang terucap saat itu. Begitu panjang dan memekakkan telinga baginya, ia ingin semuanya segera usai dan ia segera kembali istirahat didalam kamarnya.
Ini hanya kontrak, arga tak akan menyentuhnya. Itu harapan hana saat ini dengan semua yang ada, bahkan ia tak tahu kontrak itu berapa lama dan arga belum sama sekali membahasnya.
Entah pula ucapan apa yang kemudian pendeta ucapkan pada arga. Mendadak Hana mendengar sebuah ucapan yang menggetarkan seluruh jiwanya.
"Ya, aku bersedia."
Hana hanya membulatkan mata. Tapu ketika pendeta beralih padanya, Hana spontan menjawab hal yang sama.
"Saya... Bersedia," Meski setelahnya ia seperti ingin memukul wajahnya sendiri.
"Apa itu? Itu apa? Kenapa aku menjawabnya?" tanya Hana dengan segala kekalutan dalam hatinya.
"Dengan ini, kalian sudah sah menjadi suami istri."
"HAH?!" celetuk Hana. Ia semakin gamang, apalagi semua sorak sorai itu mengiringi akhir acara sakral yang ada. Bahkan mereka berteriak agar arga segera mencium istrinya dengan mesra.
"Ci-cium? Seperti semalem?" gugup Hana. Dan benar saja, tangan Arga meraih tengkuk hana dengan lembut lalu mendekatkan wajahnya.
Mata hana membulat, apalagi ketika arga semakin dekat dan terus mendekat, dan justru terpejam ketika arga semakin lekat.
__ADS_1
"Eemmmhh!" lenguh hana. Namun, bukan bibir yang menempel padanya. Rupanya tangan arga melingkar dibelakang leher dan menutupi bibirnya, dan itu menjadi penghalang mereka.