Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 9


__ADS_3

Usai makan siang arga segera membersihkan dirinya. Sam juga memerintahkan Zack untuk mengikuti apa yang arga lakukan karena ia akan ikut kemanapun arga pergi mulai hari ini. Bahkan mereka membelikan [pakaian Zack yang lebih formal dan rapi sebagai pendamping ketua mereka.


"Sam, aku siap." panggil Arga yang menuruni anak tangga. Sam langsung berdiri menyambut dan memberi hormat padanya, disusul dengan kadatangan Zaky ditengah mereka. Ketiganya pergi bersama, menuju club sesuai rencana.


Club itu tak sekedar club biasa. Dibawahnya terdapat markas tiger, tepatnya ada dibawah tanah dengan pintu rahasia yang akan mereka lewati dengan sensor card yang mereka miliki ditangan masing-masing anggota.


Tapi tak hanya disana, karena tiger memiliki beberapa markas yang tersebar luas di beberapa sudut kota.


Suara dentuman musik itu terdengar amat jelas ditelinga. Mereka masuk dengan santainya disambut beberapa yang bertugas disana. Terutama untuk Arga, yang bahkan mereka menundukkan kepala bersama.


"Selamat sore, Tuan." sambut mereka dengan begitu kompaknya.


Arga mengangguk menatap mereka yang menghormatinya. Kadang sedikit ada rasa haru dalam dada, yang mana saat semua orang membuang muka dan mereka begitu setia tak perduli apa statusnya.


"Begini rasanya memiliki pengikut setia, meski aku bukanlah pendirinya." gumam Arga dalan hati.


Mereka mengarahkan arga untuk terus masuk menuju markas mereka, menghindari keramaian yang ada. Beda hal dengan Zack, yang seperti terbawa arus suasana hingga tanpa sadar menggoyangkan kepalanya sesuai irama. Hingga Sam terpaksa menarik lengan jas untuk ikut dengannya.


Lorong demi lorong cukup panjang dan gelap. Mereka melaluinya tanpa bantuan penerangan lain ditangan. Tapi mereka berjalan dengan yakin tanpa meraba karena sudah amat terbiasa. Hingga mereka semua tiba disebuah tempat yang cukup megah penuh senjata.


Arga tampak diam menatap setiap sudut ruangan itu. Memang asing, tapi itulah dunianya sekarang dan harus mulai membiasakan diri sejak saat ini. Untung Ayah dirganya sudah memberi pelatihan sejak awal ditempat sebelumnya.

__ADS_1


"Ga... Itu senjata semua? Asli?" tanya zacky padanya tepat dibelakang telinga.


"Ya, semua asli. Kau ingin mencobanya?" tanya Arga yang mengambil sebuah pistol dimeja dan memberikan pada sahabatnya..


"Huaaaaa!" Zacky terkejut, bahkan jatuh tersungkur ketika pistol itu jatuh tepat diatas tubuhnya. Ia takut, baru pertama kali melihat pistol asli seumur hidupnyan yang sudah lebih seperempat abad itu.


"Kau tangan kananku mulai sekarang. Berdiri, dan ambil pistol itu." titah Arga, tapi Zacky masih menggelengkan kepala dengan tubuhnya yang gemetar mulai meraih pistolnya.


"Pegang Zaky! Mantapkan dirimu jika kau masih mau ikut denganku. Atau_..."


"Atau apa?! Kau tahu aku gemetar, ketakutan. Tapi kenapa kau memaksaku?" tangis Zacky pecah dalam ketakutannya. Air mata itu tumpah seketika, bahwa Ia tak pernah membayangkan jika Arga telah menjadi orang yang amat berbeda dengan apa yang ia tahu selama ini.


Zacky takut. Tangannya yang masih gemetar itu beberapa kali gagal meriah pistol didepan matanya. Selalu jatuh dan jatuh, seperti jari-jarinya tak memiliki tenaga. Hingga akhirnya Arga geram, meraih pistol itu dan mengepalkan ke tangan sahabatnya.


"Kau bisa. Ingat?"


"A-aku bisa? Ya... Aku bisa. Aku sudah berjanji pada ibu untuk selalu menemanimu apapun yang terjadi. Aku bisa, Ga!"


Tangan Zacky mulai mantap dan Ia mulai bergerak mengarahkan pistol itu pada target yang ada.


Dooorrr!

__ADS_1


Satu tembakan pertama dari Zacky melesat kedepan sana. Meski melesat, tapi patut mendapat apresiasi dari keberaniannya.


" Kau harus lebih mantap mempelajarinya, Zack. Ingat, kau tangan kananku." balas Arga kembali menyakinkan posisi Zacky dalam hidupnya. Yang mana nanti Zacky juga akan bertanggung jawab atas keamanan nyawanya.


Usai dengan Zacky, mereka mulai lagi. Begitu banyak pembicaraan yang harus mereka lakukan saat ini. Semua mengenai tiger didengarkan dengan baik oleh arga, dari Ayah, dari Sam dan dari lapangan sendiri semua singkron. Hingga tak perlu lagi banyak pertanyaan keluar untuk memperjelas keadaan.


"Jelas... Aku percaya dengan kalian semua disini. Aku yakin jika kalian memegang tiger dengan baik selama ayah tak ada.


Arga kembali dibawa keluar oleh mereka semua. Sebagai sambutan, mereka akan berpesta bersama dengan fasilitas yang ada. Disebuah ruang vvip bahkan dengan pelayanan yang supet istimewa menjamu tuan baru mereka.


Bahkan beberapa wanita secara eksklusif menari disana. Dengan pakaian minim, atau makin lama makin tak berbalut sama sekali. Mereka berusaha menggoda bos besar baru mereka yang penuh pesona, tampan dan berkharisma.


Tak tanggung, bahkan salah seorang wanita dengan tubuh polos duduk diatas pangkuan Arga dan meliuk-liukkan tubuhnya disana. Tapi sama sekali tak membuat arga bergairah atau menginginkannya.


"Aku akan beri pelayanan spesial, khusus untukmu hari ini Tuan." bisiknya dengan lembut dan sensual. Bahkan meraih tangan Arga untuk menyentuh paha dan dada, yang merupakan bagian sensitif dalam dirinya.


Arga hanya menghela napas beberapa kali. Tak munafik, jika Ia juga tergoda dengan pemandangan yang ada. Tapi, Ia memilih pergi dan tak menghiraukannya.


Braaak! Praaaang!!!


Arga mendengar suara keributan dari ruang sebelah. Ia melirik managernya, tapi Ia meyakinkan jika tak terjadi apapun disana.

__ADS_1


__ADS_2