
Hans segera pulang kerumahnya. Sofi yang melihat kondisi sang suami itu langsung cemas seketika dan segera mengampiri untuk melihat lukanya.
“Astaga, Mas… Kamu kenapa?” Sofi lantas membawa hans duduk. Ia meminta asisten rumah tangga mereka untuk mengambilkan kotak P3k untuknya, dan ia langsung mmembersihkan semua luka yang ada diwajah hans tanpa banyak bicara.
Hans merintih, ia tampak manja ketika sofi menyentuh lukanya. Tapi sofi datar, ia selalu terngiang atas perselingkuhan yang hans sering lakukan dibelakangnya. Atau jika hatinya sudah mati, luka yang ada ia tambah lagi agar semakin menganga.
“Sakit, Sayang.” Rintih hans padanya. Dan setelah itu luka dibalut dengan rapi kembali oleh sofi.
“Kenapa sampai begini? Berantem sama siapa” tanya sofi lagi untuk kedua kalinya.
Hans diam sejenak, ia bingung memulai darimana untuk menjawab pertanyaan sofi padanya. Alasan apa, hingga sofi tak akan lagi banyak mengeluarkan pertanyaan lain yang nanti akan mempersulit dirinya. Ia sudah amat pusing
dengan keadaan, hingga rasanya tak akan lagi mau menambah beban.
“Sayang, kau masih ingat Dokter Thomas?” tanya Hans padanya untuk membuka cerita.
“Ya, aku tahu. Kenapa dia?” tanya sofi yang mulai merapikan semua alat yang ada.
“Bukankah, aku sempat cerita jika aku menjodohkan hana padanya?”
Deggg!! Gerakan sofi sampai terhenti ketika mendengar apa yang hans ucapkan padanya saat itu. Ia seketika diam, menunggu apalagi kejadian yang dibawa hans untuknya.
“Thomas tahu, jika hana hilang dan belum juga kita temukan. Selama ini aku bohongin dia kalau hana lagi liburan sama temen-temenya. Dia marah, dan begini jadinya.”
Kleeek! Sofi menutup kotak itu dengan kuat hingga hans tersentak kaget karenanya.
Memang benar, jika hans sempat bicara dengan sofi mengenai perjodohan itu. Namun, sofi sama sekali tak setuju dengan rencana yang direncang hans pada adiknya. Sofi selaku mantan direktur Rumah sakit itu tahu bagaimana Thomas, si dokter arogan dan cukup keras kepala terhadap para rekannya. Untung saja ia masih bisa baik dihadapan para pasiennya.
Sofi tak setuju dengan Thomas juga bukan hanya karena itu, ia memiliki firasat yang buruk dengan sang dokter meski ia belum tahu firasat bagaimana yang ia rasakan. Yang jelas, ia setuju jika hana ngekost adalah untuk menjauhkan hana dari Thomas agar pria itu tak selalu mengincar adiknya untuk dijadikan istri dengan segera.
“Kita harus mencari hana dengan segera. Bisa habis kita kalau begini,”
“Kamu, bukan kita. Bukankah sejak awal aku menentang hubungan mereka? Kamu
saja yang kekeuh untuk memberikan hana padanya. Apa yang dia kasih sama kamu
sampai bertekuk lutut seperti ini dengan karyawan sendiri?” tukas hana padanya.
“Hey, kenapa ngomongnya begitu? Aku melakukan ini semua demi kita,”
“Demi kita apanya? Aku bahkan ngga kenal dia kecuali dia hanya dokter di
Rumah sakit ayah,” sergah sofi padanya. Yang kali itu bahkan tak lagi menyebut
Rumah sakit itu milik KITA, melainkan milik ayahnya dan tak akan pernah berubah
menjadi milik siapapun. Sofi berusaha menegaskan itu semua pada hans, agar ia
sadar diri bagaimana posisinya disana.
“Sofi, kamu?”
“Capek, Mas. Mas kalau buat keputusan itu seenaknya sendiri belakangan
ini. Ngga pernah nanya ke aku bagaimana baiknya. Aku tahu kamu kepala kelaurga,
tapi ngga begini juga. Aku… Aku justru merasa bersyukur karena hana diculik
saat ini,” kesal sofi pada sang suami.
Apalagi ia sudah menduga jika hana benar-benar bersama arga saat ini,
dan setidaknya hana aman disana daripada harus bersama Thomas. Hanya tinggal
mencaritahu apa alasan sebenarnya arga melakukan itu semua. Sofi juga merasa,
apakah kericuhan ini adalah Sebagian dari rencana arga untuk keluarganya.
“Ngga bisa, Sofi. Kita ngga bisa membatalkan semuanya dengan Thomas. Kamu
__ADS_1
tahu dia bagaimana? Ambisius, manipulatif. Dia bisa saja dengan mudah membuat Rumah
sakit itu hancur seketika dimata semuanya. Tidak bisa… Kita harus fikirkan ayah
yang telah membangunnya selama ini,” balas hans padanya.
Padahal itu hanya alasan semata, agar sofi tak lagi banyak berkata. Kehancuran
sebenarnya adalah untuk dirinya sendiri, Ia yang semua rahasianya dipegang Thomas
yang tak lain adalah pembunuh ayah sofi sebenarnya. Ia terjebak dalam
ketakutannya sendiri saat ini, dari semua rahasia dan kesalahan yang ia buat. Seperti
bola salju yang makin meggelinding semakin besar, dan menabrak sesuatu hingga
pecah tak beraturan.
“Itu masalah kamu, Mas. Kamu cari solusinya sendiri, aku akan maju urus rumah
sakit.” Sofi sudah merasa jengah padanya. Ia serasa ingin menutup mata dari apa
yang dilakukan suaminya saat ini, meski sebenarnya Ia juga takut jika Thomas benar-benar
nekat dan nantinya bisa menghancurkan Rumah sakit ayahnya.
Sementara itu, di markas tengah dipertontonkan dengan tingkah pengantin
baru yang mulai mesra. Mereka makan bersama dan hana tak ragu memberi perhatian
didepan mereka semua meski arga masih begitu dingin terhadapnya. Hana tak segan
menyuapi arga, karena saat itu arga masih fokus dengan laptop yang ada didepan
matanya.
“Tunggu kak arga selesai,” jawab hana.
Tapi saat itu, arga langsung meraih sendok yang hana pegang. Ia langsung
mengambil makanan dan menyuapi sang istri meski jauh dari kata mesra karena
tatapan matanya yang masih terus melirik laptopnya. Untung hana sigap, ia langsung
menyambar makanan itu hingga tak jatuh kemana-mana.
“Ga, istrinya dulu.” Tegur Zacky pada sahabatnya itu. Hanya hanya tersenyum,
karena setelah itu arga sedikit menyingkirkan pandangan dan menuju padanya.
“Kenapa manjas sekali, seperti orang hamil.” Tukas arga padanya.
“Apa hana boleh hamil?” celetuk hana, hingga arga langsung diam mematung
mendengarkannya.
“Kak, hana boleh hamil ngga?”
“Apa tujuanmu?” Justru arga bertanya mengenai tujuan hana ketika ingin
hamil anaknya. Seperti, arga sudah mencium bau rencana hana untuk Ia dan
kakaknya.
Saat itu hana tertunduk. Ia tak menjawab lagi untuk alasan yang arga
tanya padanya. Ia diam, meraih kembali sendok yang arga pegang dan kembali menyuapi
suaminya dengan semua makanan yang tersisa. Dan akhirnya, sebuah pertanyaan tak
__ADS_1
akan pernah mendapat jawaban dari keduanya.
Usai dengan makan siang, hana
terus menunggu arga dengan tenag dan duduk disofanya. Ia terus menatap arga
yang bekerja tanpa terganggu oleh suara tembakan
dan yang lainnya. Padahal pekerjaan itu jelas berbeda arahnya.
“Kak Zacky,” panggil hana pada zack yang saat itu tengah memegang
senjatanya. Zack masih berusaha mengasah kemampuan agar dapat diandalkan dengan
baik melindungi tuan dan nyonya saat ini.
“Ya, hana?” tanya zacky yang langsung menoleh padanya.
Hana langsung berdiri, ia menghampiri zacky yang masih mengenakan atribut
lengkap sebagai perlindungan dirinya dalam belajar menembak.
“Hana mau belajar, boleh?”
“Belajar apa?” tanya zacky sedikit keras padanya.
“Belajar nembak lah. Biar hana bisa melindungi diri kalau ada keadaan
darurat nanti. Boleh?” bujuk hana dengan mempertemukan kedua telapak tangannya.
“Siapa yang mau ajarin? Kakak ngga bisa. Masih amatiran ini,” tolak Zack
padanya.
Hana kemudian memanyunkan bibirnya. Ia murung memainkan kakinya
dilantai, seperti cara membujuk zack dan arga saat mereka masih sering bersama.
Itu biasanya cara ampuh, dan para pria akan segera menuruti permintaannya.
Zacky mulai kebingungan. Ia juga takut jika harus mengganggu arga dengan
fokusnya, karena ia akan murka dengannya. Hinga akhirnya zack melihat seorang
anak buah tengah menganggur usai makan siangnya, ia memanggil anak buah itu
dengan segera dan memintanya untuk mengjari sang nyonya menggunakan senjata.
“Baru pertama kali?” tanya pria itu, dan hana mengangguk padanya.
“Sulit,” ucap pria itu, tapi ia tetap berusaha menjalankan tugasnya
dengan baik untuk hana.
Pertama, ia membenarkan posisi hana terlebih dulu. Lalu membantu hana
agar dengan benar bisa memegang senjata. Kemudian mulai menyentuh tangan hana
untuk memulai mengoperasikan senjata itu.
Entah firasat atau apa, saat itu arga menatap mereka berdua. Ia lantas
menghentikan pekerjaan dan semakin intens mengarah pada mereka berdua dengan
tatapan tajamnya. Begitu tajam, hingga mungkin lalat yang lewat didepan matanya
akan tewa seketika karenanya. Atau, apapun yang menghalanginya akan teerluka
tertusuk ketajaman pandangan arga saat ini.
__ADS_1