
“Kamu kenapa?" tanya mia pada liska yang masuk kedalam dapurnya. liska tampak lemas ketika berjalan dan menghampiri mia disana seakan taka da semangat hidup untuk dirinya sendiri.
“Nyonya kenapa sama liska? Sepertinya tidak senang dari nada bicara,” ucapnya yang
meraih air lalu memasaknya sejanak sembari menyiapkan gula dan teh didalam gelasnya. Ia menceritakan bagaimana ekspresi hana pada dirinya ketika menawarkan teh berusan.
“Menurutku itu wajar. Nyonya meminta kami tak memperlakukan kamu sebagai maid dirumah ini karena kamu adalah seorang tamu. Itu saja,” jawab Mia, yang juga meminta agar liska tak perlu terlalu baper dengan apapun yang ia temukan dan ia dengar saat ini dari tuan ataupun nyonya mereka.
“Hanya ingin membalas budi, karena mereka telah menolong dan merawat saya beberapa
hari ini. Boleh saya membawa the ini ke kamar mereka?”
“Boleh, bilang saja saya sibuk. Dan jangan lupa, ketuk pintunya.” Jawab mia.
Liska mengangguk dengan penuh antusias, dan ia berjalan perlan terus menaiki tangga hingga sampai kekamar mereka.
Beberapa kali mengetuk, hingga akhirnya perlahan membuka pintunya sendiri disana dan melihat kemesraan mereka berdua yang begitu intim. Ia kaget, lalu mencoba menutup pintunya Kembali dengan cepat.
“Hana udah pesen, kalua mia aja yang anter tadi. Tapi kenapa dia lagi? Kan perlu istirahat
biar makin pulih,” omel hana yang kemudian merapikan gaun tidurnya yang sudah tampak berantakan akibat ulah arrga.
Hana kemudian keluar menghampiri liska, meninggalkan arga yang saat itu hanya bisa
menghela napas karena sudah mulai on gara-gara ulah hana padanya. Rasanya tak enak sekali, begitu terasa nyeri dibawah sana akibat hana yang terus menggoda dan berusaha membangunkannya sejak tadi.
__ADS_1
“Liska?”
“Iya, nyonya. Maaf, kak mia sedang sibuk tadi. Jadi liska yang anter, maaf kalua_”
“Maaf, saya ngga dengar kamu ketuk pintu. Dan lagi, ada bel disana,” tunjuk hana pada
bel yang ada ditengah pintunya. Mia tak memberitahu karena posisinya pasti akan terlihat karena tepat ada ditengah, menonjol dan cukup besar.
“Maaf,” Liska lagi-lagi menundukkan kepala penuh penyesalan dihatinya.
“Okey… Kamu Kembali kekamar, dan segera istirahat. Ingat, kaki kamu masih sakit,” titah
hana padanya.
Seetelah itu liska benar-benar menurut, dan ia segera membalik badan untuk turun dan Kembali. kedalam kamarnya yang ada dibawah, dan hana segera masuk Kembali pada suaminya disana yang tengah rebah. Ia mungkin akan mengulang dari awal lagi, karena sang naga telah tidur Kembali.
Tapi arga tak bergeming. Ia justru mengulurkan tangannya pada hana untuk duduk didekatnya. Tapi tidak juga, melainkan duduk diatasnya saat itu dan hana kemudian menunduk mendekatkan kepala didada arga.
“Aku, mulai besok akan semakin sibuk. Kau bisa dirumah saja? Jangan kemanapun, demi apapun,” pinta arga, dan hana kemudian mengangguk padanya.
“Apa ada kemungkinan, kakak bertemu dengan kak sofi lagi?”
“Kau cemburu lagi?” tanya arga padanya. Hana menegakkan kepala dengan dagu bertumpu. dikekapa arga, lalu tangan mulai memainkan dada arga dengan lincah hingga
kegelian karena ulahnya.
__ADS_1
“Hana Cuma mau nitip. Katakan pada kak sofi agar_”
“Agar apa? Hmm? “ tanya arga, tapi hana justru menggantung ucapannya. Ia justru meliuk-liuk diatas tubuh arga dan mulai memberinya beberapa kecupan disana tanpa jeda. Permainan lidahnya mmebuat arga bergidik geli, tapi juga seketika memancing gai rah yang sempat tidur beberapa saat tadi.
Suara kecupan dan hisapan itu terdengar jelas dari bibir nakal hana, turun terus dari dada hingga keperutnya. Biasanya hana senang sekali mukbang bibir, tapi itu sudah tadi dan hana memilih memainkan tempat lainnya yang lebih menantang saat ini. Dan ia bertekad, akan menjadi penghibur dan memuaskan sang suami malam ini.
Lidah nakal itu mulai memainkan pusar arga. Itu rasanya sangat geli sekaligus menyakitkan bagi arga yang merasakan sekujur tubuhnya ngilu saat ini. Arga hanya bisa mendongakkan kepala, memejamkan mata sembari sesekali mende sah hebat karena tingkah hana padanya yang bahkan saat ini sudah meloloskan celananya. Hana mulai liar, dan terus membuat arga melayang terbang hingga entah sampai kelangit lapisan
berapa.
Hingga akhirnya arga yang tak tahan lalu meraih lengan hana dan menarik tubunya untuk Kembali duduk diatas arga. Gaun tidur tipis itu seketika robek akibat ditarik paksa oleh gigi arga dan ia lempar sembarang dilantai. Arga memainkan gadis kecil itu hingga hana meremang, melayang mendongakkan kepala bahkan ingin menjerit sekuat tenaga. Tapi ia alihkan itu dengan menyerang dan menggigit telinga arga menggunakan bibirnya.
“Aaaahh!!” Hana tak tahan memekik saat ini, ketika arga memulai penyatuan keduanya. Ia mendongakan kepala, melentingkan tubuh yang tanpa sengaja mengekspose bagian dadanya yang bisa membuat arga semakin mudah menguasainya saat itu, hingga membuat hana semakin menggila.
Arga memegangi pinggul hana dengan satu tangan besarnya, membawa hana terus menari dengan indah diatas tubuh arga yang memang sudah memiliki kuasa atas dirinya. Hana saat itu sampai menyumpal mulut dengan lengannya sendiri, apalagi ketika arga yang terus saja bergerilya didanya.
Hana tampak kelelahan, dan juga ia sudah beberapa kali mencapai puncak yang belu terdaki oleh arga. Saat itu arga menjatuhkan tubuh hana diranjang, dan Kembali berkuasa dengan mengungkung tubuh itu dibawan dirinya. Saat itu, arga bisa menikmati semuanya sepuas hati tanpa terhalang apapun, apalagi melihat wajah hana yang begitu meng gai rahkan untuknya hingga ia semakin terjebak dalam suasana panas mereka.
Sementara itu, hans dirumahnya tengah galau setengah mati. Bisa-bisanya sofi menolaknya malam ini hanya dengan alasan kelelahan. Padahal pejantan Tangguh itu tengah amat ingin meluapkan hasratnya bersama sang istri. Padahal lagi, hans sudah merayunya dengan program hamil yang tengah gencar mereka lakukan saat ini.
Tapi, ia bingung karena sofi terus saja menolaknya hingga terasa begitu sesak dibawah. sana dan sudah dikuasai oleh bi rahi. Hingga akhirnya hans memutuskan untuk pergi keruang kerja, tapi itu hanya
alasan saja. Ia masuk ke kamar mandi ruang kerja itu dan melakukan permainan solo dengan tangannya, berbekal video dan suara yang ada dilayar ponselnya saat itu.
“Brengsek, sofi. Bisa-bisanya menolakku karena hal sepele seperti tadi. Andai ina tak
__ADS_1
bunuh diri, pasti aku sudah meluapkan semua ini denganya sejak tadi,” Hans terus meracau, sembari terus menggerakkan tangan dan mencapai puncak pelepasan sendiri disana.
Hans keluar dengan perasaan sedikit lega, meski rasanya amat beda dengan aslinya. Dan setelah itu, hans tidur diruang kerja dan tak Kembali kekemarnya lagi. Setidaknya nanti sofi akan melihatnya sebagai suami yang rajin, yang tak pernah bisa meloloskan pekerjaannya sedikitpun meski sudah ada dirumah.