
Sofi telahberdandan rapi pagi ini. Meski tak lag mengenakan seragam dokter kebanggannya,
tapi ia begitu cantik dengan setelan dan celana bahan yang ia pakai. Ditambah lagi
dengan make up yang ia kenakan, memakai lipstick merah merona yang cetar dan membahana.
“Sofi, kamu mau kemana?” tanya hans yang baru saja keluar dari kamar mandi. Ia masih mengusap kepala basah itu dengan handuknya, bahkan memar yang ada diwajah itu masih terlihat dengan jelas disana.
“Aku mau ke Rumah sakit lah, Mas. Mau kemana lagi? Mulai sekarang, Rumah sakit aku ambil alih sementara. Dan kamu akan bisa fokus untuk mencari hana.”
“Loh, kenapa begitu? A-aku bisa kok, atur semuanya. Kamu dirumah aja, dan_”
“Nanti kalau kelamaan dihajar Thomas lagi loh, gimana?” tanya sofi yang mulai memakaikan satu persatu pakaian pada sang suami. Ia harus melakukan itu, bersikap lembut agar semua orang tak curiga padanya saat ini dan bisa membuktikan semua perkataan arga padanya.
Ia tak bisa bergerak hanya dengan satu fakta, apalagi Rumah sakit sang ayah menjadi jaminan atas semua Tindakan mereka disana. Nama baiknya dipertaruhkan, dan sulit dikembalikan jika sudah tercoreng dengan begitu parahnya.
“Tapi itu akan membuatmu Lelah. Bagaimana rencana kehamilan yang tunggu sealama ini? Bukan
kah kau begitu menginginkan memiliki anak?” racau hans dengan segala alasan didalam kepalanya.
Bahkan rasanya sofi telah kehilangan keinginannya untuk memiliki anak dari hans saat ini. Untuk
hans menanam benih dirahimnya saja rasanya sofi sudah tak ingin sama sekali.
“Itu mudah. Jika semua selesai, maka kita akan damai, dan kita akan merencang semua itu
kembali.” Jawab sofi dengan lembut padanya. Andai itu bukan sofi, pasti perdebatan mereka akan begitu panas pagi ini dan mereka akan menyalahkan satu sama lain. Sofi tak ingin, tak ingin hans tahu jika ia telah menemui arga dan mendapat semua info itu darinya.
“Apakah, kau merestui hana dan-“
“Mau tak mau, Mas. Daripada keluarga kita hancur hanya karena dia, jadi aku mengalah saja.”
Pasrah sofi, dan saat itu langsung membuat hans tersenyum dan memeluknya dengan begitu erat.
__ADS_1
Entah bagaimana rasanya sofi saat ini. Ia pasti amat terngiang-ngiang dengan semua kejahatan
has, namun ia masih belum bisa melakukan apa-apa. Untung saja hans masih mengerti ketika sofi melepaskan pelukannya dengan berbagai alasan, apalagi hari sudah sangat siang dan ia harus segera mengantar istrinya ketempat kerja mereka.
Saat itu hans mengutarakan semua remcananya akan mencari hana kemana saja. Dimulai dari mana
dan akan berakhir kemana, hingga melaporkan semua pada pihak yang berwajib. Tapi saat itu sofi hanya diam, sesekali merespon sang suami alakadarnya karena apapun yang keluar dari mulut hans seolah tak dapat lagi ia percaya.
Sofi kemudian masuk kedalam Rumah sakitnya. Semua orang mentapnya heran ketika ia kembali
untuk bekerja dan begitu rapi. Terutama Thomas, yang saat itu segera menghubungi rekannya karena merasa tak akan bebas dengan kehadiran sofi disana.
“Kau bersembunyi diketiak istrimu?” cibir Thomas tanpa basa basi padanya.
“Dia hanya ingin aku fokus mencari hana. Bukankah kau sudah sangat menginginkannya? Kenapa
mengomel lagi?”
“Dia akan mengawasiku. Kau tahu sendiri bagaimana dia selama ini. Dan apakah kau tak punya cara lain untuk mencari adikmu itu? Kenapa... Kau lemot sekali?”
“Pokoknya kau tenang saja. Sebentar lagi, aku akan menemukan hana untukmu. Lagipula, bukankah simpanan kita masih banyak dirumah sana? Aku juga mencari gadis itu saat ini, jangan kau kira_... Ha-halloo? Aaah, memang brengsek dia. Seenaknya saja denganku, padahal aku lah bos yang sebenarnya.” Geram hans saat itu.
Ia kembali fokus dengan setirnya. Ia entah akan menuju kemana arah tujuan pencarian saat
itu. Ia sendiri bingung, bahkan hanya untuk melaporkan hana pada polisi. Karena hans, sangat membenci polisi yang baginya tak berguna. Yang bahkan tak bisa membedakan kasus jebakan dan pembunuh aslinya.
“Percuma lapor. Baru sebentar tunggu 24jam, udah lama kelamaan. Kena lagi, ribet akhinrya..”
racau hans dalam perjalanannya. Atau bahkan otak me sumnya sudah bekerja lagi untuk memcari ina saat ini.
Ya, radar pejantan Tangguh itu mulai bekerja. Ia akan mencari mangsanya saat ini dan akan
mengobrak abrik dirinya sebentar lagi.
__ADS_1
Sementara itu sang tuan muda agaknya kesiangan saat ini. Ia baru saja siap dibantu istrinya berdandan
rapi untuk pergi bekerja disemua tempat yang ia miliki. Cukup mesra saat itu,
ketika arga mulai menggoda istrinya ketika tengah memasangkan dasi untuknya.
“Kenapa cemberut? Hmm?” arga mencoleki hidung cantik sang istri saat itu.
“Hana bosen. Ngga boleh keluar ya?’
“Kau mau apa? Biar zacky atau mia yang mencarikannya.”
“Bosen, kok. Hana pengen keluar sesekali, boleh?”
“Tidak…” jawab tegas arga padanya, dan saat itu hana hanya bisa menghela napas panjangnya.
“Ikut aku ke club, disana kau akan mendapat sedikit hiburan. Kau mau?”
Hana langsung Mengembangkan senyum saat itu. Ia memeluk arga sebentar, tapi ia seketika melepasnya.
Ia ingat jika harus mengurus liska setelah ini, apalagi sebelum ia pergi. Semuanya harus beres, hingga tak ada yang lain tertinggal dan menjadi beban fikirannya saat itu.
Hana kemudian turun kebawah, meminta mia menyiapkan semua alatnya. Liska ia bawa duduk disofa
dan hana duduk dibawah untuk membersihkan lukanya. Meski saat itu para maid yang ada melarang hana untuk bersikap seolah tengah melayani liska yang ada disana.
Pekerjaan memang begitu cepat jika dilakukan dengan semangat. Hana tinggal melayani suami dengan
sarapannya, dan semua orang bertanya-tanya kenapa hana begitu ceria hari ini.
“Hana mau ikut kakak kerja,” ucap hana pada mia. Terdengar amat sederhana, tapi mungkin begitu
menyenangkan bagi hana saat ini.
__ADS_1
Hana dan arga pergi, liska menatap mereka dari kejauhan hingga gerbang mansion ditutup oleh
para penjaga yang ada. Mia menghampiri, dan jujur saja firasatnya seperti tak enak pada gadis itu saat ini.