Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 8


__ADS_3

"Tuan lapar? Jika iya, maka akan saya persiapkan dibelakang," ujar Nia, padahal wajah Zacky saat itu sudah amat pucat, lemah dan tak berdaya dengan rasa lapar yang mulai ia derita.


Melihat tingkah Zacky,  Nia hanya teesenyum simpul menutup bibirnya yang tipis. Ia segera berjalan menuju dapur dan mempersiapkan makan siang untuk Zacky yang kelaparan.


"Kau sudah bekerja lama disini?" tanya Zacky sembari mengunyah makanannya.


Sebenarnya itu tak diperbolehkan di mansion itu, karena jika makan mereka harus tenang tanpa suara. Tapi berhubung Zacky adalah orang baru, maka Nia memaklumi dan mencoba menasehati agar tak mengulangnya jika ada yang lain dirumah nanti.


"Saya ada sejak ibu disini. Ibu dan ayah pengikut setia Tuan Dirga selama hidup mereka."


"Lalu, mereka dimana? Orang tuamu," imbuh Zacky dengan mulut yang masih penuh makanan.


"Meninggal sejak sepuluh tahun yang lalu, Tuan. Saat peristiwa itu terjadi, dan orang tua saja juga jadi korban diantara mereka karena ingin melindungi... Tuan besar," jawaban itu mulai terbata karena mata Nia mulai dipenuhi airmata. Ia seperti terpukul mengingat sesuatu yang menyakitkan dalam hidupnya yang masih terbayang hingga saat ini.


" Ehmmm... Nia, Maaf." sesal Zacky, hingga ia tak mau mempertanyakan lagi mengenai kejadian apa yang menimpa mereka kala itu.


Nia hanya mengangguk lemah dan menyeka air mata yang bahkan sempat mengalir dipipinya. Ia berusaha tersenyum kembali dan memperlihatkan lesung pipitnya yang indah pada Zacky, hingga pria itu membalasnya dengan sebuah senyuman tak kalah indah.


"Tuan suka sambel?"


"Kok tahu? Enak banget, Nya." puji Zacky yang lahap seperti orang tak makan seminggu.


"Iya... Itu, cabenya nyangkut di gigi." tunjuk Nia dengan tangan mungilnya.


Suasana itu membuat Zacky canggung pada gadis manis yang ada dihadapannya saat ini. Ia kehilangan muka, saat ketampanannya yang paripurna itu harus dirusak oleh segelintir cabe yang nyangkut digiginya.

__ADS_1


Untung Nia bukan gadis yang mudah ilfeel, hingga Ia hanya tersenyum dengan kejadian yang ada didepan matanya.


Sementara itu Arga masih diam didalam kamarnya. Ia memejamkan matanya dan mulai mencoba menikmati semua fasilitas yang ia terima dari ayahnya, dan mulai merencanakan bagaimana cara membalas dendamnya.


"Aku harus segera mencarinya," gumam Arga sendirian.


Ia hanya ingat jika Hans memang pernah mempertemukan ia dan Hana dimasa lalu. Tapi kala itu Hana masih kecil, mungkin masih Lima belas tahun kala itu karena masih mengenakan seragam SMP dan begitu imut baginya.


Pastinya sejak beberapa tahun berlalu, wajah itu sudah amat berubah hingga Ia mungkin tak akan mengenalinya dengan cepat seperti kemarin-kemarin kala mereka bertemu dan makan berdua di warteg langganan Ia dan para sahabatnya.


Hingga kini malam telah tiba. Yang tanpa sadar Arga tidur pulas diranjangnya yang empuk dan begitu membuatnya terlena.


Nia yang cemas karena Arga belum makan sejak siang, meminta Zacky untuk segera membangunkannya agar setidaknya mengisi perut sebelum makan malam tiba.


"Iya, nanti kan makan malam barengan penyambutan. Nanti makannya lama, ini itu dulu. Takut nanti sakit gimana?" bujuk Niapada Zack yang tengah santai bermain hp kali ini.


"Arga... Bangun, Ga..." panggil Zaky yang menghampiri lalu menggoyangkan tubuh Arga yang terlelap.


Agaknya memang Arga merindukan kasur empuk karena selama ini tidur dikasur yang tipis dan keras. Apalagi udara disana yang tak karuan rasanya. Untung saja arga tak kumat alergi udaranya, jika iya maka arga akan keluar dengan tubuh yang kurus kering bak manusia kekurangan gizi.


"Yang ada malah makin berisi, keker dan atletis." gumam Zack yang justru mengagumi tubuh sahabatnya tanpa pakaian atas itu.


Sangkin penasaran Zack naik keranjang guna memastikan semua otot yang menonjol itu adalah asli. Ia meraba dan sesekali mencubitnya sembari kepalanya mengangguk angguk percaya jika tubuh arga memang sudah semakin sempurna saat ini.


Zack lalu turun karena rasa penasarannya hilang. Namun, tangannya langsung dicekal oleh arga dengan kuat dan membanting tubuh kurus itu ke ranjang dengan posisi tengkurap dan arga duduk diatasnya. Tangan nakal itu arga lipat kebelakang dengan sedikit kuat, hingga Zack meraung-raung karena kesakitan.

__ADS_1


"Weyy... Ampuuuun. Kau kenapa? Kesurupan atau mimpi buruk?" teriaknya.


"Kau yang kenapa? Seenaknya masuk dan merabaku. Kau sakit?" tukas Arga.


"Aku hanya memastikan, itu otot asli atau buatan. Bagaimana kau membentuknya hingga sempurna? Itu saja. Aku masih normal!" pekiknya, berusaha lolos dari cengkraman arga yang begitu kuat padanya


Memang sangat kuat, yang bahkan menggerakkan tangan saja tak mampu bagi zack kali ini. Berkali-kali Zack mengerang dan berusaha melawannya, namun tenaga yang Arga miliki saat ini seolah tak terkalahkan.


Praang!! Suara datang begitu mengagetkan kedua pria itu hingga menoleh bersamaan.


"Astaga, Tuan!" Nia tak sengaja memecahkan gelas yang Ia bawa saat masuk kedalam kamar itu. Ia hanya ingin mengantar air untuk Arga, karena sejak tadi Ia belum makan atau minum sedikitpun.


Arga melepas Zacky, lalu bediri memakai piyamanya untuk membantu Nia membereskan semua pecahan yang ada.


"Tuan, biar saya saja." ucap Nia yang tak enak hati. Arga menurutinya dan berdiri, kemudian pergi dan turun untuk mengambil makan siangnya sendiri disana.


Ia hanya belum terbiasa dilayani oleh orang asing, karena selama ini hanya Ibu yang selalu ada untuknya. Namun Ibu tak pernah memanjakan anak kandungnya karena memilih mendidik arganya secara mandiri.


"Tuan, Anda baru makan siang?" tanya Sam yang mendadak datang padanya.


"Aku ketiduran, tak apa. Ada apa?" tanya Arga sembari mengunyah makanannya.


"Kita ke Club sore ini. Disana ada beberapa sambutan untuk Anda dari mereka semua."


"Persiapkan... Aku akan segera merapikan diriku sebentar lagi," titahnya, dan langsung dibalas anggukan Sam yang tampak super sibuk itu..

__ADS_1


Wajar saja, karena Ia menjadi penanggung jawab atas semuanya saat ini. Ia harus memperkenalkan sosok Arga pada mereka semua, agar tak ada pertentangan antara satu dan yang lainya.


Usai makan siang arga segera membersihkan dirinya. Sam juga memerintahkan Zack untuk mengikuti apa yang arga lakukan karena ia akan ikut kemanapun arga pergi mulai hari ini. Bahkan mereka membelikan [pakaian Zack yang lebih formal dan rapi sebagai pendamping ketua mereka.


__ADS_2