Dendam Cinta Sang Mafia

Dendam Cinta Sang Mafia
Part 54


__ADS_3

Hari sudah semakin sore, bahkan menjelang malam. Ini pertanda jika sebentar lagi para penjaga rumah tua itu akan segera mengistirahatkan diri mereka dari semua pekerjaan yang ada. Mereka akan masuk kedalam ruangan untuk membersihkan diri dan sebagainya. Dan setelah itu, mereka akan mengantar makanan untuk seluruh tahanan yang mereka kurung dikamarnya.


“Jangan ragu. Pergi saja jika kau mau pergi, dan kami akan mendukungmu dari sini. Ingat, jangan lewatkan kesempatan yang diberikan


oleh gadis tadi.” Ujar seorang Wanita yang ada disana. Jika ia bisa meminta, ia


saja yang lari karena ia rindu dengan anaknya disana.


“Kalian?”


“Kami akan diam. Tapi kamu juga harus perjuangkan kami nanti, berusaha untuk bebaskan kami disini.” Balas yang lain padanya. Dengan semua semangat yang diberikan. Gadis Bernama Liska itu menjadi semakin yakin dan memantapkan diri untuk segera pergi. Apalagi dengan semua dukungan yang ia dapat dari sesama tahanan disana.


“Baiklah, aku akan segera pergi. Aku… Aku janji akan memperjuangkan dan membebaskan kalian yang tersisa disini.” Ucap Liska dengan begitu antusiasnya.


Mereka disana diam, menunggu waktu yang tepat dan saling memberi kode untuk kepergian liska. Hingga seseorang yang tepat  ada diujung pintu, berusaha membuka kunci dengan tongkat yang ia sembunyikan selama ini dibawah kasurnya.


“Berhasil,” ucapnya dengan lirih, namun terdengar begitu bahagia.


Kenapa Liska? Karena dia yang paling muda diantara mereka. Dan lagi, dia yang tersentuh oleh Ina tadi pagi. Mereka percaya, jika


ina masih memiliki tenaga yang begitu kuat untuk berlari, dan ia memiliki otak


yang cerdas untuk kabur dari tempat itu.

__ADS_1


Waktunya sudah tiba. Liska mulai melepas kunci dari jeruji yang mengurungnya. Ia sudah pamit, hingga tak perlu lagi mnegulur waktu dengan tetesan air mata diantara mereka.  Yang ada hanya tekad, keluar dan menyelamatkan diri saat ini. Apalagi ia tahu ada beberapa cctv dirumah itu.


Langkah demi Langkah liska keluar menuju ruangan yang ada. Mengendap endap, terus seperti itu dan menyingkir ketika ada orang lewat didekatnya. Ia juga tahu, Dokter Thomas sedang tak ada disana mala mini, hingga mereka memang santai dalam penjagaan.


Hingga akhirnya liska menemukan pintu keluar. Ia mengendap lagi dengan Langkah yang cepat membuka pintu lalu keluar dari sana. Tapi Ia lupa, jika rumah tua itu juga memiliki halaman yang luas untuk ia lari.


Apalagi, ia juga tak begitu paham denga isi kota ketika sudah ada diluar nanti.


“Yakin,” Optimis liska pada diri sendiri.


Ia berlari dan terus berlari, berusaha tak


mengeluarkan suara sama sekali hingga menimbulkan kecurigaan dari mereka semua


Alarm berbunyi.


“Astaga!!” Liska panik, karena tak membayangkan ini sebelumnya. Yang pasti para penjaga sudah menyadari hal ini, dan mereka bersiap mengejarnya kali ini atau bahkan siap menembaknya demi ia tertangkap dengan segera.


Liska berusaha meraih ujung atas tembok untuk bisa meloncatinya.


Namun sulit karena cukup tinggi, apalagi ia tadi pagi terserang demam hingga masih


sedikit lemas saat ini. Mendengar panggilan atas Namanya, liska menarik napas dan

__ADS_1


memasang kuda-kuda untuk bisa meloncat lebih tinggi hingga mencapai puncak


pagar yang ada.


“Hiaaatsss!!” Akhirnya liska mampu mencapainya saat itu.


Ia perlahan naik, menyeimbangkan diri agar tak jatuh dari sana dan akan semakin berbahaya untuknya dan mereka semua.


“Berhenti! Atau….” Pekik seorang pria padanya. Tapi liska tak menggubris, dan terus berusaha sekuat tenaga untuk pergi dari sana.


Doooorr!! Sebuah tembakan tepat mengenai betisnya. Liska berusaha tak teriak, hanya mengatupkan bibir dan mengangkat kaki berpindah keluar pagar. Dan setelah itu, ia benar-benar meloncat kesana turun kebawa.


Dengan segala rasa sakit yang ada liska berlari sekuat tenaga menghindari mereka semua yang pasti akan ikut keluar untuk mengejarnya. Saat itu liska berusaha bagaimana agar kucuran darai kakinya tak menjadi jejak untuk pencarian mereka. Yang bahkan liska merobek kaos oblong yang ia pakai untuk membalut luka seadanya.


“Club tiger, kak Ina… Club tiger, ka kina.” Seperti itu terus ia ucapkan sebagai kekuatan baginya. Bahwa ia harus sampai di club, den


mecari ina untuk segera bisa menolongnya.


Ia terus berlari dan berlari, bersebunyi dimanapun ia bisa ketika sadar mereka sudah dekat padanya. Ia tak boleh tertangkap lagi,


karena perjuanganya akan sia-sia setelah ini. Ia harus bebas, berjuang dan membebaskan mereka semua yang sempat terkurung bersamanya selama beberapa bulan ini.


“Ayo liska, kamu pasti bisa.”

__ADS_1


__ADS_2