
“Hana mau hp baru,” rengek hana ketika tengah memakaikan jas untuk arga.
Wajar saja ia ingin hp baru, karena selama ini hanya bisa menghubungi arga melalui telepon rumahnya saja. Itu membuatnya sedikit tak nyaman karena akan mengurangi kein timan mereka berdua karena akan banyak orang yang mendengarnya.
Tangan arga meraih kepala hana lalu mendekapnya. Menecup rambut lembab itu dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang, seakan hana masih tak percaya jika arga sesayang itu padanya saat itu.
“Tunggu hingga semuanya selesai. Apapun yang kau mau, semua akan ku turuti.” Lirih arga padanya.
Hana hanya menganggukkan kepala, dan ia membereskan sang suami hingga benar-benar siap untuk pergi. Meski hana tak tahu, kemana arah tujuan arga saat ini dengan segala rencananya. Tapi yang jelas, arga akan menemui sofi pagi ini karena sofi memiliki satu dokumen yang harus ia berikan sendiri pada arga.
“Ngga mungkin kan, jika kak sofi menjebak kita?” Entah kenapa pertanyaan itu seketika terlontar dari bibir manis hana yang mulai penuh curiga. Yang ia tahu, sofi memang sudah begitu cinta mati pada kakaknya hingga mau mempercayakan semua harta padanya.
“Aku tahu, sofi bagaimana.” Arga mencoba menenangkan sang istri saat itu.
Mereka berjalan berdua menuju meja makan, dan semua telah menunggu disana. Suasana tampak tegang, karena mereka semua sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Mereka mengencangkan ikat pinggang, bersiap kapan saja untuk menghadapi perang.’
Arga meminta beberapa anak buah lain dari markas untuk memperketat penjagaan di mansion mereka. Bahwa apapun yang terjadi, jangan biarkan orang asing masuk kedalam mansion itu, dan mereka semua disana rata-rata amsih paham dengan sosok Thomas yang juga pernah tinggal di mansion sebelum arga ada.
Hana melepas Aega pergi meski dnegan berat hati. Ia bahkan mendoakan agar semua baik-baik saja dan berharap agar perang ini tak benar-benar terjadi meski itu kenyataannya mustahil.
Para penjaga dengan cepat menutup gerbang dan pintu yang ada. Bukan hanya hana, tapi mereka juga mengawasi liska agar tak pergi kemana-mana setelah ini. Liska adalah aset mereka, satu-satunya yang bisa bebas dari kurungan yang dibuat agar bisa mengambil organnya kapan saja.
__ADS_1
Arga dan zacky segera menuju sebuah hotel, dan disana mereka bertemu dengan sofi. Dihotel lebih aman, karena tak akan banyak mata yang memandang dan mengawasi mereka bertiga. Ya, zacky harus terus ada disana sebagai penengah mereka saat itu.
“Ini, aku hanya punya ini sekarang. Ini data hans yang membuat sebuah kelompok pendonor organ, an cukup banyak pengikutnya. Mereka rata-rata ingin beramal, berharap agar kematiannya bisa menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain. Niat mereka sudah benar dan patut diacungi jempol sebenarnya. Tapi, oknum yang memanfaatkan mereka itu bukan manusia.” Cecar sofi dengan geramnya.
Sofi tahu, jika para anak buah arga sudah lebih baik dan cekatan darinya. Ia juga tahu jika arga sudah menarik semua anak buah dari Rumah sakit mereka saat itu. Sofi juga memohon, agar arga bia menyelamatkan Rumah sakit milik ayahnya saat ini agar tak hancur karena semua masalah yang ada. Dan ia bahkan bersimpuh meminta maaf pada arga mengenai masa lalu mereka.
Tapi semua sesal itu percuma, arga sudah tak mau lagi mendengarnya. karena apapun alasannya, itu semua tak akan membuat ibunya hidup kembali saat ini.
“Kau tahu? Aku bahkan merasa pergerakanku sangat lambat saat ini. Aku harus teliti, karena begitu banyak pihak tak bersalah pasti akan ikut korban dalam semua ini. Pulanglah, anggap tak terjadi apa-apa dengan kita hari ini apalagi bertemu.”
“Satu saja, Arga. Bagaimana kabar hana saat ini? Aku sangat merindukan dia, ga. Aku mohon, pertemukan kami sebentar saja,” tangis sofi memecah keheningan ruangan itu.
Zacky seketika meraih tubuhnya untuk berdiri, dan ia memeluk Wanita itu dengan erat saat ini. Zacky mewakili semua jawaban arga untuknya, yang mengatakan jika hana baik-baik saja bersama mereka. Keduanya Sudah menikah, dan bahkan saling mencintai saat ini.
“Benar ga? Kamu menikahi hana dan mencintainya?” tanya sofi padanya.
Arga memang tak menjawab, tapi dari raut wajah arga sofi sudah dapat melihatnya. Jujur saja sofi bahagia, dan berharap arga bisa menjaga hana dengan sebaiknya tanpa memandang lar belakang kakaknya. Sofi sendiri sudah tak mampu berkata-kata lagi saat ini, hanya bisa merapikan diri dan pamit pergi. Seperti yang dikatakan arga, jika ia harus biasa saja dan seolah tak pernah bertemu arga .saat ini.
“Dan… ini,” Arga memberikan sebuah kertas pada sofi. Itu adalah surat dari hana untuk kakak iparnya, dan berharap sofi membuang itu segera setelah membaca semuanya. Bahkan ia harus merobeknya hingga hancur dan tak berbekas sama sekali setelah itu
Sofi menurutinya. Ia naik taxi untuk kembali pulang ke Rumah sakit dan dijalan ia membaca surat dari adik iparnya. Ia menangis tersedu-sedu, mendengar semua kata rindu yang diucap hana untuknya saat itu. Ia juga bahagia, ketika hana mengungkap semua kebahagiaannya ketika bersama arga.
__ADS_1
Perasaan sofi saat ini bercampur aduk menjadi satu, tak bisa tergambarkan oleh kata-kata. Tapi, setelah itu ia segera mengusap air mata yang sempat tumpah, jangan sampai meninggalkan jejak diwajahnya. Wajahnya tak boleh sendu, dan matanya tak boleh bengkak setelah itu. Ia harus kembali berjalan tegap, agar hans dan Thomas tak curiga padanya.
“Bu sofi, baru saja pak hans pergi dari sini.” Ucap salah seorang sekretarisnya.
“Pergi, kemana?”
“Saya kurang tahu, Bu. Tapi katanya ada keperluan mendesak,”
“Ah, baiklah…” jawab sofi. Dan ia saat itu juga mencari tahu, apakah Thomas ikut pergi dengan suaminya atau tidak. Dan benar saja, mereka pergi berdua seperti kembar siam yang tak akan pernah terpisahkan.
“Kemana kalian? Apa ada pesanan lagi?” tanya sofi dlaam hati dengan wajah datarnya.
Sedangkan saat itu di mansion, semua orang dalam keadaan tegang. Mereka hanya bisa diam dan tak bisa melakukan apa-apa saat ini karena penjagaan tengah lengang. Hanya benar-benar menjaga pesan arga pada mereka semua sebelum ia pergi tadi pagi.
Dooorr!! Suara pistol menembak sesuatu, dan suara pekikan beberapa penjaga yang ada didepan sana. Hana samar-samar mendengar semuanya, dan ia berdiri dengan cemas menanti apa yang terjadi di balik pintu besar yang ada didepan mata.
Kreekk! Pintu terbuka. Seorang penjaga penuh luka masuk dan langsung mencari hana.
“Nyonya, segera pergi dari sini lewat pintu belakang!” pekik Jek saat itu padaya.
Hana ketakutan, dengan gugup ia meraih tangan mia dan liska untuk segera mengajaknya pergi dari sana. Namun,
__ADS_1
suara satu tembakan lagi sekaan membuat tubuhnya beku.
“HANAAAA!!!” pekik seorang pria, yang hana tahu itu siapa.