
Kio mendapati Maisa menunggunya di tangga depan kamarnya seraya memainkan ponselnya. Gadis itu buru-buru berdiri menghampiri Kio. Tergurat gambar kesedihan di raut wajahnya. Matanya terlihat agak sembab. Sepertinya adiknya yang bodoh ini habis menangis. Kio mencoba mengabaikannya. Maisa menangkap lengan kirinya.
"Apa?"
"Maaf, Kak. Aku keterlaluan kemarin. Aku cuma ingin dekat denganmu."
Maisa menunduk sambil menggigit bibirnya. Kio menghela napas, melepaskan genggaman tangan Maisa. Kemarin ia juga merasa keterlaluan padanya.
"Sudahlah. Aku lelah."
Hanya itu yang terucap dari mulutnya. Apa yang baru saja ia katakan. Kio ingin meminta maaf tapi merasa harga dirinya terluka hingga mengurungkan niatnya. Ia menutup pintu kamarnya, meninggalkan Maisa yang menatapnya sedih.
"Aku akan menjauh dari temanmu, Kak. Jangan khawatir. Aku tidak suka melihat kakak bertengkar."
Kio berdecak kesal. Ada sesuatu yang menusuk kedalam hatinya. Sesuatu yang sangat mengganggunya. Kio melempar tas dan menghempaskan tubuhnya ke kasur. Samar-samar ia mendengar pintu kamar Maisa di sebelahnya tertutup.
Dasar Maisa bodoh!
...****...
Maisa berjalan santai, tangannya masuk ke saku jaketnya. Headset tersemat manis di telinganya, mendengarkan musik kesukaannya. Bibirnya bersenandung kecil mengikuti alunan lagu. Kesenangannya terusik melihat orang-orang di sekelilingnya berbisik. Ia merasa heran karena beberapa mahasiswa memandangnya dengan tatapan aneh.
Maisa mengenal tatapan mereka. Tatapan ketakutan dan kengerian yang ditujukan padanya. Ada apakah gerangan? Maisa ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun ketika ia ingin mendekati salah seorang mahasiswi, orang itu menjauh. Wajahnya menunjukkan rasa jijik. Maisa bertambah bingung.
Mengenyahkan semua pemikiran buruknya, Maisa memutuskan langsung ke ruang kuliah. Suasana yang semula ribut mendadak sunyi ketika Maisa memasuki ruangan. Teman sebangkunya pun menjauh. Maisa semakin tidak mengerti. Namun ia memilih untuk diam saja, tak ingin berprasangka.
Pak Miki memasuki ruangan. Pandangannya langsung tertuju pada Maisa. Wajahnya terlihat menyeramkan menurutnya. Apa ia sedang marah. Tapi untuk apa? Meski begitu, banyak mahasiswi yang mengidolakannya.
“Maisa... Bapak ingin bicara denganmu sekarang di kantor saya.”
"Baik, Pak."
Pak Miki langsung keluar diikuti oleh Maisa. Mahasiswa yang ada disitu menatapnya sambil berbisik-bisik. Keduanya berhenti di depan kantor kajur. Pak Miki duduk di kursinya. Maisa melihat tulisan di meja, Kepala Jurusan Manajemen Bisnis - Miki Irwanto.
“Maaf, Pak. Apa Bapak marah dengan kejadian yang kemarin?” tanya Maisa memberanikan diri.
Pak Miki menatapnya tajam. Nyali gadis itu menciut, menundukkan wajahnya. Pak Miki mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Maisa. Gadis itu menerimanya dengan wajah heran. Ia melihat ada sebuah video berdurasi pendek berjudul "Bullying Seorang Siswi SMA".
Dalam rekaman ada seorang siswi SMA menghajar beberapa anak laki-laki dengan brutal sampai terluka parah. Seseorang yang nampak tidak asing. Maisa terkejut melihatnya. Mulutnya menganga melihat video itu. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia menyembunyikan tangannya yang mengepal ke bawah meja.
“Dari mana Bapak dapat video ini?” Suaranya bergetar.
Alih-alih menjawab pertanyaan Maisa, Pak Miki mengatakan hal yang membuatnya bertambah syok.
“Video ini sudah menyebar di kampus!”
“Apa? Sejak kapan?” tanyanya.
Maisa kemudian teringat kejadian tadi pagi. Banyak mahasiswa menghindarinya. Mereka takut bukan karena video itu, tetapi takut berurusan dengannya. Mendadak kepalanya menjadi pusing. Pikirannya kacau. Ada banyak tanda tanya di hatinya. Siapa yang menyebarkan video itu? Dari mana orang itu mendapat video? Dan siapa yang merekam video itu?
“Apa ini benar kamu, Maisa?” tanya pak Miki dengan hati-hati.
Mata Maisa kosong menatap jendela kantor. Ia mengangguk dan tersenyum getir.
“Tapi kejadiannya bukan seperti itu, Pak. Video ini sudah lama. Bagaimana bisa-."
Maisa teringat ancaman Kio beberapa waktu lalu sambil menunjukkan video itu. "Kalau masih mendekati temanku. Kau akan tahu akibatnya."
__ADS_1
Ah... Begitu. Benar-benar licik.
Pak Miki menyodorkan surat pemberitahuan skorsing. Tatapan penuh simpati, namun anak didiknya tak mau mengatakan apapun penyebabnya menjadi seperti itu.
"Belum lama ini kamu kuliah di kampus ini sudah membuat masalah. Di dalam video ini terlihat tidak ada moral dan etika sama sekali. Bapak tidak tahu apa yang membuatmu jadi seperti ini. Untuk menghindari nama kampus tercemar, dengan berat hati kamu akan diskorsing."
Wah... Hidup memang sungguh dramatis. Masa kuliah tenang yang diidam-idamkan sirna sudah. Seseorang mengorek-orek masa lalunya. Tangannya meraih surat skorsing, meremasnya sedikit.
"Video itu sudah menyebar. Apa boleh buat sudah terlanjur. Lagipula saya tidak peduli. Kalau begitu saya kembali ke kelas dulu. Ada beberapa mata kuliah yang harus diselesaikan.”
Pak Miki tidak berkata apa-apa. Ia memandang Maisa yang menghilang dari balik pintu.
“Bukannya tidak peduli. Tapi seolah-olah tak peduli,” gumannya.
Di perpustakaan Maisa merenung sendirian. Buku yang dibacanya pun dibiarkan begitu saja tergeletak di meja. Di sebelahnya ada secarik surat kusut. Pandangannya menerawang.
“Hei, kamu lihat video tadi. Cewek itu gila bisa menghabisi empat orang preman,” kata salah seorang mahasiswa di balik rak buku.
“Bukan gila lagi tapi dia monster. Bayangkan saja, mana ada sih cewek yang bisa mengalahkan berandalan kalau bukan monster.”
“Iya juga, sih. Cewek itu menyeramkan sekali. Jangan sampai kita berurusan dengannya.”
Maisa yang mendengar semua pembicaraan mereka meneguk ludah. Sebegitu mengerikannya kah dirinya? Apakah itu salah?
“Bagaimana? Enakkan rasanya menjadi selebritis.”
Kio duduk di depannya sambil tersenyum. Tangannya meraih kertas skorsing. Membacanya sesaat dan meremasnya. Maisa memandang kakaknya dengan wajah masam.
“Kak dapat video itu dari mana?”
Maisa tersenyum. “Oh... begitu! Terima kasih ya sudah memberi tahu profilku. Itu reputasi yang bagus sekali. Jadi aku tidak perlu khawatir kalau diganggu sama berandalan karena kecantikanku."
"Cantik? Si angsa buruk rupa ini?"
Kio menyemburkan tawa. Sejak kapan adiknya senarsis ini. Memasang wajah mengejek, Maisa sedikit kesal dibuatnya.
“Mau dikirim ke ICU," bisik Maisa ke telinga Kio.
“Kamu tau kan kalo aku ini monster yang haus akan jiwa-jiwa manusia. Apalagi manusia muda sepertimu. Sangat menyenangkan menghajar orang dan menyaksikannya sekarat di depanku.”
Kio merinding mendengar perkataan Maisa. Wajahnya sedikit memucat tetapi berusaha ditutupinya. Wajah Maisa berubah menyeramkan. Kio meneguk ludah. Maisa meraih kerah bajunya.
“Kau serius, Maisa.”
Maisa tersenyum misterius. “Kenapa? Takut? Bukankah kau juga pandai berkelahi, masa tidak berani melawanku. Apa karena aku ini perempuan atau kau memang pengecut? Oh, ya. Kau mau bagian mana yang ingin kupatahkan. Kaki? Tangan? Leher? Tulang belakang? Atau kepalamu yang ingin kubuat bocor?”
“Gila, ya! Kau mau membunuhku?”
“Tentu saja. Bukankah kau yang ingin mati ditanganku? Aku benarkan? Tadi bukannya kau ingin main-main denganku?”
“Hentikan!”
Seorang mahasiswa yang memberanikan diri melerai mereka meski tangannya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Maisa tersenyum padanya, melepaskan Kio. Beberapa orang mahasiswa berkumpul di sana dan menatap kejadian barusan dengan pandangan ngeri. Seorang model diancam oleh seorang mahasiswi?
“Sayang ya kita tidak bisa bermain-main. Kau beruntung hari ini. Lain kali aku tidak akan memberi ampun.” Maisa berbisik di telinga Kio. Dia beranjak keluar dari perpustakaan itu.
"Itu bukan aku!" seru Kio
__ADS_1
Maisa terhenti sesaat, namun dia tidak menggubrisnya, menghilang dari balik pintu. Mahasiswa disitu menanyakan keadaan Kio. Kio segera pergi dari tempat itu dengan hatinya kesal. Ia membuka ponselnya, melihat riwayat pengiriman. Segera membanting ponselnya. Beberapa orang yang lewat langsung menyingkir tak ingin berurusan dengannya.
"Siapa bedebah yang berani membajak hp ku!" serunya gusar.
...****...
Raut wajah pak Chandra terlihat menyeramkan. Ia sangat marah kepada Maisa. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tak berani menatap wajah ayahnya.
“Apa-apaan ini? Sudah ku bilang, jika kau membuat ulah di sini akan ku kembalikan ke rumah nenek dan tidak akan pernah ku ijinkan kau kembali,” bentak pak Chandra berang.
“Bukan Maisa yang menyebarkannya, Pa. Lagipula itu peristiwa lama sekali.”
“Kau benar-benar tidak tahu berterimakasih. Sudah untung kau di bawa kesini masih saja membuat ulah. Kau memang bocah iblis.”
Hatinya terasa nyeri. Ayahnya tak sekalipun mendengarkan penjelasannya.
“Maaf, Pa.”
“Ku dengar kau juga ingin memeras Kio? Ingin membunuhku, ya? Memangnya uang saku yang diberikan tidak cukup hingga memeras Kio. Kau benar-benar keterlaluan.”
“Tapi, Pa. Itu tidak seperti itu." Suara Maisa tercekak. Air mata menggenang di sudut matanya, namun ditahan sekuat tenaga.
“Sudahlah! Lain kali jika kau melanggarnya aku akan mengirimmu kembali kerumah nenek.”
Maisa keluar dari ruang kerja ayahnya.
Langkahnya terhenti melihat Kio berdiri di depan pintu. Gadis itu beranjak pergi dengan matanya terlihat basah. Ia ingin menahan Maisa namun diurungkan. Kio yang mendengar percakapan itu mengumpat kesal.
Mia datang ke kampus, mendengar berita kurang menyenangkan. Kejadian itu menyebar ke seluruh kampus bak virus menyerang mereka. Semuanya membicarakan Maisa. Ia menonton video itu juga. Ada perasaan ngeri singgah di benaknya. Teringat perkataan Maisa saat pertama kali bertemu, ia sering berkelahi. Mia menekan ikon telepon.
Aku tahu kamu mau bilang apa.
Suara Maisa terdengar dari seberang telepon sambil tertawa. Mia mendengus kesal. Maisa tidak pernah memberitahunya jika ada masalah.
"Itu benar kamu?"
Mia, apa kamu lupa kalau aku pernah bilang sering berkelahi.
Bibir Mia bergetar. Wajahnya menyiratkan kesedihan. “Jadi itu benar.”
Kamu takut? Wajar sih kalau takut. Sebenarnya aku juga takut pada diriku sendiri. Kenapa aku seperti ini dan sejak kapan? Tapi aku sekarang tidak peduli orang mau bilang apa. Ya beginilah aku.
"Aku tidak takut, kok!"
Oh, ya!
“Oke. Kalau takut tentu saja semua orang takut. Aku juga sedikit takut. Tapi bukannya sekarang reputasimu yang penting?”
Maisa hanya tertawa di ujung telepon.
Reputasi! Apa sih reputasi? Banyak orang yang punya reputasi baik sebenarnya jahat, kok. Jadi apa masalahnya?
"Dasar Maisa bodoh!"
Mia langsung menutup teleponnya dengan kesal. Ia sungguh mengkhawatirkannya. Reaksi gadis itu membuatnya kesal.
Suara bunyi telepon terputus dari seberang seperti sebuah tamparan melayang di pipi Maisa. Wajahnya memandang ponselnya tanpa ekspresi. Entah apa yang dipikirkannya. Tak ada yang tau kecuali Maisa sendiri. Ia meringkuk mendekap kakinya. Membenamkan wajahnya.
__ADS_1