Di Batas Cakrawala

Di Batas Cakrawala
Ch.72 Bertahan


__ADS_3

Suara monitor detak jantung memenuhi ruang ICU. Evan duduk di samping Lucy. Menggengam jemari kurus gadis itu. Sebelah tangannya membelai lembut pipinya yang memucat. Gadis itu masih belum mau membuka matanya hampir tiga tahun lamanya.


"Kuharap kau mau membuka matamu lagi. Aku sangat merindukanmu."


Badannya menelungkup, memiringkan wajahnya. Ia menggunakan tangan kirinya sebagai bantal. Sorot matanya dipenuhi dengan kerinduan dan kesedihan disaat bersamaan.


"Maafkan aku tak bisa melindungimu."


Dadanya terasa sesak. Rasa bersalah memenuhi setiap relung hatinya.


Terdengar suara pintu bergeser. Maisa masuk ke dalam ruang ICU. Di tangannya ada vas bunga kecil. Ia menata mawar yang dibawa Evan ke dalam vas dan menaruh di meja samping Lucy terbaring.


"Kita harus pergi. Sebentar lagi Papa dan Mama Lucy akan datang," ujarnya pelan.


Berat rasanya meninggalkan gadis itu sendirian di kamar dingin ini. Ada yang harus dilakukan untuk kebaikannya. Evan mencium kening Lucy dengan lembut.


"Aku akan datang lagi." Evan tersenyum tipis, mengusap lembut kepala gadis itu.


Maisa dan Evan berjalan beriringan keluar dari rumah sakit. Keduanya membisu. Sesampainya di luar, Maisa menghentikan langkahnya.


"Apa yang akan kau lakukan sekarang? Mereka tak kan semudah itu memaafkanmu."


"Aku akan meminta maaf sampai mereka mau memaafkanku. Bagaimana denganmu?" balas Evan sembari mendongak menatap langit kelam.


Maisa turut mendongakkan kepala. Ia menghela napas panjang. "Kak Kio mau menerimaku, tapi tidak dengan Papa. Aku memohon selama lima belas tahun. Yah, kau tahu, itu tak berhasil. Jadi aku menyerah. Akan lebih baik jika aku menjalani hidupku sendiri sekarang."


Evan tertawa kecil. "Entah kenapa kita terlihat mirip."


Maisa menahan senyumnya. "Tidak! Kita tidak mirip. Karena kau masih belum menyerah."


"Ah.... Kau benar."


Sekelebat bintang jatuh membelah langit malam. Maisa membuat sebuah permohonan. Ia berharap Evan bisa berbahagia bersama Lucy.


Di dalam kamar ICU, ada gerakan kecil dari jari telunjuk Lucy.


...****...


Pak Chandra diam-diam masuk ke kamar Maisa. Gadis itu tidur sambil memeluk guling. Selimutnya terlempar di kakinya. Pelan-pelan ia menariknya dan menyelimuti gadis itu.


Tangannya terulur ke kepalanya. Sedetik kemudian ia menariknya lagi. Pak Chandra menutup pintu kamar perlahan. Ia menghela nafas panjang.


“Apa yang tuan lakukan di sini?” Suara bi Tari mengagetkannya. Perempuan paruh baya itu berdiri di sampingnya.


“Oh… tidak ada. Aku kebetulan lewat,” kata pak Chandra tersenyum tipis, berlalu dihadapan bi Tari.


Bi Tari memiringkan kepala dan tersenyum. Ia membangunkan gadis itu untuk makan pagi. Maisa turun ke bawah sembari menguap lebar. Sudah ada ayahnya dan Kio di meja makan.

__ADS_1


Suara denting sendok beradu dengan piring. Ini pertama kalinya sejak kembali ke rumah, Maisa makan bersama ayahnya. Terakhir bertemu dengannya berbincang tentang rencana kuliahnya di Paris. Setelah itu ia jarang bertemu. Pak Chandra disibukkan dengan proyek di perusahaan.


Maisa mengambil perkedel kentang dan menaruhnya di piring Kio. Laki-laki itu menautkan alisnya. Maisa hanya tersenyum, melanjutkan makannya.


Pak Chandra tak mengatakan sepatah kata sejak pembicaraan terakhir dengannya. Suasana terasa berat.


Kio melirik kearah Maisa lalu melirik ke arah ayahnya. Sebuah pemandangan menarik. Diam-diam ayahnya memperhatikan gadis itu.


Kio berdehem pelan, memecah kesunyian. “Ahh…. Akhir semester sudah dekat. Aku harus belajar giat agar IPK ku tidak jatuh.”


Sunyi. Tak ada tanggapan apapun dari ayahnya. Maisa berhenti makan. Nasi di piringnya masih separuh. Nafsu makannya mendadak lenyap.


“Jangan khawatir! Aku akan menyelesaikan akhir semesterku dengan baik. Setelah itu aku akan keluar dari rumah ini. Aku sudah selesai makan. Kalau begitu aku pergi dulu."


Maisa menarik diri, merapikan piring makan dan mencucinya di washtafel. Setelah itu, ia menyambar tas di bangkunya, berlari kecil keluar rumah.


Kio meletakkan sesendok nasi ke piring. Matanya mengawasi gerak gerik gadis itu.


"Apa aku salah mengatakan sesuatu?" gumannya pada dirinya sendiri.


"Biarkan saja dia," kata pak Chandra melanjutkan makannya.


"Kurasa Papa akan bilang ini bukan urusanku. Tapi apa Papa sudah minta maaf pada Maisa?"


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir ayahnya. Kio mengacak-acak rambutnya. Tak bisa kah dua orang ini berbicara langsung dan berbaikan saja.


"Lalu apa yang Maisa katakan hingga mau kembali ke rumah."


"Aku tidak tahu."


Kio terdiam, kehabisan kata-kata.


Maisa berjalan pelan memasuki kelas. Mia sudah ada disana. Gadis itu tersenyum padanya. Tangannya sibuk mencoret-coret sesuatu di atas selembar kertas.


“Lagi nulis apa?”


Mia memperlihatkan kertas berisi coretan padanya. "Aku lagi membuat sketsa buat anak-anak basket.”


“Benarkah? Coba lihat? Loh, bukannya ini seharusnya begini?”


“Masa, sih?”


Keduanya asik berembuk tentang sketsa strategi permainan basket. Tak terasa, waktu kuliah sudah dimulai.


“Minggu depan sudah mulai ujian akhir semester. Belajarlah baik-baik. Bapak tak ingin nilai kalian tidak ada yang jelek. Oke!" kata pak Miki


“Baik, Pak," sahut seluruh mahasiswa bersamaan.

__ADS_1


“Mata kuliah hari ini cukup sampai di sini. Sampai jumpa minggu depan. Selamat siang.”


Mahasiswa langsung berhamburan keluar begitu pak Miki meninggalkan kelas. Maisa membereskan buku-buku pelajarannya. Mia mengahampirinya.


Di lapangan basket, Kio bertanding one on one dengan Evan. Kio terlihat kesal Evan menampakkan diri di tengah lapangan. Ia memutuskan untuk menantangnya duel. Rekan setimnya menyorakkan candaan padanya.


"Kio kalau kau sampai kalah harus mentraktir kita semua," seru salah seorang dari mereka.


"Aku bertaruh Kio akan kalah," ujar Ken terkekeh pelan.


"Woi! Kalian tidak setia kawan!" seru Kio dari tengah lapangan basket.


"Sorry, ya. Soal perut lebih penting," balas anggota tim lainnya.


Kio mengumpat kesal. "Sialan!"


Mia menyenggol sahabatnya. Ia menunjuk laki-laki di hadapan Kio. Evan tengah mendribel bola melewati Kio.


"Dia kan yang dipertandingan waktu itu."


Maisa tersenyum saat Evan berhasil memasukkan bola ke ring. "Iya. Evan pindah kuliah di sini."


"Kak Kio, kau harus menang. Kalau kalah traktir aku makan!" seru Mia dari pinggir lapangan diikuti siulan dari anggota tim basket.


Kio melotot ke arah gadis itu. Mia tersenyum lebar, menangkupkan kedua tangannya membentuk hati. Seperti ada panah tak kasat mata menembus jantungnya. Ia menutupi matanya. Kenapa juga sih dirinya jatuh hati pada gadis norak itu.


"Bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Apa sudah membaik?" tanya Ken pelan ke telinga Maisa.


Gadis itu menoleh ke arahnya sesaat, lalu beralih ke tengah lapangan. Ia menyenderkan kepalanya di bahu laki-laki itu.


"Entahlah. Aku tak tahu apakah itu bisa disebut membaik. Lumayan, lah." Maisa sedikit berbohong padanya. Ia tak ingin Ken ikut mengkhawatirkannya. Hubungan dengan ayahnya tak berkembang sama sekali.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu."


Tiupan peluit mengakhiri pertandingan. Evan keluar sebagai pemenangnya. Semua anggota tim bersorak, dapat makan gratis. Kio hanya bisa pasrah. Evan menjabat tangannya.


"Pertandingan tadi menarik."


Kio tersenyum masam, membalas jabatan tangannya. "Terima kasih."


Evan terkekeh pelan. "Tak perlu kaku begitu. Pacarmu saja terlihat senang."


Kio melirik ke arah Mia yang berlari kecil ke arahnya. Evan melangkah pergi meninggalkan kerumunan itu.


"Kau mau kemana?" Kio berseru padanya.


Evan melambaikan tangannya. "Aku ada urusan. Sampaikan salamku pada Maisa. Dia terlihat sibuk dengan pacarnya.

__ADS_1


Di tempat lain, jemari Lucy bergerak. Perlahan kelopak mata terbuka. Manik hitamnya menatap langit-langit kamar berwarna putih.


__ADS_2