
Maisa berlari bak kesetanan di koridor rumah sakit. Nyaris saja ia menabrak beberapa orang yang lewat. Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak saat mendengar kabar Mia kritis di rumah sakit.
Ia mendapati kakaknya duduk di depan ruang operasi dengan kepala tertunduk. Kio terlihat lusuh dan kuyu. Tangannya masih dipenuhi oleh darah yang mengering.
Maisa menghampiri Kio dengan napas tersengal-sengal. Ia menyentuh pundak kakaknya pelan. Kio menoleh ke arahnya. Terlihat gurat kecemasan tergambar di wajahnya yang pucat.
"Apa yang terjadi, Kak?"
Kio tak membalas pertanyaannya. Pikirannya melayang pada kekasihnya yang berjuang di atas meja operasi. Maisa memberinya pelukan, menepuk punggungnya pelan.
"Mia akan selamat, Kak. Dia gadis yang kuat. Teruslah berdoa memberikan semangat untuknya."
Operasi berlangsung selama empat jam. Kio dan Maisa menunggu di luar dengan perasaan was-was. Lampu tanda operasi selesai mati. Salah satu dokter mengenakan pakaian serba hijau menghampiri keduanya.
"Operasinya berjalan sukses. Saat ini pasien sudah melewati kondisi kritis dan sekarang masih tidak sadarkan diri."
"Terima kasih sudah menyelamatkan teman saya, Dok!" ujar Maisa dengan gurat senyum di wajahnya.
Kio menjatuhkan badannya ke bangku. Wajahnya terlihat lega. Ia menutupi kedua matanya dengan lengannya. Pikirannya yang semula kacau menjadi sedikit tenang.
Bayangan saat dirinya melarikan Mia ke rumah sakit. Napas gadis itu mulai terputus-putus. Ia menggenggam tangan gadis itu selama di ambulan. Tak henti-hentinya ia memanggil nama gadis itu.
Perasaannya terasa hancur melihat kekasihnya masuk ke ruang operasi. Ia menggeretakkan giginya.
"Ini semua salahku tak becus melindunginya," gumannya pelan.
Maisa menepuk pundaknya pelan. "Kak, berganti pakaian lah dulu. Kak Ken datang membawakan pakaian ganti untukmu."
Ken datang menghampiri keduanya. Sebelah tangannya membawa totebag berisi pakaian ganti. Ia menyerahkan tas itu pada Kio. Kio memandangnya. Tatapan terlihat menyedihkan.
"Aku dan Maisa akan menjaganya. Jika kau peduli dengannya, uruslah dirimu dulu, baru kembali ke sini," ujar Ken menghela napas panjang.
Kio menerima tas itu dengan enggan. Ia tak ingin meninggalkan tempat itu barang sedetikpun. Dua pasang mata ini terus melihatnya dengan tatapan menusuk. Dengan langkah gontai ia pergi ke toilet untuk membersihkan dirinya.
"Aku merasa diriku benar-benar hancur. Rasanya ini seperti mimpi buruk bagiku melihat temanku terluka. Kak Kio pasti merasakan lebih dari itu." Maisa mengerutkan alisnya ke bawah.
Ken menarik kepala gadis itu dan menyandarkan ke bahunya. "Aku senang Mia selamat. Kuharap dia akan cepat sadar."
"Akupun berharap begitu."
"Kau tahu, aku tak bisa membayangkan bagaimana kalau itu terjadi pada dirimu. Aku juga akan bersikap seperti Kio."
...****...
__ADS_1
Di sekeliling terlihat gelap. Saat melangkahkan kaki mencoba berlari, kegelapan mengikuti. Sesekali terdengar tawa Riko mengejek. Laki-laki itu seakan berbisik di telinganya.
Kau tidak akan bisa lari dariku.
Mia duduk bertekuk lutut dengan kepala menelungkup. Menutup rapat kedua telinganya, namun tawa itu masih menggema di kepalanya.
Mia!
Terdengar suara seseorang memanggilnya. Mia mengangkat kepalanya, mencari sumber suara itu.
Mia! Kumohon kembali lah!
Suara itu kembali terdengar. Terasa tak asing baginya. Gadis itu memutar badannya, menyapu sekelilingnya.
Kembalilah, Mia! Aku mencintaimu.
Suaranya terdengar putus asa. Sesosok laki-laki mencul di hadapannya. Ia tersenyum, merentangkan kedua tangannya.
Mata gadis itu melebar. Perasaan rindu membuncah di dadanya. Bagaimana bisa ia melupakannya. Laki-laki itu yang selalu bersemayam di hatinya.
Kakinya melangkah berlari menghampiri laki-laki itu. Melemparkan dirinya ke dalam pelukan laki-laki itu. Ia terus memanggil namanya.
"Kio! Kio! Kio!"
Ia tersenyum pada dirinya. Tak menyangka Kio akan memasang wajah seperti itu. Ia mencoba menggerakkan tangan dan kakinya. Terasa berat, seolah tak ada otot yang menyangga mereka.
"Kau sudah sadar?"
Suara berat seseorang di sampingnya membuat jantungnya seperti melompat keluar. Ia menoleh, mendapati Kio tersenyum ke arahnya. Matanya berkedip beberapa kali. Gadis itu terhenyak, berteriak dalam diam.
Argh! Kenapa bisa dia setampan itu. Tenanglah Mia. Bisa-bisa jantungmu meledak kalau seperti ini.
Mia membuang wajahnya ke arah sebaliknya. Rona merah menyembul di kedua pipinya. Kio mengeratkan genggaman tangan pada jemari gadis itu.
"Maafkan aku sudah terluka karena diriku. Seharusnya aku yang melindungimu. Sepertinya aku tak pantas untukmu."
"Jangan pernah mengatakan itu!" sergah Mia menatap mata laki-laki itu lekat-lekat. Guratan rasa bersalah tersirat di sana.
"Aku tak suka mendengarnya. Kau sudah menolongku dua kali. Kau seperti penyelamat bagiku dan juga orang yang kucintai."
Kio memeluk Mia yang masih terbaring di tempat tidur. "Maafkan aku dan terima kasih, Mia. Aku juga mencintaimu."
Maisa mengintip dari balik pintu menitikkan air mata. Ken menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Keduanya memundurkan niat untuk masuk, tak ingin merusak momen keduanya.
__ADS_1
...****...
Seorang tersangka berinisial R menusuk mantan kekasihnya lantaran cemburu. Pemuda itu dijerat pasal ancaman, penganiayaan dan pembunuhan berencana dengan masa hukuman -
Siaran televisi terputus. Kio memencet tombol off di remote kontrol. Mia memanyunkan bibirnya, merajuk manja di depannya.
"Kenapa kau mematikannya," gerutunya pelan.
Kio masih sibuk mengupas kulit jeruk. "Itu cuma berita tidak penting. Abaikan laki-laki sialan itu. Fokus saja memulihkan kondisimu."
"Apa kau cemburu?"
Tangannya berhenti mengupas. "Aku tidak cemburu?
Mia mengangkat sebelah alisnya. "Benarkah?"
Kio melirik gadis itu. Ada kekecewaan tersirat di wajah cantiknya. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa sakit melihatnya. Sejak kapan dirinya selemah itu pada gadis ini.
Kio mengepalkan tangannya, mendekatkan ke bibirnya. Ia berdehem pelan. "Aku sedikit cemburu."
Raut wajah gadis itu cerah seketika. Matanya kembali berbinar-binar. "Benarkah?"
Kio membuang wajahnya. Pipinya merona hingga ke telinga. Ais ada apa dengannya. Seperti bocah abg jatuh cinta.
Mia menarik kerah laki-laki itu. Wajah keduanya sangat dekat. Keduanya saling bertatapan. Kio mendekatkan wajahnya. Mia menutup matanya. Jarak yang memisahkan bibir keduanya tinggal setengan senti.
Brak! Terdengar suara pintu terbuka. Keduanya terkejut dan menjauh.
"Mia aku datang!" seru Maisa merangsek masuk. Ken menyembul di belakang gadis itu.
Mia memberikan tatapan tajam ke arah keduanya. Maisa baru menyadari arti tatapan itu hanya bisa nyengir, menggaruk pipinya.
"Apa aku mengganggu kalian?" ujarnya menutup mulut dengan kedua tangannya.
Mia mengepalkan kedua tangannya ke depan dadanya. "Iya! Kau mengganggu momen mesraku tahu! Padahal aku ingin berduaan dengan Kio. Dasar tidak peka!"
Maisa menahan senyum terpaksa. "Maaf deh aku tidak peka. Tapi tidak otakmu tidak bermasalahkan?"
"Aku masih normal, kok. Yang terluka itu perutku, bukan kepalaku!"
Mia menyilangkan kedua tangannya ke dada. Ia membuang muka, mendengus kesal. Kio tak berani menatap keduanya. Ia menutupi wajahnya dengan sebelah tangannya.
Maisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Mulutnya sedikit menganga. Sejak keduanya jadi bertingkah seperti bocah. Ken hanya terkekeh pelan melihatnya.
__ADS_1